When Love Comes

When Love Comes
Bab 34



Shena pun menuruni anak tangga sambil menggerutu, dia sama sekali tidak mengerti karakter dan sifat Sean yang sering sekali berubah-ubah.


Terkadang Sean sangat baik, terkadang juga dia terlihat seperti menyukai Shena. Namun, terkadang laki-laki itu juga sering terlihat seperti sangat tidak menyukainya, Sean memang tidak bisa ditebak.


Shena berjalan ke ruang makan, dan meja itu lagi-lagi penuh dengan makanan, berbagai jenis makanan tersaji. Shena mendongak menatap pelayan yang tengah berdiri tidak jauh darinya itu. "Mengapa kalian masak banyak sekali setiap hari? Apa tidak sayang jika ini tidak habis?" tanyanya.


"Memang selalu seperti ini Nyonya, ini perintah Tuan," jawab Bi Neni.


Shena hanya mengangguk, lalu dia menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut. Lalu, Bi Neni langsung menyendokkan nasi dan lauk pauk untuknya.


"Sudah Bibi, sudah cukup, aku tidak begitu lapar. Jadi, jangan terlalu banyak," kata Shena menghentikan Bi Neni yang ingin mengambilkan dirinya sayur yang lain.


Bi Neni tersenyum dan menyodorkan piring yang sudah terisi oleh nasi juga lauk pauknya. Shena pun mulai menyantap makanan itu sedikit demi sedikit, dan tak berselang lama Sean pun datang.


Sean duduk di samping Shena, dan menyeruput kopi yang tersaji di sana sedikit demi sedikit. Shena menoleh pada Sean yang hanya meminum kopi dan belum menyentuh nasi. "Kamu tidak makan?" tanyanya.


"Sedang malas makan," jawab Sean. Shena mengangguk kemudian kembali melanjutkan makannya, hingga makanan yang di piring Shena tandas.


"Sudah?" tanya Sean, yang langsung dijawab anggukan oleh Shena.


Lalu, mereka berdua pun beranjak dari duduknya dan berjalan beriringan keluar ruang makan, melihat tuan dan nyonya-nya sudah selesai, segera Andre berdiri dan mengikuti langkah mereka.


***


Sesampainya di kantor WLC Corp Shena turun dari dalam mobil, dan dia mengernyit saat melihat Sean juga ikut turun dari dalam mobil. "Kenapa kamu turun?" tanya Shena bingung.


Akan tetapi, Sean tidak menjawab, dia malah menggenggam tangannya dan membawanya masuk ke dalam kantor WLC Corp tersebut.


Banyak pasang mata yang menatap Shena dengan heran, karena bisa berjalan bergandengan dengan Sean Kendrick. Saat pernikahan memang tidak semua karyawan tau mengenai pernikahannya dengan Sean.


"Di lantai berapa ruanganmu?" tanya Sean setelah mereka sampai di depan lift.


"Lantai tujuh belas," jawab Shena.


Sean mendengus kesal saat menunggu lift tak kunjung sampai, dia sampai meneken tombol lift itu berkali-kali. "Sean, bersabarlah," kata Shena saat melihat Sean terus menekan tombol itu.


Sementara Andre sudah menahan tawanya, karena biasanya jika Sean datang ke perusahaan, dia tidak pernah menunggu lift, karena memang ada lift khusus untuknya di setiap perusahaan miliknya.


Akan tetapi, karena hari ini dia datang bersama Shena, dia tidak menaiki lift khusus itu, mungkin Sean belum siap memberitahukan pada Shena jika dia adalah bos di WLC Corp.


"Aku baru tau jika menunggu lift itu sangat menyebalkan dan sangat lama, benar-benar membuang waktu," gumam Sean setelah mereka masuk ke dalam lift dengan tangan Sean yang masih menggenggam tangan Shena.


Shena mendongak, meskipun saat ini dia sudah memakai heels, tetap saja dia harus mendongak ketika ingin melihat wajah Sean. "Apa selama ini kamu tidak pernah menunggu lift? tapi bagaimana bisa?" tanyanya.


Sean hanya melirik sekilas pada Shena dan tidak menjawabnya, membuat Shena mendengus kesal. Laki-laki itu benar-benar aneh, terkadang tiba-tiba mengajak bicara, terkadang juga tidak pernah menjawab pertanyaannya.


Saat pintu lift terbuka di lantai tujuh belas, Shena berusaha melepaskan tangan Sean. "Lepaslah! aku sudah sampai!"


Sean tidak melepaskannya, dia malah menarik Shena keluar lift, sedangkan Andre tetap berada di lift, karena dia harus naik lebih dulu dan pergi ke ruangan Sean di kantor itu yang berada di lantai tiga puluh.


"Kamu mau ke mana?" tanya Shena karena Sean malah keluar bersamanya.


"Aku mau mengantar kamu sampai ke meja kerja," jawab Sean.


Mendengar jawaban Shena, membuat Sean menghentikan langkahnya dan menyipitkan mata. "Kenapa? Apa di sini ada pria yang kamu incar atau sukai?"


"Apa maksudmu? Sean, aku hanya malu, karena seharusnya tidak begini, kan?"


"Apa kamu malu jalan bersamaku?" tanya Sean lagi dengan suara dingin.


Shena menghela napas berat, lagi-lagi pria itu salah mengartikan maksud dari ucapannya. "Sudahlah, aku sedang tidak ingin bedebat denganmu, mejaku ada di sana." Shena pun akhirnya mengalah dan menarik Sean menuju kubik tempat dia bekerja.


Saat Shena masuk ke ruangannya bersama Sean, orang-orang yang tengah sibuk di meja masing-masing seketika langsung mendongak dan menatapnya dengan heran karena datang bersama dengan orang asing, kecuali Chery.


Chery malah tersenyum menggoda Shena, sedangkan Shena memutar bola mata malas melihat senyuman sahabatnya itu.


"Ini mejaku, dan sekarang cepatlah pergi sebelum managerku datang," usir Shena seraya menarik kursinya dan duduk di kursi itu.


Sean mengedarkan pandangannya menelisik satu persatu orang yang ada di ruangan itu, dan matanya terfokus pada satu-satunya pria yang ada di sana.


Apalagi ketika pria itu menatap tajam dirinya, membuat Sean merasa penasaran. "Kalau begitu, aku ingin menemui Ferry lebih dulu," kata Sean dan mengelus rambut panjang Shena.


Shena mengangguk dengan pipi yang merona karena malu. Melihat itu, Sean pun tersenyum simpul dan melangkah pergi.


Melihat Sean yang sudah menjauh, Chery yang sudah tidak sabar pun langsung menghampiri Shena, dia berdiri di samping sahabatnya itu. "Shena, ya ampun, suamimu itu romantis sekali," ujar Chery dengan mata bersinar.


Shena memutar bola mata malas dan berdecak. "Ck, apanya yang romantis? Kamu belum tau saja dia seperti apa!"


"Kamu berbohong! itu tadi apa? Shena, coba katakan padaku, kamu dan si tampan itu, apa kalian sudah melakukannya?" tanya Chery sambil menaik turunkan alisnya.


Mendengar pertanyaan Chery, pipi Shena tanpa sadar bersemu merah, Shena menoleh dan menatap Chery dengan memasang ekpresi bingung. "Melakukan apa?"


"Shena, ayoklah katakan padaku, jangan berpura-pura. Jika kalian memang benar belum melakukannya, lalu ini apa? " Chery menunjuk beberapa tanda kepemilikan yang Sean tinggalkan di leher putih Shena.


Wajah Shena semakin memerah karena malu. "Dasar tidak tau malu! Sudahlah, diam dan kembali bekerja sana!" usir Shena.


"Aku benar tidak? Kalian sudah melakukannya, kan? Bagaimana rasanya? apakah dia gagah seperti yang terlihat jika di ranjang?"


"Kamu benar-benar tidak tau malu, cepat pergi! sebelum kamu kena marah, Bu manager!" Shena mendorong Chery, agar sahabatnya itu tidak mengatakan hal yang macam-macam, yang membuatnya akan semakin malu karena bertanya hal pribadi.


Chery tertawa puas karena berhasil menggoda Shena, dan dia pun pergi ke kubik-nya sendiri. Saat Chery pergi, laki-laki yang tadi menatap Sean itu datang menghampiri Shena.


"Shena," panggilnya dan berdiri menjulang di depan kubik Shena.


Shena mendongak menatapnya. "Doni? ada apa?"


Doni menatap dalam Shena dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. "Tuan muda pertama keluarga Kendrick, dia kenapa bisa datang bersamamu?" tanya laki-laki yang bernama Doni itu.


Shena mengernyit mendengar pertanyaan Doni. "Memangnya kenapa? Apa urusanmu?" kata Shena dengan nada acuh tak acuh, dan eskpresi kesal.


Doni menggeleng. "Bukan, aku hanya bertanya saja, jika kamu tidak ingin menjawab juga tidak apa," ujarnya, kemudian Doni pun beranjak dan kembali ke kubik-nya.


Shena hanya mendengus kesal dengan laki-laki yang selalu ingin tau semua tentangnya itu, dan tanpa mereka sadari jika Sean melihat itu semua lewat cctv.


BERSAMBUNG...