
"Dia belum pergi, tunggu sampai lima menit lagi," jawab Sean. Dia pun melirik sekilas pada Dinar dan Chery, kemudian mengalihkan pandangannya pada meja yang penuh dengan makanan yang sudah habis, dan dua botol bir, satu botol bir itu sudah habis, sedangkan satu botol lainnya tinggal setengah.
"Apa kamu suka minum?" tanya Sean pada Shena.
"Tidak, hanya sesekali saja, itu juga tidak banyak!" sahut Shena dengan santai, dan tanpa menoleh pada Sean.
"Jangan terlalu banyak minum! Bagaimanapun untuk saat ini, kamu adalah calon istriku, dan aku tidak suka wanita peminum!"
Shena hanya mendelikan matanya, Sean memang orang yang dijodohkan dengannya, tapi bukan berarti dia bisa mengatur Shena sesuka hati. Apa lagi baginya wanita dan laki-laki itu sama rata.
Lalu, pandangan Shena jatuh pada kedua sahabatnya yang masih menatap penuh minat pada Sean itu, sehingga apa yang Sean katakan tidak terdengar dengan jelas oleh mereka. "Hati-hati! nanti mata kalian lepas dari tempatnya!" ketus Shena tanpa sadar.
Suara Shena membuyarkan lamunan Dinar dan Chery, mereka pun spontan tersenyum sok manis pada Shena. Sementara Sean sejak kemunculannya di ruangan itu, hanya diam saja tidak mempedulikan sekitar.
"Hallo Tuan, siapa nama Anda?" tanya Chery, tapi Sean tidak mengindahkan pertanyaan wanita itu, dia malah melirik pada jam tangannya kemudian beranjak dari duduknya.
"Sepertinya dia sudah pergi, dan aku harus kembali, teman-temanku mungkin sudah menunggu," pamit Sean pada Shena.
Akan tetapi Shena tidak menjawab, dia malah menuangkan bir ke gelasnya dan hendak menenggaknya, tapi ditahan oleh Sean. "Sudah kukatakan padamu, jangan terlalu banyak minum!" kata Sean. Lalu dia mengambil gelas tersebut dan meletakkannya di atas meja.
"Kamu apa-apaan sih?! Aku hanya minum sedikit, aku tidak akan mabuk!" kesal Shena, matanya menatap tajam pada Sean.
"Aku baru tau jika kamu adalah wanita pemabuk!"
"Lalu kenapa? Kamu ingin membatalkan perjodohan? terserah, aku tidak peduli!" ketus Shena. Melihat drama yang terjadi, Chery dan Dinar saling pandang dengan tatapan mata bingung. Apa lagi saat mendengar kata 'perjodohan'.
Melihat tatapan Shena yang seperti itu membuat Sean kesal. Namun, Sean hanya menghela napas panjang kemudian pergi dari ruangan itu tanpa membalas ucapan Shena.
Setelah kepergian Sean, Chery dan Dinar bergerak maju dan duduk di sisi kanan kiri Shena. "Shena, ayok katakan, apa maksud ucapanmu tadi? Membatalkan perjodohan? Apa maksudnya itu?" tanya Chery, dia sangat penasaran, karena jarang dia melihat Shena dekat dengan laki-laki lain selain Samuel dan orang tadi.
"Dia calon suamiku, dia adalah orang yang dijodohkan denganku," jawab Shena, suaranya terdengar sangat pelan.
"Apa?!" pekik Dinar dan Chery bersamaan. Lagi-lagi Shena hanya bisa menggosok telinganya karena suara kedua sahabatnya yang memekakkan telinga itu.
"Shena, kamu jangan ...."
"Aku tidak berbohong juga tidak bercanda! dia memang orang yang dijodohkan oleh mendiang mama padaku, seperti yang tadi sempat aku katakan sebelum ke toilet," ujar Shena memotong ucapan Dinar.
"Ka ... Kamu benar-benar dijodohkan? tapi kapan itu terjadi? astaga, apa yang terjadi padamu dalam kurun waktu satu hari? Awalnya kamu memergoki Samuel selingkuh, lalu sekarang kamu dijodohkan?" Chery benar-benar dibuat tidak bisa berkata-kata.
Shena mengangguk, kemudian mengalirlah cerita soal kedatangan Sean dan Grace tadi pagi. Chery dan Dinar nampak terkejut, tapi mereka hanya diam saja mendengarkan. "Sekarang aku bingung, paman tidak bisa membantuku menolaknya. Karena ini adalah perjanjian mama dan ibunya Sean, dan aku juga takut untuk menolaknya," ujar Shena diakhir ceritanya.
"Kenapa kamu ingin menolaknya? Laki-laki itu orang yang sangat tampan. Tidak, bahkan dia terlampau tampan dan sempurna. Menurutku, sebaiknya kamu jangan menolaknya, buktikan pada Samuel jika kamu bisa mendapatkan penggantinya dengan sangat mudah, bukankah ini lebih baik?" tutur Dinar dengan bijak.
"Apakah Samuel peduli padamu? Bahkan Samuel saja malah pergi makan di sini bersama Hana, bukan? apa kamu bodoh? Menurutku, kita jangan lagi bicara soal cinta, tapi masa depan. Ada yang lebih baik di depanmu, kenapa kamu tolak? Lagi pula, aku lihat dia itu cukup baik, dan cukup bisa menahan amarahnya terlihat bagaimana dia padamu tadi." Kali ini Chery pun berkata dengan bijak seperti Dinar.
Dinar juga mengangguk menyetujui apa yang Chery katakan. Sementara Shena menatap kedua sahabatnya itu dengan dalam. "Kalian benar, tapi ...."
"Sudahlah, jangan dipikirkan! Kamu ikuti saja alur ini, jika dia memang bukan jodohmu, kalian tidak akan mungkin menikah. Tapi jika kalian menikah, ya berarti dia adalah jodohmu," potong Dinar, dia tersenyum manis pada Shena, membuat Shena ikut melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
"Benar, lagi pula, dia benar-benar tampan. Jika kamu tidak mau, kamu bisa memberikannya padaku," kata Chery lagi, dan seketika gelak tawa memenuhi ruangan itu.
"Kenapa kalian tertawa? Aku bersungguh-sungguh," ucap Chery dengan bibir yang dimanyunkan karena tidak terima ditertawakan.
"Sudahlah, ayok kita pergi menonton dan belanja, guna untuk merayakan perjodohan Shena," kata Dinar.
Shena melotot pada Dinar. "Apa maksudmu?"
"Bukankah kenyatannya begitu?" sahut Dinar enteng. Lalu, ketiganya pun beranjak dari duduknya dan pergi menonton juga berbelanja.
***
Di ruangan lain.
"Kamu lama sekali, dan kenapa tidak ada di toilet?" tanya Rendra saat Sean masuk ke dalam ruangan mereka kembali.
Sean tidak menjawab, dia malah mendudukkan tubuhnya di tempat semula seraya menatap dua orang yang baru saja datang itu. "Bagaimana bisa hilang? itu sesuatu yang penting! bagaimana bisa kalian kehilangan itu?" tanya Sean pada dua orang tersebut.
"Maaf Pak, tapi sepertinya rencana itu diketahui oleh beliau, sehingga beliau meminta seseorang untuk mengikuti kami, kemudian saat kami lengah, semuanya diambil," sahut salah satu orang itu.
"Tidak berguna!" maki Sean.
"Sean, sudahlah, kamu mungkin hanya salah paham," ujar Rendra mencoba menenangkan.
"Tidak, memang ada yang salah dengannya, aku yakin itu," bantah Sean.
Rendra pun pasrah, dia tidak bisa mengatakan apa pun lagi. "Yasudah, lebih baik kita makan dulu, takut dingin makanannya," timpal Ferry.
Lalu Ferry pun beralih menatap dua anak buah Sean itu. "Kalian juga makan dulu saja bersama kami, aku sengaja memesan banyak makanan."
Akan tetapi kedua orang tersebut yang merupakan asisten pribadi Sean terdiam tidak bergerak, karena bukan Sean yang memerintahkan mereka. Jadi, mereka tidak berani untuk makan.
Sean melirik pada asisten pribadinya dan anak buahnya itu. "Makanlah!" kata Sean acuh tak acuh. Mendengar perintah Sean kedua anak buahnya itu mengangguk, dan mulai makan dengan patuh.
BERSAMBUNG...