
Melodi mengerutkan kening mendengar pertanyaan Shena. "Pil KB? Kamu dan Sean ingin berencana? Benarkah?" Melodi terlihat sedikit mengerutkan keningnya bingung.
Shena bingung mendengar Melodi yang hanya memanggil Sean dengan nama, karena itu terdengar begitu akrab. Namun, dia tidak mau mengambil pusing dengan itu, karena mumpung dia sedang di rumah sakit. Jadi, sekalian saja dirinya menanyakan tentang pil KB.
Shena merasa dia dan Sean belum siap memiliki keturunan, karena mereka baru saja menikah dan belum lama kenal. Masih banyak yang harus mereka lakukan untuk saling mengenal, jika Shena tidak minum pil KB, itu terlalu beresiko.
"Ya," sahut Shena sedikit takut-takut, karena ini bukanlah ide mereka berdua, tapi hanya idenya.
Melodi terdiam sambil menatap lekat Shena, dia sedikit tidak percaya dengan apa yang Shena katakan, karena yang Melodi tau adalah, jika nanti Sean menikah, dia ingin secepatnya memiliki keturunan.
Sebab, Sean memang sangat menyukai anak kecil, dan dia sangat menginginkan secepatnya mempunyai anak ketika sudah menikah nanti. Namun, kini yang dia dengar malah mereka ingin menunda? Melodi sedikit meragu karena itu. Apakah benar Sean ingin menunda?
Melodi cukup banyak tau tentang Sean, karena dia adalah kakak sepupu dari Ferry. Tak jarang juga Sean sering cerita sedikit padanya ketika dia dan Ferry berkunjung atau sedang bertemu dengannya jika ada kesempatan.
"Nyonya, apa kamu yakin jika kalian sudah sepakat untuk berencana?" tanya Melodi karena dia ingin memastikan sebelum menuruti keinginan Shena.
"Ya, tentu saja." Shena tersenyum tipis guna untuk meyakinkan Melodi.
Melodi sempat ingin tidak percaya kembali pada ucapan Shena dan bertanya langsung pada Sean, tapi akhirnya dia pun meresepkan pil KB pada Shena, karena dia berpikir jika mungkin saja Sean sudah berubah pikiran dalam menentukan anak.
Setelah memeriksa keseluruhan tubuh Shena, Melodi pun segera memanggil Sean, dan menjelaskan jika Shena tidak kenapa-kenapa juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Apa kamu yakin jika istriku tidak kenapa-kenapa? Masalahnya tadi tubuhnya terasa cukup panas," tanya Sean. Ada guratan kekhawatiran di wajahnya.
Melodi mengangguk. "Ya, dia hanya terlalu lelah saja, dan butuh banyak istirahat," jawab Melodi.
Sean menoleh pada Shena, mengamati wajah cantik istrinya itu, dan setelah itu barulah dia beranjak. "Baiklah, kalau begitu, mari kita pulang," ajak Sean pada Shena.
Shena mengangguk, kemudian ikut beranjak dari duduknya. Melihat itu Melodi yang penasaran dengan pernikahan Shena dan Sean, menghentikan mereka yang baru saja hendak pergi itu. "Sean, kapan kalian menikah? Kenapa tidak undang aku? Kamu masih anggap aku tidak?" tanya Melodi.
Sean menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Melodi. "Tidak sempat mengundangmu, karena kau begitu sibuk," katanya.
Melodi melotot mendengar perkataan Sean. "Kau hanya membuat alasan saja! Sesibuk apa pun aku, jika kamu mengundangku, pasti aku akan datang."
Sean tidak menjawab, dia malah menarik Shena keluar dari ruangan itu, melihat Sean yang mengabaikannya Melodi mendengus. "Anak itu benar-benar tidak berubah, semoga saja istrinya betah menghadapi sikap dingin dan menyebalkannya itu!"
***
Setelah menebus resep obat di apotek, Sean dan Shena segera kembali ke mobil dan mobil itu kembali bergerak menuju villa.
Selama dalam perjalanan Shena kembali terdiam menatap keluar jendela, sedangkan Sean juga terdiam sambil memeriksa obat yang dia tebus di apotek barusan.
Sean memeriksa obat itu satu persatu dengan teliti, sebenarnya dia juga tidak pandai memeriksa obat-obatan, tapi setidaknya dia sedikit paham dengan kegunaan beberapa obat.
"Ini obat apa?" tanya Sean dengan dahi mengernyit saat melihat pil KB.
"Sudahlah, cepat rapikan kembali obat-obatan itu. Sebentar lagi kita akan sampai villa, jangan sampai ada yang tertinggal!" sambung Shena memerintah.
Sean pun percaya dengan apa yang Shena katakan, dia kembali merapikan obat-obatan tersebut dan mengikat plastiknya. Tak berselang lama, mereka pun sudah sampai di villa, Andre turun lebih dulu dan kemudian membukakan pintu untuk Shena dan Sean.
"Andre, tolong kamu pergi ke dapur dan perintahkan kepada pelayan untuk memasak makanan spesial, dan pukul 7 malam saya mau semua sudah siap," pesan Sean pada Andre setelah dia turun dari mobil.
"Baik Tuan, saya ke dapur dulu," kata Andre, lantas dia pun pergi meninggalkan Sean dan Shena yang masih berdiri di samping mobil.
Shena berjalan mendekat ke arah Sean, kemudian mereka berjalan beriringan memasuki villa. "Apa papa-mu jadi datang malam nanti?" tanya Shena.
"Iya, dia akan datang bersama dengan mama, Samuel, dan teman lamaku," jawab Sean jujur.
"Teman lamamu?" Ulang Shena bertanya, "apa dia seorang wanita?"
Sean mengangguk sebagai jawaban, sedangkan pikiran Shena kembali rumit. "Sean, sebenarnya dirimu orang seperti apa?" Shena membatin, kemudian dia melangkah lebih cepat.
Melihat Shena yang tiba-tiba berjalan lebih cepat, Sean pun ikut melangkahkan kakinya lebih cepat dan mengejar Shena.
Sesampainya di kamar, Shena meletakkan tas-nya di atas meja, sedangkan obat yang dia bawa, dia masukan ke dalam laci.
"Apa ada yang salah?" tanya Sean.
"Tidak ada!" kata Shena, dan setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian, tanpa memedulikan Sean yang memperhatikan dirinya dengan dahi mengkerut.
***
Tak berselang lama, Shena pun keluar dengan baju santainya. "Kamu mandi di mana?" tanya Shena saat melihat Sean yang juga sepertinya sudah mandi dan berganti pakaian.
Sean sedang duduk di kursi yang ada di balkon sambil merokok, di meja depannya ada botol wine juga gelas yang berisi wine. "Di kamar sebelah," jawab Sean santai sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
Shena tidak lagi ingin tau tentang Sean, dia langsung melangkah dan duduk di kursi meja rias. Dia mengambil body lotion, menuangkannya sedikit ke telapak tangan, lantas memakainya.
Apa yang Shena lakukan tak luput dari pandangan Sean, Sean menatap lekat Shena dengan sesekali mengi_ sap rokok dan meminum wine.
Wajah Sean tidak terlihat baik, tidak seperti tadi. Dia seperti tengah menahan amarahnya saat melihat Shena, napasnya pun terlihat berat dan tak beraturan karena emosi yang mencoba dia tahan itu.
Setelah memakai body lotion, Shena beranjak dan kembali ke kasur, dia duduk di tepi kasur sambil membuka laci dan mengambil obat yang tadi dia letakan di sana.
Shena mengambil plastik obat tersebut dan hendak meminum pil, tapi wajah Shena seketika berubah saat melihat pil itu semuanya sudah kosong. Tidak ada satu pun pil yang tersisa.
BERSAMBUNG...