When Love Comes

When Love Comes
Calon suami Shena



"Terserah! aku tidak peduli kamu mau atau tidak, yang jelas aku tetap mau putus, maka kita putus!" teriak Shena sambil terus mencoba melepaskan cekalan tangan Samuel.


Semakin Shena mencoba melepaskan cekalan tangan Samuel, tangannya semakin terasa nyeri. "Lepaskan tanganku!" pinta Shena dengan ringisan kecil.


"Apa sakit? apa kamu tau kalau kata-katamu itu lebih menyakitkan dari rasa sakit yang kamu rasakan! Aku sudah meminta maaf padamu, tapi kenapa kita tidak bisa kembali bersama? Aku juga sudah jujur kalau aku hanya iseng, kenapa kita masih tidak bisa kembali bersama? Kenapa?" ujar Samuel setelah dari tadi hanya diam menatap Shena.


"Apa kamu sakit jiwa? kamu sudah bermain api di belakang aku tapi kamu masih berharap jika kita bisa kembali bersama? Sinting kamu! sudah gila sepertinya!"


"Apa kamu tidak bisa kasih kesempatan untukku perbaiki semuanya?" tanya Samuel.


"Tidak, aku tidak ingin kamu perbaiki semuanya, yang aku inginkan adalah putus, apa kamu tidak mengerti kata putus?"


"Shena Levronka, aku mencintaimu, aku hanya mencintaimu! kenapa kamu tidak mengerti itu?" ucap Samuel, matanya yang semula dingin kini berubah dengan tatapan yang sendu, di mata itu terlihat jelas permohonan dan kejujuran dalam ucapannya.


"Tapi aku tidak lagi mencintaimu! Cepat lepaskan aku dan pergi dari sini sebelum aku teriak!" ancam Shena.


Samuel hanya diam sambil menatap wajah Shena, tapi saat dia melirik tangan Shena yang dia pegang memerah, spontan dia pun langsung melepaskan tangannya.


"Apa tanganmu sakit?" tanya Samuel khawatir saat Shena mengelus tangannya yang memerah itu. Samuel hendak mengecek tangan putih itu, tapi Shena mundur dua langkah.


"Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi lagi kamu sentuh! Cepat pergi! Aku benci melihat wajahmu!" Mendengar itu Samuel ingin marah, tapi dia tidak bisa mengatakan apa pun lagi dan akhirnya memilih untuk pergi.


Samuel merasa mungkin jika Shena masih butuh waktu untuk memaafkannya, maka dari itu dia menuruti permintaan Shena lebih dulu.


Tanpa Shena tau, percakapan keduanya sejak tadi terdengar oleh Sean yang kebetulan berada di balik pintu toilet pria, yang letaknya kebetulan ada di samping toilet wanita itu.


Selain karena Shena, yang membuatnya menguping adalah suara laki-laki itu terdengar familiar di telinga Sean. Dia pun sempat menoleh untuk melihat wajah laki-laki itu, tapi yang dia lihat hanyalah punggungnya saja.


Shena yang seharusnya menghadap ke arah Sean pun wajahnya tertutup oleh tubuh tegap laki-laki itu, sehingga Sean hanya bisa mendengarkan percakapan mereka, dan Sean bisa menebak dengan jelas percakapan keduanya.


"Ternyata hubungannya dengan si my love itu kandas karena orang ketiga? Cukup menarik," gumam Sean pelan.


Setelah melihat Samuel yang menjauh dan hilang dibalik tikungan, Shena pun menghela napas lirih dan mengusap matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca itu. Apa yang Shena lakukan semua terlihat dengan jelas oleh Sean. Tatapan wajah laki-laki itu yang semula dingin, kini berubah menjadi terlihat sulit diartikan.


Shena kembali menghela napas panjang dan mengembuskannya berkali-kali, guna untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya itu. Setelah di rasa lebih baik, dia pun hendak melangkahkan kakinya, tapi terhenti oleh sosok wanita di hadapannya.


Sean yang semula ingin pergi pun kembali menghentikan langkah untuk melihat lagi apa yang akan terjadi kembali. Walaupun menguping bukanlah kebiasaannya, tapi karena Shena adalah orang yang dijodohkan dengannya, dia merasa jika dia harus tau sedikit tentang masalalu atau masalah yang Shena dapatkan.


"Tanyakan saja sendiri pada pacarmu!" Energi Shena sudah habis karena bertemu dengan Samuel tadi, dan kini dia terlalu malas untuk meladeni Hana, sehingga setelah mengatakan itu, dia pun berniat untuk pergi.


Akan tetapi, baru beberapa langkah, tangannya sudah dicekal oleh Hana. "Apa kamu tidak ingat dengan ucapanku semalam? Kami sudah berhubungan hingga ke ranjang, tidak ada gunanya kamu merayu dia sekarang atau nanti, karena dia hanya akan menjadi milikku saja!"


Shena tersenyum, dan menatap wajah Hana dengan tatapan dingin. "Aku tidak lupa dengan apa yang aku dengar dan lihat semalam, tentang seberapa murahannya kalian berdua!" ujar Shena.


"Dan sepertinya kamu yang lupa dengan apa yang aku katakan semalam, tentang aku yang tidak pernah ingin berebut barang bekas denganmu! Dan karena aku sudah memberikannya padamu, maka aku juga tidak peduli dengan apa yang sudah kalian lakukan, paham!" sambungnya kemudian.


"Yakin? Lalu untuk apa kamu ada di sini kalau tidak untuk mengikuti kami? Lalu, untuk apa kamu bertemu dengannya di sini? kamu ini memang munafik! bicara tidak peduli, tapi mengikuti seperti ini. Bahkan tadi pagi kamu meminta Chery untuk mengikuti kami, iya kan? Ingat ya, kamu itu hanya menumpang dan hidup atas belas kasih kedua orang tuaku."


"Kepercayaan diri kamu cukup bagus, tapi maaf, aku di sini bukan untuk mengikuti kalian. Tapi aku di sini untuk makan! Dan lagi, aku tidak pernah meminta Chery untuk mengikuti kalian, itu sungguh sangat membuang waktu! Dan jika kamu keberatan dengan kehadiranku di rumah, katakan saja pada paman atau tante!" sungut Shena, kesabaran Shena sudah sangat menipis sejak tadi pagi. Akan tetapi Hana malah memancing emosinya.


"Minggir! aku mau keluar!" kata Shena sedikit mendorong tubuh Hana, tapi Hana malah diam saja dan kembali mencekal pergelangan tangan Shena.


Shena memutar bola mata malas. "Ada apa lagi sekarang?"


"Shena, aku peringatkan padamu, jangan pernah ganggu pacarku! Atau aku akan ...."


"Shena ... apa kamu sudah selesai?" Suara Sean memotong ucapan Hana. Mendengar suara itu, Shena menoleh ke belakang dan dia cukup terkejut saat melihat Sean yang kebetulan juga ada di toilet tersebut.


"Sean, kamu ... kenapa kamu ...."


"Kamu terlalu lama pergi ke toilet, jadinya aku menyusul, apa sudah selesai? kalau sudah, ayok kita kembali!" potong Sean dengan sebuah senyuman yang sangat menawan, membuat Hana ikut terpukau saat melihatnya.


Wajah Sean memang terpahat dengan sangat sempurna, apa lagi aura yang dikeluarkan oleh tubuh Sean secara alami, sehingga siapa pun yang melihatnya akan tertarik.


"Shena, dia siapa?" tanya Hana dengan suara yang dibuat selembut mungkin, berbeda jauh dengan suaranya beberapa detik lalu yang memarahi dan berteriak pada Shena.


Shena mengernyit, dia kembali menoleh pada Sean. "Dia ... Dia ...."


"Aku calon suami Shena." Sean menjawab Hana dengan santai.


BERSAMBUNG...