
Setelah mendapatkan nomor telepon Ferry, Shena pun kembali masuk ke dalam ruangannya. "Dapat, aku dapat," ucap Shena sambil tersenyum.
Sementara kedua sahabatnya terlihat masih memasang wajah serius. "Kamu ... Berhasil meminta nomor Pak Ferry?" tanya Dinar.
Shena mengangguk dengan senyuman kemenangan dan menunjukkan nomor Ferry pada mereka. "Berarti, nanti kalian yang harus bayar semua ini!"
Dinar dan Chery sakit kepala, tapi mereka berdua tetap mengiyakan untuk membayar semua makanan dan bir yang mereka pesan, karena itu sudah menjadi kesepakatan mereka. "Baiklah, nanti aku dan Chery akan membayarnya, sekarang habiskan dulu minumannya! Setelah itu mari kita belanja dan nonton!" kata Dinar.
Lalu, Dinar dan Chery berbincang-bincang sebentar sambil menghabiskan minumannya, sedangkan Shena terdiam sambil melamun. "Kamu kenapa?" tanya Dinar yang menyadari perubahan raut wajah Shena.
"Apa kamu masih memikirkan laki-laki jahat itu? Shena, dengar ya. Aku punya banyak teman laki-laki, nanti aku akan kenalkan padamu, okey. Sekarang jangan sedih!" ucap Chery, dia berpikir jika Shena masih sedih soal Samuel.
Padahal yang sebenarnya adalah, sejak bertemu dengan Sean tadi, dia jadi kepikiran dengan perjodohan dirinya dan laki-laki itu. "Siapa yang memikirkan laki-laki itu? Kamu jangan asal bicara!"
"Lalu, apa yang kamu pikirkan?"
"Pernikahanku dengan orang itu! aku hampir melupakannya." jawab Shena.
"Pernikahan? Pernikahan apa?" tanya Dinar dan Chery bersamaan secara spontan juga lantang.
Shena menggosok pelan telinganya yang terasa panas, ketika mendengar pertanyaan dari kedua sahabatnya itu. "Kalian bisa jangan keras-keras tidak?" sungut Shena dengan kesal.
"Itu semua karena kamu bikin kita kaget, tiba-tiba saja berkata pernikahanmu," sahut Chery tidak mau kalah. Sudah jelas-jelas Shena yang membuatnya terkejut.
Shena memutar bola mata malas, kemudian mengambil gelas dan menenggak minumannya sedikit demi sedikit hingga tandas. "Shena, apa maksudmu dengan pernikahanku dengan orang itu? bukankah kamu baru mengatakan jika kamu dan Samuel sudah putus?" Chery kembali bertanya sambil menarik-narik lengan Shena.
"Shena, ayok katakan! Apa ada hal yang terjadi denganmu yang belum kamu ceritakan?" Kini Dinar yang bertanya, karena dia juga ingin tahu. Shena terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
"Jawaban apa itu? apa maksud anggukanmu? Jawablah dengan jelas, jangan bikin kita semakin bingung!" geram Chery karena jawaban Shena yang tidak memuaskan.
Shena tersenyum tipis lantas beranjak dari duduknya. "Aku mau pergi ke toilet dulu," pamit Shena, lalu dia pun pergi dengan santai dari ruangan itu. Sementara Chery dan Dinar masih memasang wajah penasarannya.
"Aku tidak tau kenapa dulu aku bisa berteman dengan orang membingungkan seperti dia," gumam Chery saat Shena pergi. Dinar terkekeh mendengar gumaman Chery.
***
Setelah buang air kecil, Shena mencuci tangannya di depan wastafel sambil sesekali merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Setelah selesai, dia pergi keluar dari dalam toilet. Namun, baru sampai pintu, sudah berdiri laki-laki bertubuh tegap.
"Kenapa kamu ada di sini dan di depan toilet wanita?" tanya Shena. Dunia memang begitu sempit, sampai-sampai bisa bertemu dengan beberapa musuh di tempat seperti ini.
"Aku kebetulan makan di sini dan aku tidak sengaja melihatmu masuk toilet tadi," ucap Samuel sambil menarik Shena agar menepi dari pintu.
"Aku mau bicara sama kamu," kata Samuel.
"Tapi aku tidak mau bicara sama kamu! dan sekarang lepaskan tanganku! bukannya semalam aku sudah mengatakan kalau kita putus?" ujar Shena lantang dengan tatapan matanya yang tajam.
"Shena, jangan bicara seperti itu, soal Hana, aku benar-benar minta maaf, aku hanya ...."
"Ya, ya, ya, aku maafin kamu, puas?! sekarang lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi!"
"Kamu benar-benar maafin aku?" tanya Samuel dengan mata yang berbinar. Sejujurnya Samuel sangat mencintai Shena, dia selingkuh hanya sekedar iseng.
Sebab, Shena tidak pernah mau diajak sampai ke ranjang, selama satu tahun mereka pacaran, mereka berciuman pun bisa dihitung dengan jari.
Shena tidak menjawab, dia masih berusaha melepaskan cekalan tangan Samuel. "Kalau begitu, kamu di ruangan mana? aku antar, ya!" kata Samuel dengan senyum mengembang, terlihat sangat manis dan tampan seperti awal Shena melihatnya.
Akan tetapi senyuman itu membuat Shena kini membencinya. "Tidak perlu! Aku bisa sendiri, lebih baik kamu kembali saja pada Hana, bukankah kamu ke sini dengannya?" tolak Shena dengan yakin.
Samuel merengut mendengar penolakan Shena. "Aku memang pergi makan dengannya, tapi itu karena dia menggangguku. Tapi, bukannya kamu sudah memaafkan aku? kenapa masih bahas Hana? aku siap menjauh dari Hana demi kamu. Lagi pula aku sama dia hanya iseng, karena kamu tidak pernah ada waktu untukku," ucap Samuel, sepertinya dia mengira jika memaafkan maka semuanya akan kembali seperti dulu.
Mendengar itu seketika Shena langsung tertawa pelan, dan memasang wajah mengejek sebelum berkata. "Apa kamu pikir kalau aku maafin kamu maka semuanya akan kembali seperti dulu? kamu terlalu naif! Aku maafin kamu, tapi tidak untuk kembali bersamamu!"
Mata Samuel terbelalak. "Apa maksud kamu?!" tanya Samuel bingung. Shena masih mempertahankan ekpresi tenang dan mengejeknya, meskipun jauh dalam hati dia merasa sangat sakit dan merasa dilema.
Satu sisi dia masih sangat mencintai Samuel, tentu saja cinta itu tidak akan hilang hanya dalam satu malam. Hanya saja dia tidak mungkin bersama, apalagi dia tau jika hubungan Hana dan Samuel sudah di luar batas.
"Seperti yang semalam aku katakan padamu, kita putus! Dan jangan pernah ganggu aku lagi, aku juga tidak tertarik sama tawaran kamu yang mau menjauh dari Hana, aku hanya mau putus. Dan kamu jangan pernah ganggu aku. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal!" kata Shena dengan mata yang melotot dan wajah yang terlihat tenang.
Hal itu tentu saja membuat Samuel marah dan semakin mengencangkan cekalan tangannya hingga membuat Shena meringis. "Apa sekarang kamu ingin mematahkan tanganku? Apa kamu mau balas dendam?" tanya Shena dengan kesal karena cekalan tangan itu semakin sakit.
"Aku tidak mau putus!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Samuel saat melihat wajah Shena. Suara itu sarat akan permohonan juga ketidakberdayaan.
BERSAMBUNG