
"Itu bukan alasan Sean! Aku juga punya mimpi yang masih harus coba aku raih, aku rasa kamu juga begitu. Sean, tidak ada salahnya kita menunda sebentar."
"Mimpimu adalah mengingat kembali hubunganmu dengan Samuel, 'kan? Sebenarnya kamu menyesal dengan pernikahan ini, dan sebenarnya kamu ingin kembali pada dia, iya kan?! Itukan yang membuatmu tidak ingin memiliki anak denganku, agar kamu tidak terikat! Agar kamu bisa pergi tanpa ada beban, aku benar tidak?!" tuding Sean dengan marah.
Mata Shena melotot mendengar tuduhan Sean yang tidak masuk akal, padahal apa yang dia katakan itu semua adalah kebenaran. Shena belum siap untuk memiliki anak dengannya karena hubungan mereka yang masih itungan hari.
"Sean, kenapa dalam setiap masalah kamu selalu membawa-bawa Samuel?! Ini tidak ada hubungan dengannya, aku ingin menunda murni demi kita, aku ...."
"Itu bukan demi kita Shena! itu demi kamu sendiri, karena aku tidak pernah mengatakan jika aku belum siap mempunyai anak! Aku siap menikah, maka itu tandanya aku sudah siap berkomitmen dan siap dengan apa pun yang terjadi, termasuk punya anak!" potong Sean dengan marah.
"Jangan samakan aku dengan Samuel, meskipun kami satu rahim, tapi aku bukan dia! Dan seharusnya kamu percaya padaku, jika memang ada yang membuatmu ragu, bertanyalah langsung! Mama sudah lama menginginkan seorang cucu, dan aku juga menginginkan anak, tidak ada yang salah dengan punya anak. Meskipun pernikahan ini perjodohan, tapi pernikahan tetaplah pernikahan, tidak ada yang beda, dan anak adalah anugerah," tambahnya kemudian.
Sean jarang terlihat marah, tapi entah kenapa, jika tentang Shena emosinya terkadang seperti terpancing. Entah karena Shena yang membuatnya benar-benar kesal, atau karena dia yang takut jika Shena akan pergi darinya.
Sering juga Sean bertanya pada diri sendiri, kenapa dia seperti posesif pada Shena. Namun, dia meyakinkan dirinya jika itu wajar, karena Shena adalah istrinya, miliknya seorang, dan dia tidak suka hati Shena terbagi.
"Lalu, kenapa kamu berbohong padaku soal masalalu-mu?! Kamu bilang kamu tidak pernah dekat dengan wanita mana pun, tapi nyatanya apa? Ada Bunga dan Dokter Melodi. Sean, aku tidak masalah dengan itu, tapi aku tidak suka kebohongan! Dan sekarang kamu mengatakan jika kita sudah siap punya anak? Sedangkan kamu saja belum terbuka padaku!" ucap Shena.
Shena berdecak kesal. "Aku tidak cemburu, dan ini bukan alasan utama aku mau menunda, aku hanya tanya saja, kenapa kamu berbohong?!" alibi Shena, padahal salah satu alasannya ingin menunda memang karena Sean yang seperti berbohong tentang masalalunya.
"Soal Bunga, kamu sudah tau jika dia hanya adik untukku, itu bukan termasuk dekat dengan wanita, kan? sedangkan untuk Melodi, dia adalah kakak sepupu Ferry. Jadi, jangan berpikir macam-macam padaku dan mereka. Lagi pula, sebelumnya bukankah tidak ada waktu untuk kita saling menjelaskan tentang kita satu sama lain?" ujar Sean menjelaskan.
"Lalu, bagaimana dengan teman wanitamu yang akan datang nanti?" tanya Shena lagi.
"Dia dulu satu kampus denganku, dan aku tidak dekat dengannya, kami memang selalu bertemu dan sesekali ikut gabung di acara keluarga, tapi aku benar-benar tidak dekat dengannya," jawab Sean.
Emosi yang tadi sempat Sean rasakan sudah sedikit menghilang, ternyata mereka berdua hanya kurang komunikasi, dan itu wajar, karena memang pernikahan mereka masih baru.
"Jadi, semua kita akhiri sampai di sini, okey! Aku tidak mau kamu menunda kehamilan, dan kamu harus mulai mempercayaiku sebagai suamimu, begitu juga sebaliknya," ucap Sean.
BERSAMBUNG...