
"Pak Ferry?" Shena meringis ketika dia tau jika yang dia mintai nomor itu adalah atasannya. Namun, yang membuatnya lebih malu dan terkejut adalah laki-laki yang berdiri di belakang atasannya itu.
Sean menyunggingkan senyumnya seperti tengah mengejek Shena. Lalu, Sean pun melangkahkan kakinya lebih dulu bersama satu laki-laki lain, meninggalkan Shena yang masih termangu dengan posisi yang sama seperti semula.
'pasti dia berpikir yang tidak-tidak lagi,' batin Shena seraya melirik Sean yang melewatinya dengan ekpresi seperti itu
****
Dinar dan Chery yang semula mengintip di balik pintu, kini langsung menutup pintu ruangan mereka dengan rapat, kemudian masuk ke dalam dan duduk dengan baik di ruangannya.
"Bagaimana ini?" tanya Chery. Dia sangat tau bagaimana sikap atasannya itu, tuan Ferry adalah laki-laki yang terkenal sangat serius dan tidak suka bermain-main. "Apa kita bantu Shena saja?"
Dinar langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, itu hanya akan menambah masalah, sepertinya dia bisa menangani itu sendiri. Lebih baik kita tunggu saja," tolak Dinar dan Chery pun mengangguk, akhirnya mereka berdua hanya diam di ruangan menunggu Shena dengan cemas.
***
"Shena, kamu menghalangi jalan saya," kata Ferry, karena Shena masih diam mematung di hadapannya.
"Eh, iya Pak, tapi sebelumnya apa saya boleh minta nomor Bapak Ferry?"
Sudah terlanjur malu, maka lanjutkan saja, syukur-syukur jika dia benar-benar mendapatkan nomor Ferry, pikir Shena.
"Kamu serius minta nomor saya? Apa kamu bercanda?"
Shena mendongakkan kepalanya sebentar, kemudian kembali menunduk. "Emmm ... Sebenarnya saya kalah bermain dari ibu Dinar, dan tantangannya adalah saya meminta nomor telepon pada orang yang pertama kali saya temui, dan Tuan-lah yang pertama saya temui di sini." Shena berkata dengan jujur tanpa menoleh, karena dia sudah sangat malu.
'lain kali aku tidak ingin bermain ini lagi, ini sangat memalukan!' gumam Shena dalam hati, dia pun menghela napas berat karena kesal dengan kedua sahabatnya itu.
"Jadi begitu," gumam Ferry, kemudian dia pun mengambil ponsel yang masih disodorkan Shena padanya itu. Lalu, Ferry mulai mengetik beberapa nomor di ponsel Shena dan memanggil nomornya sendiri.
Shena tersenyum. "Terima kasih banyak Pak," kata Shena dengan senang.
Ferry hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan sebuah anggukan, lalu dia pun kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi ke ruangan yang sudah dia pesan bersama Sean.
***
Di ruangan lain.
Sean duduk di ruangan yang sudah dia pesan dengan wajah suram dan terlihat sangat kesal. "Dia bahkan belum meminta nomorku, tapi sudah minta nomor laki-laki lain? wanita seperti apa yang akan aku nikahi itu? Dia benar-benar seperti rubah!" geram Sean pelan.
Lalu, dia mendongak saat melihat Ferry masuk ke dalam. "Kenapa kamu lama sekali?" bentak Sean.
Ferry mengerutkan keningnya sambil melirik Rendra saat mendengar nada suara Sean yang seperti sedang marah itu. "Kamu kenapa? Apa suasana hatimu sedang buruk?" Ferry mendudukkan tubuhnya di samping Sean.
"Tidak ada apa-apa, tapi bagaimana bisa kamu kenal dengan Shena?" tanya Sean terburu-buru.
"Apa kamu kenal Shena? dari mana kamu kenal dia?" Bukannya menjawab, Ferry malah mengajukan pertanyaan yang membuat Sean lebih kesal lagi padanya.
Sean mendengus. "Aku yang bertanya padamu lebih dulu, kenapa kamu malah kembali bertanya?"
Ferry kembali dibuat bingung oleh Sean, dia pun menatap Rendra yang tengah duduk di hadapan dia dan Sean itu. Rendra mengangkat bahu acuh, tanda dia tidak tau dengan apa yang terjadi dengan Sean, karena sejak masuk ke ruangan itu. Sean hanya memasang wajah dingin dan marah.
"Shena adalah karyawan di kantor, dia juga teman dari manager Dinar. Emmmm ... Dinar itu wanita yang aku sukai," terang Ferry.
Sean cukup terkejut dengan jawaban Ferry. "Dia bekerja di WLC Corp?"
BERSAMBUNG