
Tibanya di sebuah restoran yang dijanjikan, Shena langsung menuju ke ruangan yang chery berikan padanya. Restoran itu sangat mewah dan besar, juga ada ruang tertutup seperti yang dipesan oleh Dinar kali ini.
Melihat nomor yang dia cari ada di pintu, Shena langsung mendorong pintu itu dan melenggang masuk. "Maaf, tadi sedikit macet, apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Shena seraya melepas tas-nya kemudian langsung duduk di hadapan Chery dan Dinar.
"Tidak, kami datang baru sepuluh menit kok," jawab Chery, pandangannya jatuh pada wajah Shena yang terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat itu.
Chery menoleh pada Dinar yang juga kebetulan sedang menatap Shena. "Wajahmu kusut sekali? apa ini ada sangkut pautnya dengan Samuel?" tebak Dinar hampir tepat sasaran.
Shena menatap kedua sahabatnya itu. "Bisakah kita pesan makan dulu? aku sangat lapar, tadi aku belum sempat sarapan," ujar Shena dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Dinar terkekeh, kemudian dia menekan tombol memanggil pelayan. Tak berselang lama pelayan itu pun datang dan mereka mulai memesan makanan. "Apa kita juga akan memesan bir?" tanya Shena, yang langsung dijawab anggukan oleh Dinar dan Chery.
Baik Dinar, Chery, atau Shena, mereka memang suka sekali minum. Namun, mereka tidak akan minum setiap hari, hanya sesekali saja dalam seminggu, atau bisa dikatakan di saat suasana sedang tidak baik-baik saja.
****
"Shena, ayo katakan apa yang terjadi antara kamu dan Samuel?" Chery sudah tidak tahan lagi. Jadi, saat Shena selesai makan, dia langsung mengajukan pertanyaan yang sejak tadi sudah berputar di kepalanya.
"Makan di tempat seperti ini, apa tidak terlalu berlebihan? bagaimana jika uang kamu habis?" Bukannya menjawab, Shena malah bertanya pada Dinar dan mengabaikan pertanyaan Chery.
"Kenapa harus uangku yang habis? kalian kan ikut makan, maka kalian juga harus ikut membayarnya," jawab Dinar.
"Ck, ibu manager yang pelit!" ledek Shena. Dinar adalah sahabat Chery juga Shena dari kuliah dulu, dan kebetulan dia adalah manager di tempat mereka bekerja. Berstatus sebagai manager, tentu saja membuat gaji Dinar lebih besar dari Chery dan Shena.
"Kamu tidak usah mengalihkan pembicaraan! cepat katakan apa yang terjadi antara kamu dan Samuel!" kesal Chery karena Shena terlihat ingin menghindari pertanyaan tentang dirinya dan Samuel.
"Bukankah sudah kukatakan padamu tadi pagi, jika aku dan pria itu sudah tidak memiliki hubungan, apa lagi yang ingin kalian tau?" kata Shena dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.
Wajah Shena yang semula penuh kehangatan, kini berubah menjadi dingin dan terlihat acuh tak acuh. Terlihat jelas jika masalah dia dan Samuel cukup serius dan cukup membuatnya terpengaruh.
"Tapi apa yang terjadi dalam waktu semalam? Bagaimana kalian bisa putus?" tanya Chery lagi.
Shena tersenyum sambil mengambil bir, menuangkannya ke dalam gelas dan menenggak minuman itu hingga tandas. Selain memesan makanan, mereka bertiga juga memesan dua botol bir terbaik di restoran tersebut. "Dia dan Hana memiliki hubungan. Menurut kalian, apa yang harus aku lakukan dengan itu? tidak mungkin kan kalian berpikir untuk aku diam saja dan mengemis cinta?"
"Apa?! Jadi Hana dan Samuel benar-benar selingkuh?!" pekik Dinar dan Chery bersamaan. Shena terkekeh dan mengangguk sebagai jawaban.
"Bagaimana bisa? setau aku Samuel itu sangat mencintaimu, lalu bagaimana bisa?" Chery sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, tapi Shena hanya tersenyum kecut sambil kembali menuangkan minuman pada gelasnya yang kosong, kemudian menenggaknya hingga habis.
"Lalu, menurut kalian aku berbohong? Dengar, tidak ada gunanya aku berbohong soal mereka. Semalam ...." Shena pun akhirnya menceritakan apa yang dia lihat secara detail pada kedua sahabatnya itu.
Itu tentu saja membuat Dinar dan Chery benar-benar terkejut, mereka berdua pun beberapa kali mengutuk Samuel juga Hana. Sementara Shena tertawa mendengar sahabatnya yang seperti itu.
"Sudahlah, aku lelah mengutuk laki-laki itu, bagaimana kalau kita langsung belanja dan menonton?" Karena lelah mengutuk Samuel dan Hana, Dinar pun mengajak Chery juga Shena untuk bermain. Dinar tau jika di balik senyum Shena, dia pasti menyimpan rasa sakitnya akan pengkhianatan.
Bagaimanapun Shena dan Samuel sudah menjalin hubungan satu tahun lamanya, Shena pasti butuh waktu untuk melupakan Samuel, meskipun laki-laki itu sudah mengecewakannya. Namun, tetap saja butuh waktu untuk melupakan kisah yang terjalin selama satu tahun.
"Tapi minumannya belum habis, lebih baik kita bermain dulu sambil menghabiskan minuman ini! ini mahal, sangat sayang jika tidak dihabiskan," usul Chery.
"Hmmm kamu benar, tapi bermain apa?" tanya Dinar.
"Truth or dare, bagaimana?" sahut Chery dengan senyuman jahilnya. Chery paling menyukai permainan ini, karena dengan permainan ini, dia bisa tau kebenaran yang kedua sahabatnya coba sembunyikan darinya.
Chery adalah orang yang sangat cerewet, dan sangat percaya pada kedua sahabatnya itu. Sebenarnya Dinar dan Shena juga adalah orang yang percaya pada sahabat, tidak ada yang ditutupi oleh mereka. Namun, keduanya sering sekali terlihat misterius, dan itu membuat Chery penasaran. Apakah ada yang mereka tutupi atau tidak?
"Baiklah," sahut Shena dan Dinar bersamaan. Lalu, Chery mengambil botol bir yang sudah kosong tersebut, kemudian memutarnya. Mereka bertiga harap-harap cemas menantikan bagian mulut botol akan mengarah ke siapa saat berhenti, tak terkecuali Shena yang sangat tak ingin mendapatkan giliran.
Sial!
Mulut botol itu justru mengarah pada Shena. Bahkan tatapan kedua sahabatnya pun ikut memandang perempuan tersebut dengan seringai penuh kemenangan. Mereka tak akan melewatkan kesempatan ini. Mereka akan mengulik rahasia yang selama ini disembunyikan atau mungkin akan meminta Shena untuk melakukan tantangan yang mungkin sangat bertentangan dengan prinsip yang dipegang.
"Ah, akhirnya seperti yang aku inginkan," kata Dinar senang, padahal sebelumnya dia sendiri terlihat panik. Namun, saat melihat tutup botol itu mengarah pada Shena, dia langsung menjerit kesenangan. Jarang-jarang mereka bisa mengulik atau mengerjai Shena.
"Benar-benar hari yang buruk! kenapa aku yang pertama? Apa kalian sengaja?!" gerutu Shena dengan kesal.
"Cepat katakan, jujur atau tantangan?" tanya Chery tidak sabaran.
"Tantangan!"
"Hah? kamu serius pilih tantangan? Kenapa tidak jujur saja?" Chery terlihat tidak percaya dengan pilihan Shena, padahal dia berharap jika Shena akan memilih kejujuran.
"Suka-suka aku-lah!" Mendengar itu Chery dan Dinar terlihat sedikit kecewa, tapi mereka pun langsung berbisik untuk memberikan tantangan apa yang akan mereka berikan pada Shena.
Cukup lama mereka berbisik, hingga akhirnya Chery pun mengangguk sambil menyeringai menyetujui ide Dinar. "Apa yang kalian rencanakan? Jangan yang aneh-aneh, ya!" kata Shena berpesan, dia merasa curiga pada kedua sahabatnya itu.
"Kamu serius memilih tantangan? Karena setelah aku mengatakan tantangannya, kamu tidak bisa mundur lagi," ujar Chery.
Shena menatap wajah sahabatnya itu dengan menyelidik, Shena yakin jika mereka merencanakan hal yang aneh, tapi dia juga tidak ingin mengatakan rahasia apa pun, meskipun hampir tidak ada rahasia yang aneh.
"Ya," sahut Shena dengan yakin.
"Kalau begitu, kamu keluar dari ruangan ini, dan siapa pun yang kamu temui pertama kali nanti. Kamu harus meminta nomornya! bagaimana?"
"Hah?" Mendengar itu Shena tercengang, dia menatap tidak percaya pada sahabatnya, tapi baik Dinar dan Chery malah terkekeh. "Apa kalian yakin? Tidak, aku tidak mau, aku malu!" tolak Shena dengan tegas.
Shena adalah gadis yang pintar, periang, tapi sedikit pemalu, dia tidak mungkin berani mengambil tantangan ini, karena itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri.
"Tapi kamu tidak boleh mundur!" kata Chery.
"Lebih baik aku jujur saja, ayok katakan apa yang ingin kalian tau?!"
"Tidak Shena, tadi kamu sudah mengatakan iya, maka tidak boleh ganti. Ayok, lakukan tantangannya! Jika kamu berhasil meminta nomor siapa pun yang nanti kamu temui, maka makan hari ini kami berdua yang traktir, tapi jika kamu tidak melakukannya atau tidak mendapatkannya, maka makan hari ini dan satu minggu kemudian. Kamu yang traktir kami," timpal Dinar, mereka berdua sudah tersenyum menyeringai.
Melihat senyuman kedua sahabatnya, Shena merasa jika mungkin saja mereka bertiga itu adalah sahabat palsu. Sebab, keduanya terlihat sangat ingin menyiksanya. "Ayok, buruan!" Dinar yang biasanya lebih banyak diam, kali ini mendorong-dorong pelan tubuh Shena.
Shena beranjak dari duduknya sambil merengut, kemudian mengambil ponselnya. Shena berdiri di balik pintu ruangan itu, dia sempat menoleh sebentar pada kedua sahabatnya, matanya pun sarat akan permohonan pada Dinar dan Chery.
Akan tetapi baik Dinar atau Chery hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya, meminta Shena untuk keluar dan melakukan tantangannya, dengan terpaksa Shena pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Shena menundukkan pandangan tidak ingin menatap orang yang akan dia mintai nomor, karena dia merasa sangat malu. Namun, di depan kakinya, dia melihat ada sepasang sepatu laki-laki. "Tuan, bolehkah aku meminta nomormu?" tanya Shena tanpa mendongakkan kepala sambil menyodorkan ponselnya.
Laki-laki yang jalannya dihalangi oleh Shena terdiam, begitu juga dengan laki-laki lain yang ada di belakangnya.
Merasa tidak ada jawaban dari laki-laki yang ada di hadapannya, membuat Shena gelisah, dengan perasaan malu, akhirnya Shena pun memberanikan diri untuk melihat laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Mata coklat wanita itu membulat sempurna ketika melihat tiga laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Shena?"
BERSAMBUNG