
Keesokan paginya Shena terbangun karena suara deringan ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Dia mengerjapkan-ngerjapkan matanya sambil mengambil ponselnya itu.
Shena mengernyit saat melihat deretan nomor yang asing di ponselnya itu. Lalu, pun menggeser tombol hijau di layar, kemudian mendekatkan ke telinganya.
"Ya hallo, siapa?" sapa Shena berusaha sedatar mungkin meskipun dia tidak tau siapa yang meneleponnya.
[Shena, kenapa nomorku yang lalu kamu blokir? Shena aku ....] Mendengar suara yang tak asing itu, Shena pun langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Buat apa lagi dia menghubungiku? dasar tidak jelas!" umpat Shena dengan kesal, kemudian dia pun beranjak turun dari atas kasurnya, dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Baru beberapa langkah dia hendak menuju kamar mandi, ponselnya kembali berdering, dengan kesal Shena berbalik dan mengambil ponselnya.
"Ada apa lagi sih? kenapa kamu masih menghubungiku? Apa kamu tidak dengar kataku kemarin? aku ...."
[Ini aku,] potong orang di sebrang sana yang membuat Shena langsung menjauhkan ponselnya dari telinga, dan menatap pada layar ponsel itu beberapa detik, kemudian kembali menempelkan benda persegi itu ke telinganya.
"Sean?" gumam Shena menebak si pemilik suara.
[Ya, ini aku, siapa yang menghubungi kamu sebelum aku?] Sean bertanya tanpa sadar, karena entah kenapa dia merasa tidak senang ketika ada yang menghubungi Shena selain dirinya.
"Bukan urusanmu!"
[Ck.] Di sebrang sana Sean terdengar berdecak kesal karena jawaban Shena.
"Ada apa kamu menghubungiku pagi-pagi begini?" tanya Shena sambil memutar bola mata malas.
[Pergilah denganku untuk mencoba gaun pengantin,] kata Sean.
"Apa maksudnya?" tanya Shena yang belum mengerti, kemudian di sebrang sana terdengar suara bising, dan tak berselang lama terdengar suara ramah Grace.
[Shena sayang, setengah jam lagi Sean dan supir akan datang ke sana, kalian pergilah untuk mencoba gaun pengantin,] ucap Grace membuat mata indah Shena membulat sempurna.
"Tante, maksudnya?"
[Kenapa masih tanya maksudnya? apakah kamu tidak ingat? Besok kan pernikahan kalian. Jadi, pagi ini kalian harus fitting gaun pengantin, kemudian setelah itu kalian pilih cincin pernikahan,] ujar Grace, dari suaranya terdengar sangat bahagia.
Shena terdiam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab. "Baiklah, aku akan pergi bersiap!" Lagi-lagi Shena dibuat dilema, dia masih ingin mencoba untuk menolak. Namun, bibirnya mendadak terasa kelu.
Shena tidak ingin menyakiti paman dan mendiang ibunya. [Gadis baik, jangan hiraukan semua perkataan Sean okey, di kemudian hari. Jika dia macam-macam, kamu katakan saja pada mama, nanti biar mama yang urus dia.] Grace berkata dengan sangat lembut pada Shena.
Membuat Shena merasa semakin tersentuh. "Mama?" gumam Shena tidak percaya dan mengulangi ucapan Grace.
[Iya, kamu panggil mama saja mulai hari ini, karena kamu juga adalah anakku, apalagi besok kamu akan menikah dengan Sean,] sahut Grace. Tanpa sadar Shena pun melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
"Yasudah, kalau gitu aku pergi bersiap lebih dulu," kata Shena, dan setelah mendengar jawaban 'iya' di sebrang sana. Shena langsung mematikan sambungan teleponnya, lantas segera pergi ke ke kamar mandi untuk mandi kemudian bersiap.
***
Setelah mandi dan bersiap, Shena keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah dengan pakaian casual, membuatnya terlihat sangat cantik dan seperti gadis kecil yang baru tumbuh. Di ruang makan ada Gita dan Pram, mereka berdua tersenyum pada Shena.
"Sini sayang, kita sarapan dulu!" kata Gita, tapi Shena menggeleng. "Aku mau pergi Tante, Paman," tolaknya.
"Apakah kamu dan Sean ingin pergi untuk mencoba gaun pengantin?" tanya Pram.
"Iya Paman, dan katanya sebentar lagi dia sampai. Dia juga mengatakan jika kita sarapan di luar saja."
"Bagus, bagus sekali, Mira di sana pasti sangat bahagia mendengar kamu melakukan keinginannya yang terakhir," ucap Pram dengan senang karena Shena mau mencoba gaun pengantin dan menikah dengan Sean. Wajah Pram terlihat sangat bahagia, membuat Shena pun tanpa sadar melengkungkan bibirnya sambil mengangguk.
Walaupun Shena belum bisa menerima Sean di hatinya, tapi demi mendiang ibunya, Shena sudah memantapkan hati untuk menerima perjodohan ini dan menikah dengan Sean.
"Kalau begitu kamu minumlah, su_ su hangat ini." Gita beranjak dari duduknya dan memberikan segelas su_ su hangat coklat pada Shena.
Shena menerimanya dan meminum su_ su hangat itu hingga tandas. "Terima kasih Tante," ujar Shena tulus seraya memberikan gelas kosong tersebut pada Gita.
Gita tersenyum. "Sama-sama sayang." Lalu Gita meletakkan gelas kosong itu ke atas meja makan.
"Sayang, apa kamu kemarin lihat Hana? Dari kemarin bocah itu tidak pulang," tanya Gita pada Shena.
"Aku tidak melihatnya Tante, mungkin dia sedang bermalam di rumah teman-temannya lagi," jawab Shena. Dia tidak terlalu tau ke mana dan dengan siapa Hana sebelumnya. Hanya saja gadis itu memang sudah sering tidak kembali ke rumah dan selalu mengatakan jika dia menginap di rumah teman.
"Tante, persiapannya apa benar-benar sudah semua? Maksudku, apa benar-benar besok? Sedangkan Tante Grace baru datang ke sini kemarin," tanya Shena.
"Iya, bahkan kata mertua kamu, semuanya sudah selesai sejak semalam," terang Gita.
Shena terkejut mendengar jawaban Gita, sebelumnya Shena berpikir meskipun Grace mengatakan 'lusa' tapi tidak benar-benar lusa, karena mengurus pernikahan pasti tidaklah mudah dan cepat.
Akan tetapi siapa sangka semuanya benar-benar akan terjadi besok. Shena merasa sedikit gugup, dan kegugupannya itu terlihat oleh Pram.
Pram yang sudah selesai dengan sarapannya beranjak dari duduk dan menghampiri Shena. "Sayang, kamu tidak usah merasa gugup atau takut. Grace itu orang yang sangat baik, begitu juga dengan Sean. Mereka berdua pasti akan menjaga dan melindungi kamu," ujar Pram.
Shena tersenyum tipis menanggapi ucapan Pram, lalu tak berselang lama di luar terdengar suara deru mobil. "Itu pasti Sean," kata Gita.
Shena mengangguk seraya melangkahkan kakinya keluar rumah diikuti oleh Pram dan Gita. "Pagi Paman, Tante," sapa Sean ramah.
"Pagi sayang," sahut Gita.
Hari ini Sean memakai pakaian santai, tapi meskipun begitu, sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan dan ketegasan di wajahnya.
"Sean, apa kamu datang sendirian? bukankah kata ibumu, kamu akan datang bersama sopir?" tanya Pram, terdengar kekhawatiran di nada pertanyaannya.
"Tidak apa Paman, mama juga tau jika aku berangkat seorang diri. Aku butuh waktu berdua untuk mendekatkan diri dengan Shena," jawab Sean.
Pram dan Gita tertawa kecil mendengar jawaban Sean. Sean pun ikut terkekeh sebelum akhirnya menatap Shena. "Apa kamu sudah siap?" tanyanya.
Shena mengangguk. "Iya."
"Kalau begitu bisa kita pergi sekarang?"
Shena kembali mengangguk, lantas memiringkan tubuhnya menghadap Pram dan Gita. "Paman, Tante, kalau begitu aku pergi dulu."
"Iya, kalian pergilah, dan jangan lupa untuk selalu hati-hati," pesan Pram. Shena dan Sean mengangguk, lalu mereka berdua pun berjalan beriringan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.
Pram dan Gita melambaikan tangannya pada mobil dengan senyum yang menghiasi wajah mereka. Terlihat sekali jika mereka berdua sangat bahagia dengan perjodohan ini.
***
Di dalam mobil sunyi terasa, karena baik Sean maupun Shena terdiam dengan pikiran masing-masing. Sejak naik ke mobil, Shena hanya menolehkan wajahnya menatap keluar jendela, sedangkan Sean fokus pada jalanan.
***
Beberapa belas menit kemudian, mereka tiba di sebuah butik ternama di kota M, Sean turun lebih dulu, kemudian dengan langkah lebar dia berjalan ke samping dan membukakan pintu untuk Shena.
Shena cukup terkejut dengan apa yang Sean lakukan, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja dan berkata, "terima kasih."
Sean tidak menjawab, dia malah kembali menutup pintu mobilnya dan berdiri menghalangi tubuh gadis itu. "Shena," panggil Sean.
Membuat Shena mendongak dan menatap wajah tampan dengan tatapan sedalam lautan itu. "Sebelum kita fitting baju pengantin, aku mau tanya. Apa kamu menerima perjodohan ini? apa kamu tidak keberatan dengan ini?" tanya Sean saat mata mereka bertemu.
"Bagaimana denganmu? apa kamu menerima perjodohan ini? apa kamu tidak keberatan dengan ini?" Bukannya menjawab, Shena malah mengajukan pertanyaan yang sama pada Sean.
"Shena, aku sedang bertanya padamu!"
"Aku juga sedang bertanya padamu, bukankah aku juga harus tau apa kamu menginginkan ini atau tidak?" ucap Shena dengan santai, mata keduanya masih saling bersitatap, memancarkan sebuah cahaya yang membuat keduanya seperti tenggelam dengan pesona satu sama lain.
"Bukankah kemarin aku sudah mengatakan padamu? Mama adalah segalanya untukku, apa pun yang dia minta, selagi aku bisa mewujudkannya, maka akan aku wujudkan," kata Sean jujur.
"Aku juga melakukan hal yang sama, aku hanya ingin mewujudkan keinginan mama," jawab Shena dengan yakin.
"Apa kamu tidak akan menyesal?" Sean kembali bertanya, karena meskipun dia belum menyukai Shena, tapi dia ingin pernikahan ini hanya sekali seumur hidup.
"Apa kamu tidak akan menyesal?" Lagi-lagi Shena mengulang pertanyaan yang sama, membuat Sean menghela napas berat kemudian menggenggam tangannya dan membawa Shena memasuki butik bernuansa Eropa tersebut.
Saat mereka berjalan beriringan hendak memasuki butik itu, terdengar Sean kembali berkata, "Aku tidak akan menyesal, karena sejujurnya aku belum pernah dekat dengan wanita manapun. Tapi kamu berbeda, kamu pernah mempunyai kekasih dan pernah mencintainya. Jika suatu saat dia kembali, mungkin kamu akan ...."
BERSAMBUNG...