
Setelah selesai berkemas barang-barangnya yang ingin dia bawa, Shena pun langsung pamit undur diri pada Pram dan Gita, dia menyeret kopernya keluar rumah diikuti oleh paman dan bibinya itu.
Ketika melihat di luar rumah sudah tidak ada Hana dan Samuel, Shena pun merasa lega, karena dia cukup lelah untuk beradu argumen lagi dengan mereka. Pikiran Shena sekarang hanya tertuju pada Sean, dia yakin jika laki-laki itu pasti kembali salah paham.
Shena menyeret koper hingga keluar, dan begitu sampai di luar, sopir yang tadi datang bersamanya langsung mengambil alih koper tersebut. "Nyonya, mari saya bawakan koper Nyonya," kata sang sopir.
"Terima kasih banyak," ucap Shena, sang sopir mengangguk, kemudian memasukan koper milik Shena ke dalam bagasi mobil.
Shena memutar tubuhnya menghadap Pram dan Gita. "Kalau begitu, Paman, Tante, aku langsung pulang, ya. Terima kasih banyak atas kasih sayang dan waktu kalian selama ini dalam mengurusku, maaf jika selama ini aku selalu merepotkan Paman dan Tante, juga belum bisa membalas apa pun," ujar Shena. Matanya sudah berkaca-kaca karena menahan tangis.
Pram tersenyum sangat lembut, kemudian merentangkan kedua tangannya, Shena mengerti, dia berjalan maju untuk memeluk tubuh pamannya itu.
Pram mengelus lembut punggung Shena. "Kamu jangan katakan itu, kamu adalah ponakan yang sudah paman anggap seperti anak sendiri. Yang harus kamu lakukan ke depannya adalah, kamu harus selalu bahagia dan selalu tersenyum," ucap Pram.
Di dalam dekapan sang paman, air mata yang tadi ditahan oleh Shena akhirnya luruh, dan dia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Melihat itu Gita tidak tahan, dia mengulurkan tangannya untuk membelai surai hitam Shena.
"Benar itu sayang, karena kami di sini akan bahagia jika kamu bahagia," kata Gita.
Shena melepaskan diri dari Pram, kemudian berbalik dan berganti memeluk Gita. "Tante, maafkan aku karena selalu merepotkanmu sejak kecil," katanya dengan tubuh bergetar karena tangis.
Entah karena akan berpisah dengan paman dan bibinya, atau karena sebenarnya dia masih tidak menyangka jika saat ini dia sudah menjadi seorang istri. Entahlah, yang jelas Shena sangat ingin menangis kali ini.
"Sudah, kamu jangan menangis, sekarang lebih baik kamu cepat pulang dan segera tenangkan suamimu itu," ucap Gita sambil melepaskan pelukan Shena pelan-pelan.
Shena mengangguk, dia menyeka air matanya dengan kasar, kemudian mendongak menatap Gita dan Pram. "Kalau begitu aku pergi dulu Paman, Tante," pamit Shena.
Lalu, dia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah mobil yang masih setia di sana sejak awal. Sopir membukakan pintu untuknya, dan dia pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil.
Setelah masuk ke dalam mobil, Shena membuka kaca mobil tersebut dan melambaikan tangannya pada Pram juga Gita.
Pram dan Gita tersenyum sambil membalas lambaian tangannya, kemudian mobil itu pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, barulah Shena menurunkan kembali kaca mobil tersebut.
***
Sesampainya di villa, itu sudah cukup malam, karena tadi Shena mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa keperluannya.
Shena turun dari dalam mobil dan masuk ke villa diikuti oleh sopir tadi yang sedang menyeret kopernya itu, begitu sampai di dalam villa, mata Shena terfokus pada sosok Sean yang sedang duduk dengan memangku laptop di ruang tamu.
Sean terlihat sangat fokus, jari jemarinya menekan keyboard dengan cepat juga teratur, dan terlihat sesekali menoleh ke map biru yang ada di atas meja.
Semua yang dilakukan oleh Sean terlihat oleh Shena, dan itu membuat dirinya pusing. Shena melangkah mendekati Sean dan berdiri tepat di hadapan laki-laki itu.
"Sean?" panggil Shena, tapi laki-laki itu seolah tuli dan buta, yang tidak bisa melihat atau mendengar panggilannya.
"Sean, kamu jangan salah paham, aku tadi ...."
Braaaakkkk
Sean menutup laptopnya dengan kencang, sehingga Shena terkejut dan ucapannya terhenti begitu saja.
Sean beranjak dari duduknya, dan tubuh tegap Sean sudah menjulang tinggi di depan Shena. Namun, laki-laki itu bertingkah seolah tidak melihatnya.
Dia malah membungkuk untuk merapikan map-nya itu, kemudian membawanya bersama dengan laptop.
Melihat Sean yang ingin pergi, Shena langsung mencekal lengannya. "Sean, aku belum selesai bicara!" kata Shena dengan kesal. Laki-laki itu salah paham, tapi tidak membiarkannya menjelaskan, benar-benar seperti anak kecil, jika begitu kapan masalah akan selesai?
Sean tidak menjawab, matanya malah fokus dengan tangan Shena yang berada di lengannya. Spontan Shena pun langsung melepaskan tangannya itu. "Maaf, tapi Sean, kamu salah paham. Aku membantu Samuel karena dia terluka cukup parah, dan ...."
"Dan aku tidak peduli! Apa pun alasannya aku sama sekali tidak peduli, jikapun kamu masih mencintainya, aku juga tidak peduli," ujar Sean menyela ucapan Shena.
Perkataan Sean yang keluar begitu saja tanpa disaring lebih dahulu, itu benar-benar membuat Shena terkejut bukan main, dia juga merasa sedikit kecewa dengan perkataan itu. Shena menatap Sean cukup lama, sebelum akhirnya dia memilih pergi dari sana dan menaiki tangga.
Sean yang baru tersadar dengan ucapannya dan merasa jika itu cukup keterlaluan, terkejut begitu melihat Shena pergi. "Shena," panggil Sean pelan tapi sudah terlambat, karena Shena sudah menaiki tangga dengan cepat dan sudah tidak terlihat lagi.
Sean merasa kesal dan sangat marah, dia menendang sofa yang ada di sana dengan tenaga penuh, sehingga sofa itu jatuh dan menimbulkan suara kencang. Membuat para pelayan dan pengawal berdatangan.
Napas Sean naik turun, matanya memerah karena amarah, dia menatap ke depan dengan tatapan tajam. Seolah ingin membu_ nuh siapa saja yang ada di depannya. Melihat aura tuan-nya yang sangat menakutkan, para pengawal dan pelayan itu pun memilih undur diri dan meninggalkan Sean sendirian.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, Sean sudah berteriak. "Bi Neni, bawakan saya kopi ke ruang kerja!"
Setelah mengatakan itu, Sean pun melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ke ruang kerjanya. Sementara para pengawal dan pelayan itu bergidik ngeri melihat Sean yang seperti itu.
Sean jarang terlihat marah, karena dia adalah tipe laki-laki yang bisa menahan emosinya. Namun, semenjak masalah Samuel dan Shena, emosi Sean tidak stabil, dia seolah bisa meledak kapan saja dan di mana saja.
BERSAMBUNG...