
Setelah diijinkan oleh si pemilik, Sean mengarahkan intinya ke lembah yang sama sekali belum terjamah itu, Sean menekan kembali intinya.
Hingga intinya benar-benar masuk semua dan Sean terdiam untuk beberapa waktu saat merasakan sesuatu mengalir di bawah. Shena tersentak dan menggeliat saat merasakan sakit yang teramat sangat di bagian intinya.
Bahkan setetes air keluar dari pelupuk matanya karena rasa sakit dan panas yang teramat sangat itu.
Sean menatap Shena yang memejamkan mata sambil meringis menahan sakit itu, kemudian Sean membelai pipi Shena lalu mencium dan mel_ umat bibir mungil itu untuk mengalihkan perhatian Shena dari rasa sakitnya.
Shena pun terbuai, dia melupakan rasa sakit pada intinya karena terlalu menikmati permainan bibir Sean.
Sean mengerang saat merasakan milik Shena menjepit intinya dengan sangat kuat. Lalu dengan perlahan Sean menggerakkan pinggulnya agar memasuki bagian terdalam milik Shena.
Sementara Shena langsung menggigit bahu Sean saat Sean menekan menekan intinya semakin dalam.
Lalu, Sean mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan perlahan, karena dia tidak ingin menyakiti Shena saat mereka melakukan penyatuan ini.
Inti Sean benar-benar memenuhi inti Shena hingga membuat rasa perih yang tadi Shena rasakan berubah menjadi nikmat. Sean pun menengadahkan kepalanya ke atas, merasakan kenikmatan dalam penyatuan mereka berdua.
Rasa itu benar-benar melambungkan diri Sean dan Shena hingga melayang ke ruang tak bertepi, yang hanya ada kenikmatan dan keindahan di sana.
Sean terus menggerakkan pinggulnya pelan dan berirama dengan tubuh Shena, kedua tangannya yang nganggur mulai bermain tak tentu arah. Terkadang mengelus gunung, dan terkadang mengelus pinggang Shena.
Hingga peraduan mereka temponya mulai meningkat. Tusu_ kan demi tusu_ kan, hujaman demi hujaman inti Sean pada inti Shena menimbulkan gelombang dahsyat yang memaksa keluar.
Shena mengerang saat merasakan sesuatu ingin keluar membuat Sean semakin merasa terbakar, dan dia pun semakin mempercepat gerakan pinggulnya sambil membungkuk untuk kembali menggigit leher putih itu, dan pada puncaknya hujaman dari Sean membuat Shena menggeliat.
Sean pun mengerang panjang karena akhirnya mereka pun mencapai puncak kenikmatan bersama. Sean terkulai lemas di atas Shena.
Sean tersenyum saat melihat Shena yang sedang mengatur napasnya dengan buliran keringat membasahi wajahnya. Sean menyeka buliran keringat yang bercucuran dari kening Shena.
"Kamu turun jika sudah selesai," kata Shena karena Sean malah masih diam saja di atas tubuhnya, sedangkan dia sudah merasa sangat malu jika mengingat hal tadi.
"Tidak, jangan lagi," mohon Shena. Namun, Sean tidak mengindahkannya, dia kembali membungkuk untuk menci_ umnya dan mulai bergerak lagi.
Shena sudah merasa lemas, tapi gerakan dan perlakuan Sean sangat lembut. Awalnya memang lembut, tapi tak berselang lama gerakannya semakin kasar dan rumit.
Lalu, mereka pun melakukan pertempuran kedua, dengan Shena yang mulai beradaptasi dengan inti Sean. Mereka terus bergerak seirama dengan sesekali saling merumrum satu sama lain.
Panasnya sore itu terkalahkan dengan panasnya kegiatan mereka dari waktu ke waktu. Mereka terus bergerak saling melawan untuk menjemput kenikmatan bersama, hingga akhirnya suara lengkingan dari keduanya menandakan jika mereka berhasil mencapai puncak kembali.
Sean tersenyum penuh kepuasan, dia merasa senang karena sudah menjadikan Shena milik dia seutuhnya. Laki-laki itu juga merasa sangat bahagia karena menjadi orang pertama yang menyentuh Shena.
Jika sudah begini, Shena tidak akan bisa kabur darinya. Sebenarnya selain karena hak, alasan Sean ingin buru-buru memiliki Shena adalah dia tidak ingin wanita itu pergi darinya.
Sebab, dia bukanlah tipe laki-laki yang bisa dengan mudah mencari pengganti, dan lagi dia tidak ingin itu, karena prinsipnya adalah bersama dengan satu nama sampai akhir.
"Mau mandi bersama?" tawar Sean setelah dia melepaskan diri dari Shena.
Shena menggeleng dengan mata sedikit terpejam, tubuhnya terasa remuk, dia merasa jika bergerak sedikit saja maka tubuhnya akan patah semua.
"Baru dua, tapi kamu sudah lelah?" goda Sean, Shena memaksakan membuka matanya kemudian melirik Sean dengan tatapan tajam.
Akan tetapi bukannya merasa takut atau bersalah, Sean malah tertawa melihat lirikan tersebut. Sean pun berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Shena yang masih merasa kesal karena laki-laki itu.
"Seharusnya tidak secepat ini, kan?" gumam Shena, ada sedikit perasaan menyesal yang dia rasakan.
Bukan menyesal karena menyerahkan kesuciannya pada Sean yang setatusnya adalah suami, tapi karena dia tau jika laki-laki itu belum memiliki perasaan padanya, itulah yang membuat Shena menyesal.
Dia takut jika Sean akan seperti Samuel yang tidak bertanggung jawab pada Hana. Memikirkan itu membuat Shena menjambak rambutnya frustrasi.
BERSAMBUNG...