When Love Comes

When Love Comes
Jangan merajuk



Sesampainya Shena, Dinar, Chery dan Ferry di restoran yang tidak terlalu jauh dari WLC Corp, Shena duduk di sebelah Chery, sedangkan Dinar dan Ferry duduk di hadapan mereka.


"Kalian mau makan apa? Biar sekalian," tanya Ferry pada semuanya sambil memegang buku menu.


"Apa saja Pak," jawab Dinar, yang juga disetujui oleh Chery dan Shena. Ferry tersenyum, kemudian dia pun memesan makanan terbaik yang direkomendasikan untuk mereka semua.


Baru saja Ferry selesai memesan, Sean dan Andre datang ke restoran itu dan berjalan mendekati mereka semua. Dia berdiri di samping Shena sebentar, kemudian duduk di samping kanan Shena, karena di sebelah gadis itu ada Chery. Sementara Andre duduk di kursi lainnya.


"Kalian sudah pesan makanan?" tanya Sean seolah tidak pernah terjadi hal apa pun yang membuat Shena kesal.


"Sudah, aku juga tadi pesan banyak sekali makanan, tapi jika kamu ingin menambahkan sesuatu, maka tambah saja," jawab Ferry, dia tau karakter Sean, maka dari itu tadi saat memesan dia pesan banyak makanan, karena dia tau jika Sean pasti akan menyusul mereka.


"Tidak perlu, jika menurutmu itu sudah cukup banyak, maka sudah," kata Sean seraya menoleh pada Shena yang seolah tidak melihatnya, dia malah fokus pada ponselnya.


Sean mengambil ponsel Shena, membuat Shena mendongak menatapnya dengan ekpresi tidak suka. "Kamu apa-apaan sih? Kembalikan ponselku!" ketus Shena sambil melotot.


Sean tidak memberikan ponselnya, dia malah memasukkan ponsel itu ke dalam saku jasnya. "Tidak baik bermain ponsel di saat kita sedang berkumpul seperti ini, itu tidak sopan," kata Sean.


Shena hanya mendengus, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, dan bertepatan dengan itu juga dia melihat Samuel dan Bunga masuk ke dalam restauran tersebut.


Shena kembali menoleh pada Sean yang sedang berbincang dengan Ferry. "Kenapa tidak kamu selesaikan dulu pertemuanmu dengan teman lamamu? Lihatlah, mereka sampai menyusul ke sini," sindir Shena.


Sean mengerutkan kening, tapi sedetik kemudian netranya menangkap sosok Bunga dan Samuel yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Sean menoleh pada Shena yang masih menatap tajam dirinya. "Jangan merajuk, dia hanyalah adik angkat untukku, kamu tidak perlu cemburu," katanya.


Sean tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke telinga Shena. "Tidak perlu berbohong, semua terlihat jelas di wajahmu!" bisik Sean.


Shena berbalik. "Kamu terlalu percaya ...."


"Hai," sapa Bunga menghentikan ucapan Shena yang ingin protes pada Sean.


Sean yang semula tersenyum, langsung mengubah ekspresinya menjadi dingin kembali, tentu saja semua itu terlihat oleh Bunga dan Samuel. Namun, Bunga tidak merasa takut atau bagaimana, dia tetap tersenyum pada semuanya.


"Aku kebetulan juga belum makan, boleh gabung, kan?" tanya Bunga dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Namun, tidak ada yang menjawab karena semuanya menghargai Sean yang terlihat seperti tidak ingin makan bersama dengan Bunga dan Samuel.


Samuel yang mengerti pun mendekat pada Bunga. "Bunga, sepertinya kakak ipar tidak ingin makan bersama kita. Sudahlah, cari makan di tempat lain saja," ujar Samuel menyindir sambil melirik pada Shena.


Shena ingin menjawab, tapi lengannya dicekal oleh Sean, kemudian Sean mendongak menatap Samuel dan bunga. "Di sini sudah penuh, apakah kalian tidak melihatnya? Jika kalian bersikeras ingin bergabung, maka duduklah di meja lain itu bersama Andre." Sean menunjuk pada meja lainnya, yang ada Andre tengah duduk seorang diri di sana.


Bunga mengikuti arah telunjuk Sean, dan bibirnya langsung dimanyunkan karena itu berada sedikit lebih jauh dari Sean. "Tapi Kak, kita sudah lama tidak bertemu, aku masih ingin mengobrol denganmu," rengek Bunga.


Dulu, jika dia melakukan hal itu, Sean akan langsung mengabulkan permintaannya, dan dia yakin kali ini pun sama. Namun, Sean kembali menggeleng, membuat Bunga merasa sedih.


"Jika ingin mengobrol denganku, carilah waktu kosongku, karena aku sangat sibuk, kamu bisa tanyakan itu pada Andre," kata Sean. Lalu, Sean menoleh dan mengulas senyum pada Shena yang kebetulan tengah menatapnya dengan dahi mengkerut.


BERSAMBUNG...