
"Hana?" gumam Samuel, dia menatap tajam gadis itu, seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. Namun, sepertinya Hana tidak takut, dia malah bergerak maju dan berdiri di samping Samuel.
"Siapa kamu?" tanya Grace, Grace memang tidak mengenal Hana, karena saat dia dan Sean ke ruma Pram. Hana sedang tidak ada di rumah itu.
Hana tersenyum sangat manis, tapi senyuman itu sangat menjijikkan di mata Samuel dan Sean. "Hallo Tante, nama saya Hana, saya adalah sepupu Shena dan juga kekasih Samuel." Hana dengan percaya diri memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangan pada Grace.
Grace mengernyit heran, dia menatap Hana dari atas sampai bawah, menilai wanita itu dengan saksama. Namun, sedetik kemudian dia menyunggingkan senyumnya, senyuman itu sebenarnya adalah sebuah ejekan. Grace juga tidak menerima uluran tangan Hana.
Akan tetapi dengan tidak tau dirinya Hana malah tersenyum bangga. "Hana, omong kosong apa yang kamu katakan?! apa aku pernah mengatakan cinta padamu? Jangan mimpi!" bentak Samuel.
Walaupun dia dan Hana pernah berbagi kenikmatan di ranjang, tapi tidak pernah sekalipun Samuel mengatakan cinta padanya, karena sebenarnya laki-laki itu memang tidak pernah mencintai Hana.
Samuel hanya tergoda dengan tubuh Hana, dan menjadikan wanita itu sebagai pelampiasan saat dia butuh saja. Hana menoleh pada Samuel dengan mata memicing tajam. "Apa maksudmu? Aku sudah memberikan segalanya untukmu, dan Shena pun sudah tidak ingin bersamamu lagi. Lalu, apalagi yang kamu harapkan? Apalagi yang ditunggu?"
"Dan semua itu karena kamu! Dasar wanita murahan!" timpal Samuel dengan tajam.
Mata Hana melotot ketika mendengar ucapan Samuel itu, sedangkan Shena, Grace dan Sean hanya diam saja memperhatikan mereka. "Samuel, apa yang kamu katakan?! kamu yang mengambil kesucianku kan? dan kamu mengatakan akan bertanggung jawab soal itu kan? Lalu, apa sekarang? Samuel kamu ...."
"Itu karena kamu yang menjebakku, iya kan? di saat aku butuh seseorang untuk menyalurkannya, kamu datang dan berpura-pura menjadi penyelamat! Di saat seperti itu, apa yang bisa aku lakukan selain menyalurkannya?" Samuel menyela ucapan Hana dengan suara nyaring.
"Hana, kamu juga tau setiap saat aku selalu mengatakan berjuta maaf untuk Shena, kamu tau bagaimana perasaanku padanya, kenapa kamu sekarang bertingkah seolah aku yang breng_ sek di sini?!" sambung Samuel, suaranya terdengar sedikit bergetar ketika menyebut nama Shena, dia pun tanpa sadar menoleh pada gadis yang statusnya kini sebagai kakak ipar itu.
Shena yang ditatap seperti itu langsung berpura-pura memalingkan wajahnya, padahal jauh dalam lubuk hati Shena, dia sedikit tersentuh dengan ucapan Samuel.
Sebenarnya yang membuat Hana menggebu-gebu ingin bersama Samuel adalah, selain parasnya yang tampan, juga karena ternyata Samuel adalah anak orang paling kaya dan paling berpengaruh di kota M tersebut.
Entah Shena mengetahuinya atau tidak soal identitas Samuel, yang jelas itulah yang menjadi salah satu alasan Hana ingin merebut Samuel dari Shena. Dia tidak mau kalah dari kakak sepupunya itu, karena menurutnya, dia lebih pantas bersanding dengan Samuel.
Hana memasang wajah sedih. "Tapi dia sudah menikah Samuel, dia sudah menjadi kakak iparmu, dan sekarang, ada aku dan anak kita yang butuh kamu!" kata Hana lagi, dan itu membuat Shena, Sean, Grace dan Samuel langsung menoleh padanya dengan dahi mengkerut.
"Apa maksudmu? Anak? anak apa?" tanya Grace.
Hana berpura-pura menyeka matanya yang tidak ada apa-apa di sana. "Anak aku dan Samuel, karena aku ...."
"Kebohongan apa lagi yang kamu katakan kali ini?" Samuel yang sudah emosi kembali menyela ucapan Hana, dia tidak tahan dengan semua celoteh tidak jelas Hana. Dia pun langsung mencengkram pundak gadis itu dengan kencang, membuat Hana meringis kesakitan.
"Samuel, kamu menyakitiku!" lirih Hana, cengkraman itu benar-benar membuatnya nyeri, tapi Samuel tidak mengindahkan ucapan wanita itu, dia semakin kencang mencengkeram kuat pundaknya.
"Samuel, aku hamil, aku hamil anakmu, anak kita!" Walaupun pundaknya terasa nyeri, Hana tetap mengatakan kehamilannya pada Samuel.
"Tidak, itu tidak mungkin! Kamu pasti bohong!" Samuel tidak percaya dengan ucapan Hana.
"Tidak, aku tidak berkata bohong padamu, maka dari itu Samuel, kamu harus bertanggungjawab, ini adalah anakmu, darah dagingmu," sahut Hana dengan yakin.
"Tidak, tidak mungkin, kamu yang menempel padaku bagaikan perangko, lalu kenapa aku yang harus bertanggungjawab padamu!"
Hana terkejut dengan jawaban Samuel, dia menoleh menatap Grace. "Tante, aku benar-benar hamil anak Samuel, kandungan ini sudah tiga minggu, tadinya aku ingin menyembunyikan kehamilan ini karena hubungan Samuel dan Shena, tapi karena hubungan kami sudah terbongkar oleh Shena, aku merasa jika tidak ada salahnya jika kehadiran anak ini diberitahukan pada anggota keluarga," tutur Hana.
Grace terdiam, dia yang awalnya bingung dan merasa bersalah dengan pernikahan Sean. Kini dia paham dengan yang terjadi, pernikahan Sean tidak ada hubungannya dengan kandasnya Samuel dan Shena. Dia pun bersyukur karena itu.
Akan tetapi mendengar jika Hana hamil anak Samuel, membuat Grace kembali pusing, pasalnya dia kurang menyukai gadis itu. Sebab, Hana terlihat tipe orang yang akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan yang dia inginkan.
Shena yang sejak tadi merasa sedikit pusing karena belum memakan apa pun, semakin sakit kepala melihat drama yang terjadi di hadapannya. Apa lagi ketika mendengar Hana hamil. Apakah sedalam dan sesering itu mereka melakukannya?
Lalu, ke mana saja dia selama ini? Kenapa dia tidak menyadarinya? Bagaimana jika malam itu dia tidak memergoki Samuel dan Hana? Akankah dia menjadi penghalang bagi janin itu untuk bersama kedua orang tuanya? Begitulah yang Shena pikirkan.
Dia beberapa kali menggeleng untuk mengusir rasa pusingnya, Sean yang menyadari itu menoleh dan menyipitkan matanya menatap wajah Shena yang terlihat sedikit pucat dibandingkan sebelumnya.
Sean kembali mengabaikan Shena, karena dia berpikir jika mungkin saja Shena masih merasa cemburu ketika mendengar jika Hana hamil anak Samuel.
"Tante, kenapa diam saja? apa Tante tidak percaya dengan kehamilanku? Jika tidak percaya, kalian bisa memeriksanya nanti," ujar Hana seraya menggenggam tangan Grace.
"Tidak, pokoknya aku tidak mau bertanggungjawab, aku hanya ingin Shena yang menjadi istriku, tidak ada yang lain dan tidak mau yang lain!" kata Samuel.
"Samuel! kamu gila! Shena itu kini sudah resmi menjadi istriku!" teriak Sean tanpa bisa ditahan.
"Kak, sudah kukatakan padamu, aku dan Shena saling mencintai, kenapa kamu tidak percaya? Aku yakin jika Shena juga masih ...."
Brukkkk!
Ucapan Samuel terpotong dengan suara berat yang jatuh menghantam tanah.
BERSAMBUNG...