When Love Comes

When Love Comes
Hidup dengan satu nama sampai akhir



Saat Sean keluar kamar mandi, Shena benar-benar sudah tertidur dengan tubuh yang terbalut selimut. Sean tersenyum tipis sambil mengambil pakaiannya, kemudian memakai pakaian itu di sana.


Saat Sean tengah menyisir rambutnya, pintu kamar diketuk, membuat Shena yang sangat sensitif dengan suara membuka matanya. Sean menoleh ke arah Shena yang tengah mengerjapkan-ngerjapkan mata itu.


"Kenapa bangun? Apa terganggu?" tanya Sean sebelum membukakan pintu untuk si pengetuk.


"Ya!" sahut Shena seraya bangkit perlahan dan bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Cepatlah mandi, agar tubuhmu terasa nyaman, atau mau aku bantu bersihkan?" tanya Sean lagi yang langsung dijawab dengan lirikan dari Shena.


Sean merasa puas menggoda istrinya itu. Dia pun berjalan untuk membukakan pintu, begitu pintu dibuka, terlihat Andre tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah tertunduk.


"Ada apa?" tanya Sean dengan suara dingin dan datar.


"Pak Ronald tadi menghubungi saya, katanya beliau ingin Tuan datang ke rumah utama untuk membicarakan tentang Samuel dan Nyonya," ucap Andre sedikit takut-takut, karena sudah mengganggu tuan-nya saat bersama sang istri.


Sean terdiam sambil melirik ke dalam kamarnya, dia melihat Shena masih menyandarkan dirinya setelah bangun tidur. "Baiklah, kamu tunggu di bawah, aku akan segera kembali," jawab Sean.


Andre mengangguk, kemudian dia pun beranjak pergi dari hadapan Sean, sedangkan Sean kembali menutup pintu dan berjalan mendekati Shena.


"Shena, aku saat ini ada urusan keluar rumah, jika kamu butuh sesuatu, kamu tinggal katakan saja pada pelayan," ujar Sean seraya mendudukkan tubuhnya di samping Shena.


Shena menoleh menatap Sean dengan sedikit ragu-ragu. "Ada apa?" tanya Sean yang menyadari jika ada yang ingin Shena tanyakan tapi sepertinya juga tidak.


"Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja!"


"Sean, apa menurutmu ini tidak terlalu cepat?" tanya Shena tanpa ujung, yang membuat Sean mengernyit bingung.


Melihat wajah bingung Sean dan tatapan tajamnya membuat Shena tergagap. "Eeemmm ... Maksudku, kita ...."


"Kenapa? apa kamu menyesal?" tanya Sean dengan suara datar, dan tatapan yang semakin dipertajam saat menatap Shena.


"Tidak, bukan begitu, justru aku takut kamu yang akan menyesal, karena ...."


Sean beranjak dari duduknya sambil mendengus kesal. "Lain kali, aku tidak mau mendengar pertanyaan bodoh ini lagi! Aku sudah pernah mengatakannya padamu, meskipun ini adalah sebuah perjodohan, aku akan berusaha untuk mempertahankannya. Karena prinsipku adalah hidup dengan satu nama sampai akhir," kata Sean.


"Dan sebaiknya kamu ingat juga kata-kataku juga janjimu," sambungnya, kemudian dia pun hendak melangkahkan kakinya tapi lengannya dicekal oleh Shena.


"Apa aku boleh pergi?" tanya Shena.


Sean menoleh sambil memicingkan matanya mendengar pertanyaan Shena itu. "Kamu mau ke mana? Ini sudah sore dan sebentar lagi malam."


"Aku hanya bertanya, tapi kalau kamu mengijinkan, aku mau pergi bersama temanku, atau mungkin ke rumah paman untuk mengambil barang-barangku," kata Shena dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.


Shena merengut mendengar ucapan Sean. "Apa harus membawa pengawal? Bukankah sudah cukup dengan sopir?"


Sean langsung menggeleng dengan pasti. "Tidak, itu terlalu beresiko, kamu harus pergi dengan sopir dan beberapa pengawal di belakang," kata Sean membuat Shena kesal.


"Tapi Sean, itu terlalu berlebihan. Aku bisa menjaga diri dengan baik, aku ...."


"Kamu harus patuh," potong Sean, dan itu membuat Shena kesal.


"Memangnya kamu pikir aku ini binatang piaraan? Sampai harus patuh padamu?!" Shena tidak suka dengan sikap Sean yang selalu *judge by cover* dan selalu seperti ingin mendominasi dalam pernikahan ini.


Sementara yang menjalankan pernikahan ini adalah mereka berdua. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan satu orang saja yang bertindak, sedangkan yang lainnya hanya diperintahkan untuk diam.


"Karena saat ini kamu adalah istriku, kamu harus mendengarkan perkataanku. Sudahlah, aku harus pergi dulu, kalau butuh apa-apa kamu tinggal katakan saja pada pelayan atau pengawal yang ada di rumah ini," kata Sean.


Dia mengecup sekilas puncak kepala Shena, kemudian mengacak-acak rambut wanita itu sebelum akhirnya berjalan keluar kamar, tanpa mendengarkan gerutuan Shena yang kesal karena rambutnya diacak-acak olehnya.


Setelah Sean keluar dari kamar, Shena pun bergegas turun dari kasur. Namun, baru saja dia menurunkan kedua kakinya, bagian inti dari tubuhnya terasa sangat sakit. Shena pun berjalan ke kamar mandi dengan sedikit tertatih.


***


Beberapa puluh menit kemudian Shena keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah dengan pakaian yang sudah rapi, dan tas selempang kecil yang dia pakai. Dia berjalan menuruni tangga dengan sangat hati-hati.


Begitu turun pelayan yang melihatnya langsung berjalan menghampiri. "Nyonya, apa ada yang Nyonya butuhkan?" tanya pelayan tersebut dengan ramah dan senyum yang sangat manis.


Shena menggeleng. "Tidak, eemmm ...."


"Nama saya Neni, panggil saja bibi Neni," sela pelayan itu.


Shena mengangguk dan tersenyum. "Aku tidak butuh apa pun, karena aku mau keluar Bi Neni," kata Shena tak kalah ramahnya.


Membuat pelayan itu tertegun, dia pun mengangguk pada Shena dan membiarkan Shena melanjutkan langkah keluar. Di luar pengawal yang juga bertugas sebagai sopir menghampirinya. "Apa Nyonya ingin keluar?" tanyanya.


"Iya, aku mau kembali ke rumah paman untuk mengambil beberapa barang," jawab Shena.


"Baiklah, ayok Nyonya, saya antar." Pengawal itu pun mempersilakan Shena untuk berjalan ke arah mobil yang entah sejak kapan sudah terparkir tak jauh dari pintu utama itu.


Pengawal itu membukakan pintu untuk Shena, dan setelah Shena masuk ke dalam, dia pun mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Lalu, mobil itu pun mulai melaju meninggalkan villa itu, diikuti dengan satu mobil yang berisi empat pengawal yang Sean perintahkan.


BERSAMBUNG...