
"Shena!" pekik Samuel dan Sean secara bersamaan, mereka pun segera menghampiri tubuh kecil Shena yang sudah terkapar di tanah.
Samuel mendekati tubuh Shena dan hendak menyentuh tubuh wanita itu, tapi Sean langsung menepisnya. Sean menghampiri Shena dan memangku tubuh kecil itu. "Shena, bangun!" Sean menepuk-nepuk pipi istrinya pelan.
Grace pun menghampiri dan ikut menggoyang-goyangkan pelan lengan menantunya itu, tapi Shena masih betah memejamkan matanya. "Ma, aku akan bawa dia ke rumah sakit!" kata Sean.
Grace mengangguk, kemudian Sean bangkit dari jongkoknya sambil menggendong bri_ dal tubuh Shena dan membawanya ke rumah sakit.
Samuel yang juga khawatir dengan Shena hendak mengikuti Sean dari belakang, tapi ditahan oleh Grace. "Samuel, sayang, jangan ikuti mereka! Mereka itu adalah suami istri, biarkan mereka pergi. Dan lagi, kakakmu pasti akan langsung membawa Shena ke rumahnya, bukan ke rumah utama," kata Grace.
"Apa Mama benar-benar akan mendukung hubungan kakak dan Shena? meskipun Mama tau jika aku dan Shena masih saling mencintai?" ucap Samuel, dia tidak percaya jika Grace benar-benar akan berpihak pada hubungan Sean dan Shena.
"Sayang, kamu dan Shena sudah selesai sebelum kakakmu menikahinya, lalu apa yang salah dengan itu?" ujar Grace dengan suara lembut, dia berharap jika Samuel akan mampu memahaminya..
Samuel mendengus kesal sambil menatap tubuh tegap Sean yang semakin menjauh, napas Samuel terlihat naik turun karena emosi yang dia rasakan. "Ternyata benar kata papa, Mama memang selalu menyayangi kakak, Mama tidak pernah menyayangiku. Jika disuruh pilih aku atau kakak, aku yakin Mama akan pilih dia!" gumamnya.
Grace terpaku, padahal dia sama sekali tidak seperti itu, apa yang Grace katakan itu adalah yang menurutnya benar. Hubungan Samuel dan Shena sudah kandas sebelum perjodohan ditetapkan, lantas apa yang salah dengan itu?
"Samuel ...."
"Sudahlah, aku sudah mengerti, Mama memang lebih menyayangi Sean," sela Samuel tanpa embel-embel kakak ketika menyebut nama Sean.
"Samuel, Kamu selesaikan dulu rusanmu dengan gadis ini," kata Grace sambil menunjuk Hana.
"Aku tidak ada urusan dengannya, jika Mama mau berurusan dengannya, silakan! Aku tidak peduli!" Setelah mengatakan itu, Samuel pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Grace dan Hana.
"Tante ...."
"Aku tidak mau ikut campur masalah kalian, urus saja sendiri bersama Samuel," kata Grace dengan tegas sebelum Hana menyelesaikan ucapannya, kemudian dia pun ikut masuk ke dalam gereja untuk menghentikan acara tersebut.
***
Di rumah sakit.
Sean membawa Shena masuk ke UGD, dan sesampainya di UGD Sean langsung meletakkan tubuh Shena di atas brankar tersebut.
Lalu, Sean pun diminta untuk menunggu di luar oleh dokter, dan Sean menurut. Dia melangkahkan kakinya keluar UGD, di luar UGD sudah ada beberapa anak buah Sean yang memang dia panggil.
"Tuan," panggil asisten pribadi Sean.
Sean mendongak menatap asisten pribadinya itu. "Bagaimana? Apa kamu sudah mempersiapkan barang-barang wanita seperti yang aku perintahkan?" tanyanya.
"Sudah Tuan, semuanya branded dan sudah disesuaikan dengan Nyonya," jawab asisten pribadi Sean itu, yang bernama Andre.
Sean mengangguk puas, kemudian menoleh sebentar ke pintu sebelum akhirnya kembali menatap Andre. "Bagaimana acara di sana? apa semua mencariku dan Shena?"
"Acara sudah dihentikan oleh Nyonya besar, dan semua sebagian sudah pulang satu persatu. Nyonya besar juga menitip pesan untuk Tuan," kata Andre.
"Pesan apa?"
"Pesan, jika Tuan harus menjaga Nyonya Shena dengan baik, dan katanya besok beliau akan berkunjung ke vila Tuan," jawab Andre masih dengan berdiri dengan hormat di hadapan Sean.
Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat khawatir. Namun, dia tidak ingin begitu terlihat jika dia sangat mengkhawatirkan Shena.
"Beliau tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan dan belum sarapan saja, sebentar lagi juga beliau akan siuman dan bisa dibawa pulang," jawab sang Dokter membuat Sean bernapas lega.
"Apa sudah dilakukan pemeriksaan menyeluruh?" tanya Sean lagi.
"Sudah."
"Kalau begitu terima kasih," balas Sean dan Dokter itu mengangguk dengan sedikit kaget karena ucapan terima kasih yang dilontarkan oleh Sean.
Seluruh orang di kota M sangat mengenal keluarga Kendrick, dan mereka juga tau bagaimana karakter Sean selama ini. "Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan," pamit sang Dokter, Sean hanya mengangguk sebagai jawaban.
Lalu, Dokter itu pun pergi meninggalkan Sean dan Andre, setelah itu Sean pun melenggang masuk ke dalam UGD bersama dengan Andre.
Sean duduk di kursi samping brankar Shena, sedangkan Andre berdiri di belakang Sean. Andre menatap lekat pada Sean yang terlihat khawatir pada istrinya itu, lalu sebuah senyum pun muncul di bibir Andre.
"Andre, bagaimana dengan orang itu?" tanya Sean tiba-tiba setelah lama terdiam menatap Shena yang masih memejamkan matanya.
Andre sempat tidak mengerti yang ditanyakan Sean, tapi beberapa detik kemudian dia pun paham. "Beliau sudah tidak ada lagi di tempat semula, Tuan. Sepertinya ada seseorang yang melindungi beliau dari kami," jawab Andre.
Sean terdiam dengan tatapan sulit diartikan, rahangnya terlihat mengeras menahan kesal yang entah karena apa. "Terus ikuti, jangan sampai ...."
Ucapan Sean terhenti saat melihat mata Shena yang mulai berkedip dan beberapa waktu kemudian terbuka secara perlahan itu. Sean mengayunkan tangannya pada Andre, memberi perintah untuk Andre keluar.
Andre membukukan sedikit tubuhnya sebagai tanda sopan. "Kalau begitu saya akan mengirim beberapa anak buah untuk terus mengikuti beliau," kata Andre sebelum akhirnya keluar.
Sean hanya diam saja, Shena mengerjapkan-ngerjapkan matanya lalu menoleh ke kanan, dan matanya pun bertemu dengan mata hitam yang sangat tajam juga dalam itu.
"Sudah bangun?" tanya Sean datar tanpa ekspresi. Shena hanya mengangguk kikuk seraya bangkit dari tidurnya.
"Dokter mengatakan kamu sudah bisa pulang jika sudah siuman," ujar Sean pada Shena yang sudah bersandar pada sandaran tempat tidur.
Shena menoleh pada Sean dengan wajah sedikit kerutan karena bingung, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak berani. "Ada apa? Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, maka katakanlah!" kata Sean bagaikan cenayang.
"Sean, bisakah kita tinggal di rumah paman dan tanteku saja? Aku tidak bisa tinggal di keluargamu dan bertemu ...."
"Apa kamu pikir rumah pamanmu itu sangat besar? Sangat aman? Lagi pula, kita tidak akan tinggal di rumah utama, kita akan tinggal di villa-ku, di sana hanya ada kita berdua dan beberapa pengawal saja," sela Sean.
Mendengar itu Shena bernapas lega, tapi jantungnya masih berdetak kencang saat membayangkan jika mereka akan tinggal satu kamar, pipi Shena sudah bersemu merah, membuat Sean mengerutkan keningnya.
"Apa kamu ada alergi? kenapa wajahmu merah begitu?" tanya Sean semakin membuat pipi Shena merona.
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Ayok kita pulang, ini sudah siang, dan kamu belum makan," kata Sean, Shena mengangguk kemudian turun dari atas brankar, dan mereka pun pulang ke villa.
BERSAMBUNG...