
Keesokan paginya.
Di kediaman keluarga Pram, di saat hari masih sedikit gelap dan semua orang terlihat sibuk berkemas juga bersiap karena akan menghadiri pemberkatan pernikahan. Datang beberapa orang yang tiba-tiba mengobrak-abrik ruang tamu sehingga luluh lantak sambil memanggil nama Shena.
Shena yang kebetulan sedang mengambil air di lantai bawah terkejut mendengar suara gaduh tersebut, dia pun berjalan keluar dari dapur, dan terlihat ada beberapa pria bertubuh tinggi yang tengah mengacak-acak ruang tamu itu sambil meneriaki namanya.
Mata Shena melotot tidak percaya, dia mengedarkan pandangannya melihat beberapa asisten rumah tangga dan beberapa penjaga keamanan tengah menahan orang-orang tersebut untuk masuk.
"Kenapa mereka mencariku?" gumam Shena.
Shena mulai ketakutan melihat orang-orang itu, dan dia pun hendak kembali ke dapur untuk bersembunyi. Namun, ada salah satu pria itu yang menyadari kehadirannya. "Itu dia!" kata pria itu sambil menunjuk Shena.
Shena terkejut sampai tanpa sadar menjatuhkan tempat air berbahan kaca yang dia bawa hingga jatuh dan pecah, Shena mundur beberapa langkah. "Awwww." Shena meringis saat pecahan itu mengenai kakinya hingga berdarah.
"Kejar wanita itu, dan bawa ke sini!" kata salah satu pria asing itu sambil mendorong asisten rumah tangga dan penjaga keamanan hingga jatuh tersungkur.
Mendengar itu, dengan tertatih Shena segera berlari ke dapur dan mengunci dapur itu. Dia sembunyi di kolong tempat semua bumbu-bumbu. Shena meringkuk ketakutan, tapi tak berselang lama di luar terdengar suara Pram dan suara bising di ruang tamu.
Mendengar suara pamannya, barulah Shena merasa bisa bernapas dengan lega. Dia pun bergerak perlahan keluar dari kolong tersebut, dan berjalan keluar dari dapur dengan sebelah kakinya sedikit diseret.
Di ruang tamu terlihat Pram dan beberapa orang yang tubuhnya tak kalah besar dari orang-orang tadi tengah membereskan meja dan kursi yang berantakan.
"Shena! kenapa belum bersiap? Dan ada apa denganmu?" pekik Pram saat melihat Shena yang keluar dari dapur dengan kaki yang pincang.
"Paman, syukurlah Paman datang, aku pikir tadi mereka akan membawaku," kata Shena.
Pram menundukkan pandangan dan melihat ada darah yang keluar dari kaki Shena. "Shena, kaki kamu kenapa?" tanya Pram khawatir.
"Tadi karena terkejut melihat orang-orang itu, tanpa sengaja aku menjatuhkan tempat air, lalu terkena pecahan kacanya," jawab Shena, dia meringis sambil berjalan ke arah sofa dibantu oleh Pram.
"Lain kali hati-hati sayang, sini paman lihat lukanya," kata Pram, dia pun memeriksa kaki Shena, sedangkan Shena mendongak memperhatikan orang-orang yang tengah merapikan ruang tamu yang berantakan itu.
Shena merasa asing dengan mereka, tapi mereka terlihat ingin menjaga rumah itu. "Paman, mereka siapa?" tanya Shena penasaran.
"Ini lukanya cukup dalam, lebih baik kita ke rumah sakit, okey!" Bukannya menjawab, Pram malah berkata demikian saat melihat telapak kaki juga jari-jari kaki Shena.
Shena menggeleng. "Tidak apa Paman, tidak perlu ke rumah sakit, aku takut ...," kata Shena menolak.
"Kamu tenang saja, tidak akan disuntik. Lagi pula, kamu harus pergi ke pemberkatan," ucap Pram menjelaskan, Shena memang sangat takut pergi ke rumah sakit, dia takut jika dirinya akan disuntik.
"Tidak usah Paman, tidak apa. Ini tidak akan menggangguku untuk pergi ke pemberkatan." Shena masih bersikeras menolak. Pram pun hanya bisa menghela napas pasrah. "Yasudah, kamu tunggu di sini dulu! Paman ambilkan kotak p3k."
Shena mengangguk seraya menatap empat laki-laki yang masih betah merapikan semua yang berantakan itu. Salah satu dari orang itu mendekat pada Shena. "Nyonya, apa tidak sebaiknya kita pergi ke rumah sakit?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak mau ke rumah sakit," tolak Shena, kemudian dia menatap orang itu. "Tapi ... Kalian ... Siapa kalian ...?"
"Mereka adalah orang-orang suruhan Sean, kemarin siang paman mengatakan soal mantan kekasihmu yang datang. Lalu, dia mengirim beberapa orang ini untuk menjagamu. Beruntung ada mereka, jika tidak, mungkin kamu sudah dibawa oleh orang-orang itu!" ujar Pram memotong pertanyaan Shena sambil duduk di lantai hendak mengobati kaki Shena.
"Hah?!" Shena tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Lalu, tak berselang lama, terdengar suara deringan ponsel di antara pria-pria itu.
Shena menoleh dan melihat ke arah laki-laki yang mengeluarkan ponselnya kemudian mengangkat panggilan tersebut, wajah orang itu langsung berubah sesaat setelah menerima panggilan. "Baik Tuan, tidak akan terjadi lagi," kata orang itu.
Tidak perlu bertanya, itu pasti panggilan dari Sean, karena tak berselang lama orang itu menoleh pada Shena dan berkata, "Nyonya tidak apa-apa, hanya saja kakinya sedikit terluka."
Entah apa lagi yang dikatakan Sean di sebrang sana sehingga membuat orang itu menunduk dan berkata dengan pelan. "Tapi Nyonya tidak mau dibawa ke rumah sakit, Tuan."
Setelah berbicara singkat, panggilan itu pun berakhir, dan terlihat anak buah Sean itu langsung bernapas lega. Shena terkekeh melihatnya.
Aura yang dipancarkan oleh Sean memang sangat kuat dan dalam, sehingga meskipun dirinya tidak ada di tempat, suaranya mampu membuat orang lain ketakutan seolah berada di hadapan Sean langsung.
"Ke depannya, teruslah bahagia seperti ini," kata Pram membuat Shena menoleh padanya.
"Apa maksudnya?"
"Ke depannya, kamu harus berjanji pada paman untuk selalu bahagia dan tertawa seperti ini." Ulang Pram, dia pun mengelus pipi tirus sang keponakan.
Sementara Shena hanya bisa mengangguk. Sebenernya Pram dan Gita sedikit tau soal Hana yang terkadang dengan sengaja menjahili Shena, tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun karena watak Hana yang keras.
Jika mereka membela Shena, maka Hana akan melakukan hal lebih pada Shena. Jadi, mereka hanya bisa pasrah dan mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada Shena sebagai kata maaf.
Akan tetapi, mereka tidak tau jika Hana akan berbuat lebih, yaitu merebut pacar sepupunya sendiri. "Sayang, paman minta maaf soal Hana yang ...."
"Paman, tidak perlu minta maaf padaku, aku juga sudah melupakan semuanya. Tidak apa, dia sudah menjadi masalalu, sekarang masa depanku ada bersama Sean," potong Shena dengan cepat.
Pram tersenyum, dia membelai rambut panjang Shena yang lembut dan halus itu. "Kamu memang anak baik, semoga kamu selalu bahagia di mana pun kamu berada," kata Pram, Shena tersenyum sambil mengangguk.
Lalu, tak berselang lama datang penata rias, penata rambut dan karyawan butik tempo hari yang diperintahkan oleh Sean. "Sayang, pergilah ke kamarmu dan bersiap, karena jam tujuh kita harus sudah tiba di gereja, " titah Pram sambil menunjuk orang-orang itu.
"Paman, apa Sean tidak menjemputku?" tanya Shena.
"Tidak, katanya dia ada urusan," jawab Pram.
Shena terlihat bingung, tapi dia tetap beranjak dari duduknya dan berjalan dengan perlahan menaiki anak tangga, diikuti oleh beberapa penata rias dan penata rambut itu. Sementara Pram dan yang lain masih sibuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh orang-orang asing itu.
***
Sesampainya di kamar.
Shena langsung diminta untuk duduk, sementara orang-orang itu langsung menyiapkan semuanya, dari mulai tempat makeup hingga ke gaun pengantin yang Shena pilih kemarin.
Setelah semuanya sudah disiapkan, Shena langsung didandani, dipakaikan gaun, dan gaya rambutnya diubah. Cukup lama Shena diam duduk di depan meja rias. Hingga deringan ponsel menghentikan aktivitas orang-orang itu. Shena menggerakkan tangannya ke atas nakas untuk mengambil ponsel.
"Sean?" gumam Shena saat melihat layar ponselnya. Dia memang sudah menyimpan nomor Sean, karena bagaimanapun dia dan pria itu sudah menikah sekarang.
Shena menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. "Hallo."
[Shena, tadi aku menelponmu, tapi kenapa tidak diangkat?] Suara Sean di seberang sana terdengar khawatir.
"Mungkin saat kamu menelepon tadi, aku masih di lantai bawah, dan ponselku ada di kamar," jawab Shena.
[Aku tidak bisa menjemputmu karena ada sesuatu, tapi nanti akan ada sopir yang menjemputmu,] kata Sean, Shena hanya berdeham sebagai jawaban.
Di seberang sana Sean mendengus, kemudian kembali berkata, [Shena, aku dengar kakimu terluka, tapi kenapa kamu tidak mau ke rumah sakit?]
"Tidak apa, hanya terluka sedikit, tidak perlu ke rumah sakit."
[Meskipun sedikit, namanya luka tetaplah luka! apa kamu anak kecil yang tidak tau soal itu?] kata Sean dengan marah.
Shena mengernyit, entah apalagi yang membuat laki-laki di sebrang sana itu marah. "Kamu ini sebenarnya kenapa? Hanya luka kecil saja, aku tidak akan kenapa-kenapa," kata Shena dengan sengit.
Di seberang sana Sean terdengar menghela napas berat, kemudian laki-laki itu mematikan sambungan teleponnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Ada apa lagi dengan dia?" gumam Shena. Dia meletakkan kembali ponselnya, dan dia pun kembali didandani oleh orang-orang itu.
BERSAMBUNG...