When Love Comes

When Love Comes
Jangan pernah berpikir untuk pergi



"Aku tidak akan pernah kembali padanya, dan aku tidak akan menyesali pilihanku saat ini," potong Shena dengan cepat bahkan sebelum Sean menyelesaikan ucapannya.


Mendengar ucapan Shena, membuat Sean menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada gadis yang beberapa centi lebih pendek darinya itu. "Apa kamu yakin?" tanyanya.


"Ya, aku sangat yakin, tidak ada ruang atau maaf untuk seorang pembohong juga pengkhianat," jawab Shena dengan sangat yakin.


"Baiklah, kalau begitu dengarkan aku!" Sean menyentuh dagu Shena dan memaksa wanita itu untuk menatapnya lagi. "Setelah ini kita akan pergi ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan juga mengambil akta nikah, dan setelah kamu resmi menjadi istriku. Maka jangan pernah berpikir untuk pergi, karena tidak akan ada ruang untukmu melarikan diri, bahkan jika kamu mati, itu harus berada di dekatku, apa kamu dengar?" sambung Sean.


Shena mengangguk, tapi sedetik kemudian dia pun bertanya. "Bukankah seharusnya besok?"


"Besok pemberkatannya, tapi ke kantor catatan sipilnya hari ini. Karena jika berbarengan, itu akan sangat melelahkan," jawab Sean.


"Baiklah, aku mengerti," ujar Shena.


"Kamu mengerti juga kan dengan apa yang aku katakan?" Shena mengangguk, kemudian mereka kembali melanjutkan langkahnya beriringan dengan tangan kekar itu masih menggenggam Shena lembut, dan Shena pun sejak awal merasa tidak keberatan dengan itu.


"Selamat datang Tuan Sean," sapa salah satu karyawan butik itu pada Sean.


Sean menoleh pada Shena. Lalu, beralih menatap orang itu. "Dan Nyonya," ucap Sean singkat dengan suara dingin dan tatapan mata yang tajam.


Karyawan itu sempat tidak mengerti, tapi sedetik kemudian dia pun mengulang kembali ucapannya. "Selamat datang Tuan Sean dan Nyonya."


Sean mendengus karena ketidaksopanan karyawan itu dalam menyambut Shena, padahal sudah jelas dia menggandeng lengan Shena, tapi karyawan itu malah hanya menyambutnya seorang.


"Lain kali, sambut juga istriku," ketus Sean sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung itu. Sementara Shena kembali dibuat bingung dan terkejut oleh perkataan Sean yang terdengar seperti sangat menghargai dirinya.


Melihat kedatangan Sean dan Shena, manager butik itu yang sejak tadi tengah sibuk mempersiapkan sesuatu langsung berjalan menghampiri mereka. "Tuan dan Nyonya Kendrick sudah datang, mari silakan duduk dulu!" kata manager butik itu dengan ramah.


Dia pun mempersilakan Sean dan Shena untuk duduk lebih dulu di sofa, sedangkan karyawannya akan mempersiapkan beberapa pasang gaun pengantin yang terbaik di toko itu.


Sean dan Shena mengangguk kemudian duduk bersampingan di sofa yang ditunjuk oleh manager tadi. "Apa kamu mau makan dulu?" tanya Sean, dia baru teringat jika mereka belum sarapan.


"Tidak, aku belum lapar," jawab Shena, Sean mengerti, kemudian tidak berselang lama. Beberapa karyawan datang membawakan beberapa pasang gaun pengantin.


"Tuan, Nyonya, ini adalah beberapa pasang gaun pengantin yang di desain khusus oleh designer terkenal di berbagai negara," ucap sang manager ramah pada Sean dan Shena.


Shena dan Sean langsung beranjak dari duduknya dan melihat-lihat sepasang gaun pengantin yang mereka bawa itu.


Melihat Shena yang merengut membuat Sean bertanya, "ada apa? Apa kamu tidak menyukai semua gaun itu? apa itu terlihat jelek?"


Shena menggeleng. "Tidak, semuanya sangat bagus, dan aku suka."


"Lalu? apa masalahnya? kenapa ekpresi wajahmu seperti itu?"


Shena menoleh padanya, dan dengan kesal menjawab, "aku bingung mau mencoba yang mana, karena semuanya terlihat sangat bagus dan indah."


Sean terkekeh kecil mendengar jawaban Shena. "Kenapa tidak kamu coba saja semuanya?" kata Sean enteng yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Shena.


Bagaimana bisa Shena diminta untuk mencoba semuanya, karena jika itu dilakukan, maka mereka tidak akan selesai mencoba gaun pengantin itu sampai malam hari.


Shena pun kembali memilih, dia mengitari gaun-gaun pengantin itu berulang, hingga netranya menatap satu gaun, dia tertarik untuk melihatnya lebih dekat.


Dia menyentuh gaun itu sambil tersenyum. Wanita itu membayangkan jika dirinya akan memakai gaun seperti itu, pasti akan terlihat sangat indah, dan akan terlihat seperti putri dari kerajaan.


"Apa Nyonya menyukai gaun ini? ini adalah gaun yang dirancang khusus oleh designer Rain dari negara J, dan katanya gaun ini melambangkan kesucian, keabadian dan kebahagiaan," terang manager tersebut.


"Benarkah? Designer Rain?" tanya Shena dan manager itu mengangguk.


"Ya, dan ini hanya ada satu di dunia, beliau tidak lagi merancang gaun seperti ini."


Shena langsung menoleh pada Sean yang berdiri di belakangnya dengan gagah itu. Shena ingin mengatakan sesuatu, tapi laki-laki itu lebih dulu berkata. "Kalau kamu menyukai yang itu, maka coba saja, jika pas di tubuhmu, maka kita akan pakai yang ini."


Shena mengulas senyum, kemudian dia pun langsung dipersilakan masuk ke dalam sebuah ruangan yang telah tersedia, meninggalkan Sean yang juga ingin bersiap untuk memakai baju pengantin yang dipasangkan dengan gaun pilihan Shena tadi.


Butuh waktu puluhan menit bagi Shena dan seorang karyawan yang membantunya, hingga gaun berbentuk ball gown tanpa lengan yang sengaja mengekspos bagian bahu hingga dada melekat sempurna di tubuhnya, membuat penampilan perempuan itu terlihat memukau dengan kesan klasik. Apalagi ditambah padanan mutiara di bagian dada dan long laces veil yang menjuntai di belakang. Ah, benar-benar mirip seperti putri kerajaan. Sangat cantik.


"Wah! You're so gorgeous!" puji karyawan butik itu.


Karyawan itu pun menarik tirai yang menjadi penghalang antara Shena dan Sean, dan hal tersebut berhasil membuat perhatian Sean yang sudah lebih dulu memakai baju pengantin dan tengah bercermin itu teralihkan. Netra Sean menyusuri setiap inci tubuh Shena yang dibalut gaun seperti tak ingin melewatkan barang sedikit pun. Dia benar-benar dibuat terpukau sampai enggan untuk memalingkan wajah.


BERSAMBUNG...