When Love Comes

When Love Comes
Bab 35



"Sudah kukatakan padamu sebelumnya, Shena memang tidak mudah untuk didekati, Doni sering sekali menggoda atau mengajak bicara Shena, tapi istrimu itu selalu cuek padanya," kata Ferry yang berdiri di belakang Sean.


Tadi saat dia mendengar jika Sean datang, Ferry cukup terkejut karena Sean langsung membuka komputer dan memeriksa cctv menggunakan komputer itu.


Ini adalah kantor milik Sean, tentu saja dia tau semua tentang kantor ini, termasuk dengan cara memeriksa rekaman cctv tanpa harus ke ruangan khususnya.


"Pindahkan dia ke lantai lain, jangan sampai dekat-dekat dengan istriku!" kata Sean setelah terdiam beberapa waktu.


Ferry kembali dibuat terkejut oleh ucapan Sean, matanya melotot tidak percaya sambil melirik Andre yang tengah berdiri di samping Sean itu. Andre hanya menggeleng seraya menahan senyumnya.


"Sean, kamu terlalu posesif, istrimu juga tidak akan mungkin meladeni Doni, tenanglah," kata Ferry mencoba memberi peringatan pada sahabat sekaligus pemilik perusahaan itu.


"Jika kamu tidak bisa, maka akan aku kirim kamu ke perusahaan yang ada di negara C, sedangkan Dinar akan aku pindahkan ke negara A," ancam Sean, dia sangat tau jika Ferry tidak mungkin ingin pergi ke negara C.


Ferry meneguk ludahnya susah payah mendengar ancaman Sean, sedangkan Andre kembali hanya bisa menahan tawanya. "Sean, dengan alasan apa aku memindahkannya? dia cukup kompeten dan rajin," tanya Ferry. Dia tidak mungkin memindahkan karyawan ke tempat lain tanpa alasan.


"Terserah kamu, yang penting jangan sampai nanti siang, aku melihatnya masih satu lantai dengan Shena," jawab Sean dengan enteng, kemudian dia mengambil berkas yang sudah tertumpuk di atas mejanya.


Ferry merasa pusing, tapi melihat Sean mulai mengerjakan perkejaannya, dia sedikit merasa senang. "Apa kamu tidak pergi ke KC Corp?" tanya Ferry, meskipun dia senang karena Sean mengerjakan tugasnya. Namun, tetap saja dia merasa heran.


"Aku dipecat," jawab Sean tanpa menoleh karena dia tengah sibuk membaca laporan yang harus dia kerjakan.


"Hah? Dipecat? Siapa yang memecatmu? dan kenapa?"


"Siapa lagi? setelah dia tau jika aku menikah dengan mantan kekasih Samuel, sepertinya dia ingin menyulitkanku, maka dari itu dia memecatku," kata Sean.


Mendengar itu Ferry tertawa hingga terbahak-bahak. Sean hanya mendelikan matanya sebentar, kemudian kembali melanjutkan membaca dan menandatangani semua dokumen-dokumen itu.


"Dia ingin menyusahkan kamu? apa papah-mu itu benar-benar tidak tau jika kamu memiliki banyak perusahaan?" tanya Ferry akhirnya setelah puas tertawa.


Ferry benar-benar merasa lucu dengan Ronald Kendrick yang katanya ingin menyusahkan Sean, tanpa tau jika anaknya itu adalah pengusaha besar. Bahkan semua perusahaan Sean jika dihitung-hitung lebih besar dari perusahaan keluarga Kendrick.


Hanya saja, Sean memang tidak pernah tampil di depan publik, karena dia menghargai Ronald yang sangat tidak menyukainya. "Jika dia tau, apa kamu pikir dia akan membiarkan semuanya sukses?" kata Sean.


Mungkinkah karena kecelakaan 26 tahun lalu? yang membuat semua keluarga Kendrick tewas di tempat kejadian? Sehingga Ronald menjadi dingin? Namun, itu bukan sebuah alasan, karena Sean masih belum lahir, dan seharusnya Ronald juga tidak sedingin itu padanya yang tidak tau apa-apa.


Ferry menatap Sean dengan wajah bingung begitu lama, sehingga Sean yang semula tengah fokus dengan berkas menyadarinya. "Ada apa? Kenapa kamu memperhatikanku seperti itu?" tanya Sean sambil menyipitkan matanya.


Ferry menggeleng. "Tidak, tidak ada, aku hanya bingung padamu, kenapa ayahmu itu sebegitu tidak sukanya padamu?" kata Ferry.


Sean tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya dan kembali fokus dengan perkejaannya.


Sementara Ferry yang menyadari jika dia salah dalam bertanya, hanya terkekeh geli, dan kemudian beranjak. "Aku akan mengurus Doni lebih dulu," pamit Ferry yang hanya dijawab dengan deheman oleh Sean.


Setelah Ferry pergi, Sean yang semula tengah fokus dengan berkas, langsung meletakkan semua berkas itu dan melirik pada Andre yang juga sibuk dengan perkejaannya.


"Andre, bawakan aku kopi," titah Sean, Andre meletakkan pekerjaannya dan mengangguk, kemudian dia pun beranjak untuk membuatkan Sean kopi.


Sean diam, dia menatap kosong ke komputer yang menyala, dia pun sebenarnya ingin tau tentang masalalu kedua orang tuanya. Namun, semuanya selalu hilang dan seperti sengaja ada yang menutupinya.


Ruangan itu benar-benar menjadi hening dan mencekam, karena aura dingin dan kejam yang keluar dari tubuh Sean saat dia sedang merasa kesal atau marah.


Tak berselang lama, Andre datang dengan segelas kopi di tangannya. Andre meletakkan kopi itu di meja Sean, dan hendak kembali duduk di tempatnya semula.


Akan tetapi, suara Sean menghentikannya. "Andre, tolong cari tau tentang mama dan papaku di masalalu, aku ingin semuanya lengkap, tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Termasuk awal mereka menikah, kecelakaan itu, dan tentang kelahiranku," titah Sean.


"Tapi Tuan, bukankah semuanya ...."


"Data semua itu tidak semuanya asli, dan sekarang aku ingin yang asli. Dan juga ganti semua orang-orang yang membantumu sebelumnya, karena yang sebelumnya ada beberapa mata-mata papaku," sela Sean.


Andre hanya bisa mengangguk, karena dia tau betul kepintaran tuan-nya itu. Dia yakin jika Sean sudah curiga ada yang salah, maka itu adalah kenyataan.


"Saya akan segera kembali," kata Andre, Sean berdeham sebagai jawaban.


BERSAMBUNG...