
"Ya, kenapa kalian seperti terkejut begitu? kalian jangan takut, semuanya akan selesai secepatnya. Kalian hanya perlu tampil tampan dan cantik ketika menikah nanti," ucap Grace santai seolah bukan sedang membicarakan pernikahan, melainkan membicarakan rasa makanan.
Sean menghela napas sejenak sebelum berkata pada Grace. "Ma, ini terlalu cepat! Aku dan dia bahkan belum saling mengenal satu sama lain. Dan lagi, kita berdua belum menjawab iya," protes Sean dan tanpa sadar Shena pun mengangguk menyetujui ucapan Sean.
'Wanita ini bahkan berbohong soal pacarnya!' batin Sean kesal seraya melirik Shena dengan wajah datar dan dinginnya.
"Kalian sudah mau bertemu, itu berarti kalian sudah setuju, untuk apa harus menunggu jawaban iya dari kalian?" kata Grace dan dari nadanya terdengar tidak ingin dibantah.
Sean pun hanya bisa menghela napas berat dan dengan terpaksa. "Setidaknya beri kita berdua waktu untuk saling mengenal." Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Sean.
"Benar itu Paman, Tante, setidaknya beri juga kami sedikit waktu untuk saling mengenal," timpal Shena kemudian, Shena bukan orang bodoh yang tidak menyadari keengganan Sean padanya.
Maka dari itu, Shena pun menyetujui dan berada dipihak Sean, berharap jika para orang tua ini akan memberikan mereka berdua waktu.
"Bukannya masih ada waktu sebelum lusa? dan selama itu kalian bisa mendekatkan diri satu sama lain. Lagi pula, nanti setelah kalian menikah, kalian bisa melanjutkan pendekatan itu. Bukan begitu, Pram?" Grace beralih menatap Pram dan meminta persetujuannya.
"Benar," sahut Pram dengan senyum. Senyum itu biasanya terlihat manis di mata Shena, tapi kali ini dan untuk pertama kalinya, senyuman itu justru membuat Shena sakit kepala.
"Kalau begitu selama kami mempersiapkan pernikahan, kalian pergilah makan bersama, jalan-jalan, nonton bioskop. Supaya kalian semakin akrab, manfaatkan waktu sebelum lusa. benar begitu kan Pram?" Grace kembali meminta pendapat Pram, dan tentu saja Pram kembali mengangguk mengiyakan.
"Tapi—." Ucapan Shena terpotong oleh ponselnya yang terlihat menyala dan berkedip, Shena menundukkan kepalanya untuk melihat siapa yang menelpon.
Shena bernapas lega dan tersenyum saat melihat yang menelpon dirinya adalah sahabat baik Shena di tempat kerja. Melihat Shena yang tersenyum ketika melihat ponsel, itu membuat Sean penasaran, kemudian dia pun ikut menoleh pada ponsel wanita itu.
'Aku pikir si my love lagi,' batin Sean.
"Permisi Tante, Paman, aku angkat telepon dulu," pamit Shena seraya beranjak dari duduknya dan berjalan keluar rumah mencari tempat sepi.
Setibanya Shena di luar rumah, dia langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. "Ada apa Cher?" tanya Shena tanpa basa-basi.
[Shena, sebenarnya kalian ada masalah apa?] tanya Chery dengan nada penasaran.
Shena mengerutkan keningnya bingung. "Kalian? Maksudmu siapa?" Shena benar-benar tidak mengerti maksud dari kata 'kalian' yang diucapkan oleh Chery.
[Kamu dan Samuel, apa kalian bertengkar? soalnya saat pergi membeli sarapan tadi, aku melihat dia pergi bersama dengan Hana. Bahkan mereka terlihat sangat akrab, tadi aku ingin sekali menegur mereka, tapi kata Dinar, aku harus bertanya padamu lebih dulu,] jawab Chery, dari suaranya terdengar jika dia kesal.
Sebagai sahabat baik, melihat pacar sahabatnya pergi dengan wanita lain tentu saja membuat Chery ikut merasa kesal. Apalagi wanita itu adalah sepupu Shena sendiri, dan lagi mereka terlihat sangat akrab dan romantis.
"Aku tidak ada hubungan lagi dengan pria itu!" kesal Shena, seingat dia, semalam Samuel masih memohon tidak ingin putus. Namun, ternyata semua itu hanya bualan semata, belum 24 jam tapi pria itu sudah kembali bersama dengan Hana. Sepertinya putus adalah jalan terbaik untuk Shena.
[Apa maksudmu? apa kalian sudah putus? tapi kapan itu terjadi? Rasanya, kemarin siang kalian masih baik-baik saja.] Di sebrang sana Chery sampai terbangun dari duduknya saking terkejutnya dengan jawaban Shena.
Di mata Chery, meskipun Hana wanita yang menyebalkan karena selalu mencari masalah dengan Shena, tapi tidak dengan Samuel. Samuel terlihat sangat baik dan sangat mencintai Shena.
Bahkan keduanya pun masih terlihat baik-baik saja kemarin siang, lantas apa yang terjadi dengan keduanya dalam waktu semalam? [Shena, sepertinya kamu belum memberitahukan hal penting ini, dan kamu berhutang penjelasan padaku!] kata Chery tidak sabar dan menuntut penjelasan.
Mendengar itu Shena terkekeh kecil. "Baiklah, aku akan menjelaskan pada kalian, nanti siang ayok kita pergi makan, nonton atau belanja! ajak Dinar juga."
[Baiklah, aku tunggu penjelasan darimu.] Setelah mendengar jawaban Chery, Shena langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah sambungan teleponnya terputus, Shena merenung sesaat, kemudian mengotak-atik kembali ponselnya. Mencari nomor Samuel lalu memblokir nomor tersebut dan menghapusnya dari kontak.
Shena membalikkan tubuhnya dan seketika dia terkejut saat melihat Sean ada di belakangnya, entah sejak kapan dia berada di belakangnya.
"Ka ... kamu, ngapain ada di sini? Mendengar percakapan orang lain kah?" tanya Shena dengan kesal seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat di hadapan Sean.
"Apa kamu pikir aku tidak ada kerjaan? aku juga ingin menerima panggilan telepon. Untuk apa mendengarkan obrolan wanita tidak jelas seperti kalian!" sahut Sean dengan wajah datar sambil memperlihatkan ponselnya.
Sean melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari Shena, dan kemudian mengangkat telepon tersebut. Sementara Shena langsung melangkahkan kakinya kembali masuk ke ruang tamu.
Sean melirik sekilas pada Shena yang kembali masuk ke dalam rumah, kemudian dia pun menundukkan kepalanya dan mengangkat telepon. "Ya, ada apa?" tanya Sean setelah sambungan telepon terhubung.
Di sebrang sana si penelepon menjelaskan beberapa kata yang membuat wajah Sean menjadi lebih muram dan dingin. "Apa kalian tidak bisa menyelesaikan masalah sekecil ini?! apa harus aku yang melakukan? kalau begitu untuk apa aku membayar kalian kalau masalah kecil seperti ini saja mencariku!" bentak Sean.
Suara Sean sangat dingin, membuat orang di sebrang sana ketakutan meskipun orang tersebut tidak melihat wajahnya. Tanpa banyak basa-basi, Sean pun langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan kembali masuk ke dalam dengan wajah datar dan serius.
"Ma, apa kita bisa langsung pulang? ada masalah yang harus aku urus," kata Sean setibanya dia di ruang tamu. Saking rumitnya kabar yang Sean terima, dia jadi lupa dengan rencananya untuk membujuk Grace agar tidak buru-buru dalam pernikahannya itu.
Melihat wajah Sean yang serius, Grace pun mengangguk. Lalu, dia menatap Shena. "Shena sayang, tante ada beberapa kenalan yang memiliki gaun pengantin yang sangat indah, besok pagi kamu dan Sean bisa pergi untuk melihat dan mencobanya, okey!" kata Grace. Sean dan Shena benar-benar dibuat sakit kepala dengan ucapan Grace.
"Ma, kenapa begitu buru-buru? Kami saja ...."
"Apa yang buru-buru? bahkan pernikahan kalian ini sudah mundur lama sekali. Kita tidak baik menunda lagi, lagi pula mama bisa mempersiapkan semuanya dengan cepat, kalian tidak usah khawatir!" ujar Grace memotong ucapan Sean.
Sean menggelengkan kepalanya tidak tau harus mengatakan apa lagi, dia menoleh menatap Shena. Gadis itu pun terlihat tidak berdaya. "Yasudahlah, kalau gitu ayok kita pulang dulu, karena aku ada urusan," ajak Sean.
Grace beranjak dari duduknya dan berpamitan. "Kalau gitu saya pergi dulu ya Jeng Gita, Pram. Nanti kita bisa lanjut bahas persiapan pernikahan mereka lewat telepon."
"Baik, nanti aku di sini juga akan menyiapkan hal yang harus kita lakukan," sahut Pram. Grace tersenyum dengan sangat lebar, membuat Sean yang melihatnya merasa tersentuh.
Baru kali ini dia melihat sang ibu sebahagia itu. Lalu mereka semua pun beranjak dari duduk untuk mengantar Grace dan Sean hingga ke depan rumah.
Di luar rumah, Shena membantu membukakan pintu mobil. "Ah, kamu benar-benar baik dan cantik. Aku tidak sabar menikahkan kamu dengan Sean," ucap Grace dengan kekehan kecil diakhir kalimat seraya naik ke dalam mobil.
'baik? cantik? aku rasa Mama harus periksa ke Dokter mata dan jantung,' batin Sean seraya melirik Shena.
Pram dan Gita pun tersenyum mendengar ucapan Grace. Setelah berbincang sebentar tentang pernikahan Sean dan Shena, kemudian mobil itu pun mulai melaju meninggalkan kediaman Pram.
"Tante, Paman, aku tidak mau dijodohkan dengan laki-laki itu," rengek Shena, sejak awal dia ingin menolak, tapi melihat wajah Grace, dia merasa sedikit tidak enak.
Jadi, cara untuk menolak perjodohan ini adalah dengan merengek pada Pram. Pram tersenyum melihat wajah imut Shena. "Sayang, paman kali ini tidak bisa membantu, Grace itu sahabat baik mamah kamu. Perjodohan ini pun sudah dibuat oleh keduanya, paman bisa apa?"
"Tapi aku tidak suka pada pria itu, bahkan dia juga sepertinya tidak menyukaiku," kata Shena, dia masih membujuk Pram.
Gita terkekeh dan merangkul pundak Shena. "Shena, ibumu menjodohkan kalian pasti ada alasannya, dan apa pun alasannya, itu pasti demi kebaikan kamu. Ini adalah permintaan atau keinginan yang dia mau, apa kamu tega menolaknya?" tutur Gita lembut.
"Benar Shena, ini adalah keinginan mendiang ibumu, apa kamu tidak mau menurutinya? Dan soal suka, nanti setelah kalian sering bersama, rasa suka itu akan tumbuh dengan sendirinya," timpal Pram.
Shena benar-benar pusing, dia memilih tidak menjawab ucapan Pram dan Gita. Menundukkan kepalanya melihat jam di ponsel, kemudian masuk ke dalam rumah untuk pergi bersiap.
***
Tak berselang lama, Shena sudah turun dari lantai atas membawa tas selempang kecil berwana biru. "Tante, Paman, aku mau pergi, aku ada janji sama teman," ujar Shena.
"Apa kamu tidak makan dulu? tadi kamu belum sempat makan," kata Gita khawatir.
"Aku nanti makan di luar," jawab Shena singkat, dia masih merasa kesal pada paman dan bibinya, karena mereka tidak ingin membantunya.
"Baiklah, kalau gitu kamu harus hati-hati, dan jangan pulang malam-malam, karena besok pagi kamu harus mencoba gaun pengantin," pesan Gita sambil menahan tawanya, dia tau jika Shena tengah menahan kesal pada dia dan Pram. Shena tidak menjawab, dia langsung melangkahkan kakinya keluar rumah.
BERSAMBUNG