When Love Comes

When Love Comes
Menyukai para pengawal?



Setelah selesai dengan ritual mandinya, Shena dan Sean pun segera turun ke lantai bawah untuk makan bersama. Saat Shena turun ke lantai bawah bersama Sean, dia mengedarkan pandangannya menelisik lantai bawah tersebut.


Perabotan yang ada di rumah itu benar-benar terlihat sangat mahal dan berkelas, Shena melirik pada pintu utama yang terbuka, di luar villa terlihat beberapa pengawal tengah duduk sambil berjaga.


Sean menatap Shena yang melihat ke arah luar. "Apa kamu menyukai salah satu dari mereka?" tanya Sean.


"Hah? Apa maksudmu? aku menyukai siapa?" Shena tidak mengerti maksud dari pertanyaan Sean, karena pertanyaan itu tidak berbuntut dan tidak berkepala.


Sean menghentikan langkahnya, membuat Shena pun ikut menghentikan langkahnya. "Karena dari tadi kamu selalu memperhatikan mereka," kata Sean.


Shena menggeleng dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang makan, dia merasa percuma juga menjelaskan, karena dia sendiri tidak pernah berpikir seperti itu. Memangnya masalah jika Shena memperhatikan para pengawal? Bukankah jika Shena harus mengenali mereka satu persatu?


Sean menghentikan langkahnya di ambang batas antara ruang tamu dan ruang keluarga itu. "Kamu diam, berarti kamu membenarkan perkataanku!" ujar Sean lagi, terdengar sedikit ketidaksukaan dalam nadanya, dan Shena benar-benar dibuat sakit kepala oleh Sean.


"Sean, apa maksudmu? apa aku salah jika aku memperhatikan mereka?" kesal Shena.


"Tidak, aku hanya ingin kamu ingat kata-kataku sebelumnya, dan ingat janjimu juga," ucap Sean dengan santai seraya melanjutkan langkahnya kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Shena pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa mengikuti Sean untuk duduk dan makan. Di ruang makan itu terlihat ada beberapa pelayan wanita yang sudah paruh baya tengah berdiri di beberapa titik di meja makan itu.


Saat Shena dan Sean mendudukkan tubuhnya, mereka langsung melayani Sean dan Shena dengan baik, seperti membalikan piring, menuangkan air.


Di meja makan itu terdapat banyak sekali makanan, seperti ingin menerima tamu puluhan orang, padahal yang makan hanya Shena dan Sean saja.


Sean dan Shena pun makan dalam diam dan penuh nikmat, sehingga tak berselang lama ada salah satu pengawal yang datang ke ruang makan pengawal itu dan berbisik pada Sean.


Sean mendengarkan dengan saksama sebelum akhirnya dia mengangguk, dan memerintahkan pengawal itu untuk pergi. Setelah pengawal itu pergi, Sean menyudahi makannya.


"Aku sudah kenyang, aku mau ke ruang kerja dulu karena ada yang harus diurus. Setelah makan, kamu bisa langsung kembali ke kamar untuk istirahat," ucap Sean seraya beranjak dari duduknya dan pergi dari ruang makan itu.


Shena yang kebetulan sudah kenyang memilih menyudahi makannya dan terdiam di meja makan, dia masih memikirkan tentang Samuel tadi. "Nyonya? Apa ada yang Nyonya inginkan?" tanya salah satu pelayan yang berdiri di belakang Shena itu.


"Tidak, aku mau kembali ke kamar saja." Shena beranjak dan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua dengan terburu-buru.


***


Sesampainya di kamar.


Shena langsung naik ke atas kasur dan bersandar pada sandaran tempat tidur tersebut. "Bagaimana bisa aku menikah dengan kakak mantan pacarku sendiri, tapi apa Sean tau tentang aku dan Samuel sebelumnya?" gumam Shena bertanya-tanya.


Dia teringat dengan kata-kata Samuel, juga masih tidak percaya dengan status yang Samuel dan Sean miliki. Belum lagi dengan ucapan Samuel tentang dia tidak pernah mencintai Hana.


Shena benar-benar dibuat sakit kepala dengan itu semua, dia pun memilih untuk mencari ponselnya dan melakukan panggilan video pada kedua sahabatnya itu.


"Aku baik, maaf ya tadi aku tidak bicara banyak dengan kalian," jawab Shena.


[Tidak apa, kami mengerti kok, hanya saja aku mau tanya tentang Samuel. Apa benar dia adalah adik suamimu?] Kali ini Chery yang bersuara.


Shena menghela napas berat, dan mengangguk pelan. "Iya."


[Shena, kamu menang lotre-kah? Kamu disakiti oleh Samuel, dan menikah dengan kakaknya? Keren,] kata Chery lagi membuat Dinar tertawa sedangkan Shena terdiam.


"Tapi aku jadi merasa ...."


[Apa kamu merasa bersalah pada laki-laki itu? Shena, kamu tidak perlu merasa bersalah, laki-laki itu sudah berselingkuh darimu. Kamu juga tidak tau jika Sean adalah kakaknya, lalu untuk apa merasa bersalah?] potong Dinar yang langsung disetujui oleh Chery.


Shena terdiam mencerna yang dikatakan oleh Dinar itu, dan dia pun sedikitnya mengerti. Hanya saja dia ingin bertanya pada Sean nanti, tentang apakah dia tau soal dirinya dan Samuel?


Shena, Chery dan Dinar akhirnya mengobrol begitu lama juga mengobrolkan hal tidak jelas. Sehingga pintu kamar pun terbuka dan Sean melenggang masuk ke kamar.


Shena mendongak melihat Sean. "Apa kamu sudah selesai?" tanyanya, yang langsung dijawab anggukan oleh Sean.


Dinar dan Chery yang mendengar itu, langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa berkata apa-apa lagi dan tanpa berpamitan. Shena mengernyit ketika tiba-tiba saja panggilan video itu sudah terputus, tapi dia memilih mengabaikannya dan meletakkan ponsel itu ke atas nakas.


Sean duduk di tepi kasur di samping Shena. "Siapa yang barusan teleponan denganmu?" tanya Sean.


"Dinar dan Chery."


Sean hanya mengangguk, kemudian suasana di kamar itu terasa sangat hening karena keduanya terdiam.


"Sean!" panggil Shena memecah keheningan. Sean menoleh padanya dengan alis terangkat.


"Apa kamu tau soal hubunganku dengan Samuel sebelumnya?" tanya Shena.


"Tidak, aku tau jika laki-laki itu adalah Samuel baru tadi pagi," jawab Sean jujur.


Shena terdiam, sedangkan mata Sean sudah memicing menatapnya. "Kenapa? Apa kamu menyesal karena ternyata dia adalah adik iparmu?"


Shena mengkerutkan kening mendengar pernyataan Sean. "Apa maksudmu? menyesal apa? Aku hanya bertanya," kesal Shena, Sean selalu seperti ini, menilai dirinya dengan sembarang.


"Mungkin saja, mana aku tau isi hatimu saat ini. Shena, aku hanya ingin kamu ingat apa yang pernah aku katakan padamu, dan aku ingin kamu ingat juga dengan janjimu!"


"Tentu saja aku ingat, aku juga tidak akan menyesal karena ...."


BERSAMBUNG...