
"Tapi Kak ...."
"Bunga, benar apa yang dikatakan oleh Kak Sean, dia memang orang sibuk, meskipun aku tidak tau apa yang dia sibukkan karena dia sudah dipecat oleh papa," sela Samuel ketika Bunga ingin protes. Dia pun menatap Sean dengan senyuman penuh ejekan.
Sementara Sean hanya diam saja, dia malah mengambil dan menenggak air Shena yang ada di depannya. "Kak Sean, sudah tidak bekerja lagi di KC Corp?" tanya Bunga.
"Benar, dia sudah tidak bekerja di sana. Tapi, jika kamu memang ingin berbicara dengannya, maka kamu harus membuat janji dulu, tapi kamu tenang saja. Kebetulan tadi pagi papa sudah membuat janji dengan Kak Sean, dan kamu bisa ikut bersamaku mengobrol dengannya nanti malam," kata Samuel, dia merasa sedikit puas sudah mengolok-olok Sean.
Bunga menoleh pada Samuel dengan tatapan tidak suka, tapi Samuel memberikannya isyarat untuk menurut, dan kemudian mereka pun duduk bersama dengan Andre.
Sebenarnya, meskipun yang lalu Sean dan Samuel tidak terlalu dekat karena perbedaan sifat, tapi mereka masih tetap akur dan saling menyayangi. Hanya saja, setelah kejadian kemarin malam dan pembelaan yang dilakukan Grace, membuat Samuel sangat tidak suka pada kakaknya itu.
Dia menganggap jika Sean adalah kakak yang tidak pernah menyayangi adiknya, sehingga bisa dengan tega merebut Shena darinya. Sementara Sean tau betul jika dia sangat mencintai Shena.
Mendengar Samuel yang mengolok-olok Sean, Shena langsung menatap laki-laki yang kini statusnya sebagai suami itu, sehingga Sean menyadari, kemudian menoleh dan tersenyum padanya.
"Kenapa ekpresi wajahmu begitu jelek? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Sean ketika melihat wajah bingung Shena. Shena memutar bola mata malas dan tidak menjawab, karena menurutnya itu adalah pernyataan yang menjengkelkan.
Lalu, tak berselang lama, makanan yang dipesan pun sampai, makanan itu sangat banyak, sampai-sampai membuat Shena, Dinar dan Chery bingung, bahkan makanan di meja Andre pun terlihat sangat banyak.
Setelah semua makanan tersaji, mereka pun mulai memakan makanan itu. "Kak Sean, kamu masih ingat makanan kesukaanku? Kamu begitu perhatian padaku, apa pun yang aku suka, kamu selalu tau," kata Bunga saat melihat beberapa makanan kesukaannya tersaji di atas meja bagiannya.
Sean melirik sekilas. "Semua ini bukan aku yang memesan, tapi Ferry, kamu berikan saja pujian itu padanya," kata Sean, dan kembali melanjutkan makannya.
Bunga sedikit kaget mendengar jawaban Sean, karena dia pikir semua makanan itu Sean yang pesankan untuknya.
Sean sedang asyik makan, tapi begitu melihat Shena yang seperti ogah-ogahan makannya, dia pun mendongak. "Kenapa tidak makan? apa makanannya ada yang tidak kamu suka? Atau kamu ingin makan yang lain? biar aku pesankan kalau begitu," ucap sean dan hendak memanggil pelayan. Namun, Shena menghentikannya.
"Tidak, tidak perlu, semua ini sudah lebih dari cukup, hanya saja aku sedikit tidak berna_fsu makan," ujar Shena. Dia memang sedikit malas makan siang itu, mungkin karena tadi pagi dia sudah makan banyak. Jadi, dia masih merasa sedikit kenyang.
Sean mengulurkan tangannya menyentuh kening Shena, Shena sempat terkejut tapi dia pun diam saja. "Tidak panas, tapi apakah kamu tidak enak badan?" tanya Sean.
"Tidak, mungkin hanya masih kenyang saja," jawab Shena.
"Makanlah, mungkin kamu akan menyukai yang itu," kata Sean, dan kembali melanjutkan makannya.
Apa yang kedua orang itu lakukan, semuanya tak luput dari pandangan Bunga dan Samuel, dan itu membuat mereka sedikit merasa cemburu.
"Sayang, kamu jangan makan pedas terlalu banyak, nanti perutmu bisa sakit," kata Samuel melarang, saat melihat Shena memakan daging asap pedas. Melihat tatapan tajam dari semuanya Samuel pun berdeham. "Maksudku kakak ipar tidak bisa makan pedas terlalu banyak, kan? Karena perutmu selalu bermasalah jika makan pedas," sambungnya meralat.
Sean menghela napas menahan kesalnya pada Samuel, setelah amarahnya sedikit mereda, dia menyingkirkan dan menjauhkan daging asap pedas itu dari hadapan Shena.
Lalu, dia menyodorkan beberapa sayur-mayur ke hadapan Shena. "Lebih baik makan sayur-sayuran ini, karena sayuran akan membuatmu lebih sehat," ucap Sean.
Shena yang ingin protes menahannya karena menghargai Sean, dia takut jika Samuel akan besar kepala, dan lagi dia tidak ingin membuat laki-laki itu merasa menang.
Shena pun mulai memakan sayuran yang Sean berikan, dan mereka pun mulai makan dalam diam, tanpa terlibat percakapan apa pun lagi. Walaupun terkadang Samuel sesekali melirik dan memperhatikan Shena.
***
Setelah semuanya sudah selesai makan, Ferry mengambil tisu, menyeka mulutnya kemudian menatap Sean. "Kamu sebagai boss WLC, bayarlah semua makanan hari ini! jangan pelit!" katanya dengan sengaja menekan kata boss.
Ferry sengaja, karena dia sebagai sahabat cukup kesal mendengar jika Sean dianggap remeh oleh Ronald dan Samuel, sedangkan Sean itu adalah orang hebat dan sangat pandai dalam berbisnis.
Jika Samuel menjadi CEO, belum tentu dia bisa menyaingi Sean dalam menangani beberapa kasus yang terjadi di dunia bisnis, hingga semuanya bisa selesai dengan cepat dan justru akan membuat perusahaan semakin jaya.
Mendengar itu Sean melirik tajam pada Ferry sambil mengeluarkan kartu unlimited punyanya, dan memberikan kartu tersebut pada Ferry. "Bayarlah!" katanya dengan ketus, karena Ferry sudah mengatakan hal yang tak seharusnya terbongkar.
Di kota M hanya ada beberapa orang saja yang memiliki kartu unlimited, hanya orang-orang tertentu dengan keuangan yang tidak akan habis yang mampu memiliki kartu tersebut.
Dinar, Chery, Shena, Samuel dan Bunga masih terdiam mencerna ucapan Ferry tentang boss WLC. Bunga memutar kursi agar menghadap Sean. "Kakak, kamu boss? Di mana?" tanya Bunga.
BERSAMBUNG...