When Love Comes

When Love Comes
Meneguk madu yang manis (1)



Belum selesai Shena berkata Sean sudah membungkuk dan menciumnya, apa yang ingin Shena katakan terhalang oleh ci_ uman Sean yang sedikit kasar dan menuntut.


Napas Sean yang hangat terasa oleh Shena, membuat wanita itu tidak bisa bernapas dan otaknya pun terasa kosong, juga tidak bisa berpikir.


Ci_ uman Sean turun ke leher mengecup dan meninggalkan serangkaian tanda kemerahan di leher seputih salju itu. "Se ... Sean ...." panggil Shena tergagap, dia ingin mengatakan jika dirinya belum siap.


Mereka berdua pun butuh waktu untuk saling menerima satu sama lain, tapi Sean tidak mengindahkan panggilannya. Dia malah merebahkan tubuh Shena dan dia langsung berguling menaiki tubuh wanita itu.


"Sean," panggil Shena lagi, Sean menoleh dan menatap lekat mata Shena dengan diam.


"Sean, aku ... Emmm kita ...." Shena tidak tau harus mulai dari mana untuk mengatakan jika dirinya belum siap, karena mereka harus saling mengenal lebih dulu. Namun, dia takut laki-laki itu akan salah paham kembali.


"Aku tau apa yang kamu ingin katakan, tapi Shena. Kita adalah sepasang suami istri, cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi."


"Kamu benar, tapi kita butuh waktu, aku takut ... Kamu akan ...."


"Tidak ada yang harus ditakuti, kita akan selalu seperti ini, lagi pula untukku pernikahan itu adalah hal yang sakral dan hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Ingatlah kata-kataku sebelumnya," sela Sean, dia sudah sangat tidak sabar, tapi Shena malah banyak berpikir.


Shena terdiam dan Sean kembali mendekatkan bibirnya, dan mulai mel_ umatnya, menye_ sap bibir atas dan bawah bergantian hingga terdengar lengu_ han dari Shena.


Sean menggigit pelan bibir bawah Shena karena kesal, wanita itu membalasnya. "Balas aku!" titah Sean.


Shena pun menuruti perintah Sean. Dia membalasnya, dan itu membuat Sean tersenyum di sela-sela ci_ umannya. Sean kembali menggigit bibir Shena agar terbuka dan memberikan akses untuk indra perasanya bisa masuk ke dalam mulutnya.


Shena mele_ nguh karena Sean melakukannya dengan lembut, dan membuatnya terbuai dengan menyentuh dan mengecup setiap titik sensitifnya, juga dengan bibir yang masih saling bertaut. Sean mencoba melepas penutup gunung kembar Shena dan kemudian melepaskan celana pendek yang wanita itu kenakan hingga tubuhnya kini polosan.


Ci_ uman Sean pun turun ke dagu, dia mengecup dagu itu sebentar, kemudian turun ke leher jenjang Shena dan kembali mengecup leher putih itu hingga meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


Sean semakin terbakar saat melihat tubuh polos Shena, tubuh yang sangat indah dan ideal di matanya. Setelah puas mengagumi tubuh indah Shena, Sean pun menjelajahi bukit kembar itu dengan penuh cinta, hingga kembali meloloskan era_ ngan tidak tertahankan dari bibir Shena


Sean semakin merasa panas saat mendengar suara dari Shena, yang menurutnya sangat indah. Dia benar-benar menjadi sangat panas juga haus, dan Sean butuh Shena untuk menghilangkan dahaganya. Sementara Shena terus saja menggeliat di bawah kung_ kungan Sean.


Setelah puas bermain-main dengan pucuk gunung kembar Shena sehingga meninggalkan serangkaian tanda kemerahan yang basah, Sean berdiri untuk melepaskan apa yang melekat padanya hingga dia pun sudah polosan tanpa sehelai benang pun.


Shena menoleh dan merasa malu saat melihat Sean yang sudah polos. Shena langsung memalingkan wajahnya saat Sean sadar dan tersenyum karena tau ke mana arah pandangan Shena tadi.


Sean kembali menindih tubuh Shena dan menatap wajah cantik itu. "Shena, kamu siap?" tanya Sean membuat degup jantung Shena kembali bertalu-talu.


"Jika kamu bertanya itu beberapa menit lalu, mungkin aku bisa mengatakan tidak. Tapi saat ini? Bukankah sudah terlambat untuk kamu bertanya?" kata Shena, terdengar sedikit kesal karena pertanyaan Sean.


Tadi saat dia mengatakan jika dia belum siap, Sean memaksanya, sedangkan kini di saat dirinya sudah siap, Sean malah bertanya hal tabu seperti itu.


"Terima kasih, kamu boleh berteriak nanti," bisik Sean tepat di telinga Shena.


BERSAMBUNG...