
Keesokan paginya.
Shena terbangun oleh deringan alarm yang dia stel pada jam walker yang ada di atas meja, karena hari ini dia akan pergi bekerja. Shena menggerakkan sedikit tubuhnya dalam mata yang masih terpejam.
Akan tetapi, dia sedikit mengernyit saat merasakan ruang geraknya sedikit terbatas, dan saat dia merasakan ada sesuatu yang seperti tengah memeluk tubuhnya.
Shena penasaran, dan dengan perlahan dia pun membuka mata, saat dia membuka mata, dia hanya melihat da_ da bidang seseorang dengan wangi maskulin yang khas, juga tangan pria itu yang melingkar indah di pinggangnya.
Shena mendongak dan melihat wajah tampan Sean yang masih terlelap, Shena sedikit kebingungan, karena sejak kapan laki-laki itu tidur di sampingnya sambil memeluk dirinya seperti ini?
Sebab, yang Shena ingat semalam laki-laki itu salah paham padanya, dan dia pun tidur sendirian di kamar itu. Lalu, sejak kapan Sean tidur di atas kasur dan memeluknya seperti ini?
Shena dengan hati-hati mencoba melepaskan tangan Sean yang memeluk pinggangnya itu, Shena sudah berusaha untuk sangat hati-hati. Namun, karena Sean adalah orang yang sangat sensitif dia pun membuka matanya perlahan.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya pada Shena dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya, dan kamu, kenapa kamu bisa ada di sini?" jawab sekaligus tanya Shena.
"Memangnya aku tidak boleh tidur di sini?" sahut Sean dengan enteng, dan malah semakin mengeratkan pelukannya.
Hal yang Sean lakukan semakin membuat Shena bingung. Laki-laki itu memang tidak jelas, semalam marah seperti apa, dan ketika Shena bangun dia sudah bertingkah seperti tidak terjadi apa pun, benar-benar seorang yang labil.
Shena yang masih bingung, mendongak dan kembali bertanya. "Sean, bukankah kamu masih marah dan salah paham padaku?"
Sean menunduk, dan matanya bertemu dengan mata indah Shena yang mampu membuat hatinya merasa bergetar itu. "Diam! Jangan bahas hal aneh, dan kembalilah tidur!" kata Sean seraya kembali memejamkan mata, menghindari tatapan yang seperti menggodanya itu.
"Tapi Sean, aku ingin pergi bekerja, aku hanya cuti dua hari saja kemarin, dan itu sudah dipakai untuk fitting baju pengantin juga pemberkatan," sahut Shena, dia masih mendongak menatap Sean.
Sean kembali menundukkan wajahnya dan matanya kembali bertemu dengan Shena, sebenarnya Sean masih sedikit merasa kesal semalam.
Akan tetapi, begitu melihat wajah lelap Shena, hatinya meluluh, dan langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dan tidur sambil memeluk Shena.
"Kenapa kamu tidak berhenti berkerja saja?" tanya Sean. Posisi mereka masih belum berubah sejak tadi, mereka masih saling berpelukan dengan mata yang saling memandang. Benar-benar terlihat sangat in_ tim juga terlihat seperti mereka itu sepasang kekasih yang sudah saling mencintai sejak lama.
"Aku belum bisa berhenti bekerja, karena itu pasti akan sangat lebih melelahkan jika aku hanya berdiam diri di rumah, tanpa ada aktivitas lain," ujar Shena.
Sean terdiam, karena apa yang Shena katakan ada benarnya, Shena sudah terbiasa bekerja, pasti akan sangat membosankan jika dia hanya berdiam diri tanpa ada aktivitas lain. Kecuali jika mereka sudah memiliki anak.
Melihat tidak ada jawaban apa pun dari Sean, Shena menganggap jika Sean setuju dengannya.
Shena menundukkan kepala dan melihat tangan Sean yang berada di pinggangnya. "Sekarang lebih baik lepaskan tanganmu dari pinggangku! Aku ingin mandi dan bersiap," katanya.
Shena kembali mendongak dengan dahi mengkerut. "Apa maksudmu? Pergi bekerja?"
Posisi Sean masih sama, masih menunduk dengan menatap wajah Shena. "Bukan, tapi membela Samuel, aku tidak peduli bagaimana perasaanmu padanya dulu. Tapi sekarang kamu adalah istriku dan kakak iparnya, kamu harus ingat statusmu dan juga kamu harus ingat dengan kata-kataku sebelumnya," tutur Sean.
"Aku tidak membelanya, aku membantunya karena dia terluka dan itu karena dipukul olehmu, tidak lebih. Juga tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan kami dulu, karena semua sudah berakhir, dan aku tidak memiliki perasaan apa pun lagi padanya," terang Shena dengan jujur, karena memang itulah yang terjadi.
Dia membantu laki-laki itu, murni sekadar membantu, karena dia telah dipukul oleh Sean. Sean menatap dalam mata Shena mencari kebohongan dari matanya itu.
Akan tetapi, yang Sean lihat hanyalah kejujuran, dan mata yang selalu membuatnya terpesona dan selalu merasa digoda.
Ya, mata itu seperti selalu menggoda Sean untuk selalu menatapnya dan menikmati tatapan indah itu.
"Kamu yakin?" tanya Sean, meskipun dia tidak menemukan kebohongan di dalam mata itu, tapi dia ingin memastikan.
"Aku yakin, sangat yakin."
Sean menyunggingkan senyum tipis kemudian membungkuk untuk mencium bibir Shena yang merah meskipun tanpa dipoles lipstik itu, Shena ingin mundur untuk menolak ciu_ man itu.
Akan tetapi, lengan Sean menahan tengkuknya dan tiba-tiba dia langsung mencium dan melu_ mat bibir Shena lembut.
Shena memejamkan matanya dan mengikuti permainan bibir Sean, membuat Sean tersenyum di tengah-tengah ciu_ man mereka.
Tangan Sean bergerak nakal mera_ ba dan mere_ mas gunung kembar Shena, membuat sang empunya tidak kuasa menahan suaranya, yang membuat Sean semakin terbakar dan semakin ingin melakukan lebih.
Sean mendorong tubuh Shena pelan hingga terlentang di atas kasur dan Sean ingin menindihnya. Namun, belum sampai itu terjadi, suara ketukan pintu mengganggu mereka.
Membuat Sean mendengus kesal, sedangkan Shena terkekeh mendengarnya. "Apa barusan kamu tertawa?" tanya Sean.
Shena menggeleng. "Tidak."
"Pergilah mandi dan gosok gigimu," kata Sean seraya beringsut turun dari kasur dan berjalan hendak membukakan pintu.
"Hey, kamu yang menciumku lebih dulu, dan kamu juga baru bangun tidur! Jangan merasa wangi, karena kamu juga bau!" kesal Shena, karena maksud dari ucapan Sean adalah dia bau? Lagi pula siapa yang memintanya untuk mencium pagi-pagi begini?
Sean tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis sambil terus melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
Shena yang merasa sudah cukup terlambat bergegas turun dari kasur, lantas pergi ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap.
BERSAMBUNG...