When Love Comes

When Love Comes
Tidak tau malu



Sesampainya Shena di kediaman Pram, dia melihat mobil mewah merah yang terparkir di depan rumah pamannya itu. Dia sangat mengenali mobil tersebut, sehingga dia tidak langsung turun.


Shena malah berdiam diri di dalam mobil sambil melirik ke halaman rumah Pram hingga beberapa lama.


Sopir pun bingung dengan Shena yang tak lekas turun dari dalam mobil. "Nyonya, apa Nyonya tidak ingin turun?" tanya sang sopir.


Shena mendongak menatap sopir dari kaca spion. "Sedang ada tamu, dan aku tidak ingin bertemu dengan tamu itu," jawab Shena, sang sopir itu pun mengangguk mengerti, dan di dalam mobil itu kembali hening karena keduanya kembali terdiam.


Shena ingin mengambil beberapa barangnya, tapi dia cukup malas bertemu dengan Samuel, maka dari itu dia tidak turun dari dalam mobil. Berharap jika Samuel akan segera kembali. Namun, tidak, sampai setengah jam berlalu, Samuel nampaknya masih betah berada di dalam rumah Pram.


Padahal, terlihat jelas jika dia hanya berdiam diri di halaman rumah Pram, tidak ada Pram ataupun Hana yang menemani, laki-laki itu benar sendirian entah menunggu siapa.


Saat Shena tengah fokus memperhatikan halaman rumah Pram dari dalam mobil, terdengar pintu belakang mobil sisi lainnya diketuk, membuat Shena spontan terkejut dan menoleh ke sumber suara.


Belum dia melihat siapa yang mengetuk, pintu belakang sudah terbuka dan masuklah Sean. "Sean?" gumam Shena kebingungan.


Sean duduk di samping Shena. "Kamu katanya mau mengambil barang, kenapa masih di sini?" tanya Sean, wajahnya terlihat sangat tidak enak dilihat karena terdapat emosi di raut wajahnya.


Sangat berbeda dengan Sean yang biasa. "Memang, tapi ...." Shena menoleh ke arah yang sejak tadi dia lihat, dan Sean pun mengikuti arah pandangannya.


Terlihat Samuel tengah duduk seorang diri di kursi, dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya yang ditekuk. Shena kembali menoleh menghadap Sean. "Aku tidak mau bertemu dengannya, dan aku sedang menunggu dia pergi. Tapi sudah setengah jam berlalu, dia masih belum pergi juga," ujar Shena menjelaskan.


Sean masih memperhatikan Samuel dari dalam mobil, kemudian dia mendengus kesal. "Dia tidak akan pergi, apa barang-barang yang ingin kamu ambil sangat penting?" tanya Sean. Maksudnya jika memang tidak begitu penting, mereka bisa mengambilnya di lain waktu.


Setelah kejadian di rumah utama, Sean juga cukup malas untuk bertemu atau berdebat dengan Samuel. Di mata Sean Samuel sangatlah keterlaluan, karena memintanya melepaskan Shena lewat Ronald.


Padahal Samuel sangat mengerti jika Sean adalah laki-laki yang berprinsip dan sangat berpegang teguh pada prinsipnya.


"Ya, ada beberapa yang penting dan ada beberapa yang biasa saja." Shena menjawab dengan memperhatikan Sean yang benar-benar terlihat berubah. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sean di rumah utama? Mengapa wajah dan nada bicaranya terlihat cuek juga sangat dingin.


"Ayok turun! Aku antar kamu ambil barang, ini sudah malam dan jika terus menunggunya entah sampai kapan." Sean segera turun dari dalam mobil, dengan terpaksa mereka harus berhadapan dengan Samuel.


Shena terkejut dan masih mencerna ucapannya. Namun, beberapa detik kemudian Shena pun turun dari dalam mobil, dan menghampiri Sean. "Sean, aku ...." Belum sempat Shena mengatakan sesuatu, Sean langsung menggenggam tangannya dan membawa dia masuk ke kediaman Pram.


Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertaut. Samuel mendongak begitu mendengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekat, dia hampir saja mengulas senyum, tapi begitu dia melihat Shena datang bersama Sean, wajahnya berubah masam.


Begitu juga dengan Sean, sejak pulang dari rumah utama, suasana hati Sean sangat buruk. Ditambah dia melihat Samuel di sini yang sepertinya sedang menunggu Shena.


"Samuel, mengapa kamu ada di sini? Siapa yang kamu tunggu?" tanya Sean sedikit menyindir.


"Shena," panggil Samuel, dia tersenyum sangat manis, tapi saat matanya menatap serangkaian jejak merah di leher seputih salju wanita itu, matanya membulat dan wajahnya seketika memucat.


Sean yang menyadari perubahan wajah Samuel mengikuti arah pandangnya, dan seketika dia pun tersenyum saat tau ke mana arah pandangan adiknya itu.


"Shena, ayok masuk! Katanya kamu mau ambil barang-barang kamu yang tertinggal," ajak Sean. Dia menarik Shena ke pintu, dan menekan bel di samping pintu tersebut.


Tak berselang lama, pintu itu pun dibuka dari dalam oleh asisten rumah tangga di rumah tersebut. "Nona Shena," kata asisten rumah tangga itu.


"Bi Na, apa paman dan tante ada?" tanya Shena, dan hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam, tapi suara Samuel menghentikan langkahnya.


"Shena, aku ingin bicara denganmu, tolong beri aku waktu," katanya.


Sean menoleh ke belakang melihat Samuel sambil mengernyit, benar dugaannya. Samuel di sini tidak ingin bertemu dengan Hana, tapi memang sedang menunggu Shena. Jika memang Hana yang ingin dia temui, mengapa dia malah berdiam diri saja dari tadi?


"Hanya berdua," sambung Samuel kemudian saat mendapatkan tatapan Sean.


"Tidak! Aku tidak mengijinkan istriku bicara berdua dengan laki-laki lain, jika kamu memang ingin mengatakan sesuatu, maka katakan saja di sini!" kata Sean menolak Samuel.


"Aku tidak bicara dengan kakak, aku bicara dengan Shena," ketus Samuel.


"Tapi dia istriku."


"Dia adalah kekasihku, dan kami saling mencintai," ucap Samuel tidak mau kalah.


Shena merasa sakit kepala mendengar perdebatan dua kakak beradik itu, dia pun menoleh pada asisten rumah tangga dan memberikan isyarat untuk pergi. Bi Na mengangguk mengerti, dia pun pamit.


"Kalian diam-lah!" bentak Shena, dia menatap nyalang pada dua kakak beradik itu, kemudian kembali berkata, "Apa kalian tidak malu bertengkar terus seperti ini? Bagaimana jika didengar oleh orang lain? Kalian kakak beradik, kan?"


Sean dan Samuel terdiam karena bentakan Shena. "Samuel, kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi saat ini. Dan lagi, aku sudah tidak mencintaimu, kenapa kamu masih bahas masalah lalu?" kata Shena pada Samuel dengan dahi mengkerut.


Shena benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Samuel pikirkan, mereka masih saling mencintai? Dan lagi apa katanya? Sepasang kekasih? Apakah Samuel bermimpi atau bagaimana?


"Shena, bukankah sudah kukatakan padamu jika aku tidak ingin putus? Juga aku masih sangat mencintaimu, tolong beri aku kesempatan. Kamu tenang saja, aku akan menerima kondisimu yang nanti akan menjadi mantan istri kakakku," ucap Samuel membuat Sean geram.


"Samuel apa kamu gila?!" teriak Sean yang sudah tidak tahan dengan omong kosong adiknya itu.


BERSAMBUNG...