
"Ada apa?" tanya Sean dengan suara dingin saat melihat jika Andre yang mengetuk dan mengganggu dia tadi.
Andre yang mendengar nada suara Sean seperti menahan kesal langsung menunduk. "Tadi Pak Ronald mengatakan, jika Tuan tidak perlu pergi bekerja ke KC Corp, karena Tuan sudah dipecat," kata Andre.
Sean tersenyum tipis, dia pun sempat menebak hal seperti ini pasti akan terjadi, dan ternyata benar saja. Ronald nampaknya benar-benar ingin dia merasa kesulitan.
"Biarkan saja, jika dia memecatku, maka biarkan saja," jawab Sean enteng, dia juga sudah tidak peduli dengan KC Corp, karena perusahannya saja sudah banyak di luar sana.
Sean bekerja di KC Corp hanya karena ingin menyelediki masalalu Ronald, tapi bahkan ternyata Ronald sudah mengetahui soal itu. Jadi, sudah tidak ada gunanya lagi Sean bertahan di sana, lagi pula Reno yang diduga adalah pamannya itu sudah menghilang dan belum ada kabar lagi.
Andre mengangguk dan masih belum pergi. "Jika ada lagi yang ingin kamu katakan, maka katakan saja!" ucap Sean, saat melihat ekpresi Andre yang seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak berani.
"Tadi juga Pak Ronald mengatakan jika malam ini mungkin beliau akan berkunjung ke sini bersama nona Clara, dan ...."
Sean mengernyit saat Andre tidak melanjutkan ucapannya. "Dan apa? Apa kamu tidak bisa mengatakan dengan benar dan jelas?" ketus Sean.
"Dan nona Rina," sambung Andre, Sean cukup terkejut mendengarnya, tapi sedetik kemudian dia mengubah ekspresinya menjadi tenang seperti sebelumnya.
"Biarkan mereka berkunjung, mungkin mereka ingin mengenal Shena, juga tidak ada yang salah dengan itu," sahut Sean berusaha setenang mungkin, meskipun dia sedikit merasa bingung.
Bukan karena kedatangan Ronald atau sepupunya Clara, tapi kedatangan Rina-lah yang membuatnya bingung. Bagaimana wanita itu bisa ada di sini? Bukankah sebelumnya dia ada di negara K?
Sean menyunggingkan senyumnya, dia sangat yakin jika ini adalah rencana Ronald atau mungkin Samuel. Mereka tau jika Rina dan Sean cukup dekat. Rina adalah anak dari kerabat dekat keluarga besar Grace, yang kebetulan pernah satu proyek dengan Sean saat di negara K dulu, sehingga membuat keduanya jadi sering bertemu.
Mereka terlihat sangat dekat di mata orang, sehingga keduanya pun sempat dijodoh-jodohkan oleh dua keluarga besar mereka, tapi Sean yang memang tidak mempunyai perasaan apa pun hanya mengabaikan semua itu, dan lagi, Grace juga tidak menanggapi perjodohan yang dua keluarga itu lakukan.
Meskipun Grace sangat ingin Sean secepatnya menikah, tapi dia tidak pernah menanggapi serius perjodohan itu. Mungkin karena dia sudah memiliki niatan untuk menjodohkan Sean dengan anak dari Mira, yaitu Shena.
"Apa Tuan, benar-benar yakin ingin menerima mereka berkunjung?" tanya Andre bingung, jika hanya keluarga besar Kendrick (keluarga dari Ronald) atau hanya keluarga besar Grace, mungkin Andre tidak akan bingung.
Akan tetapi, Ronald juga mengajak Rina, Andre menjadi asisten pribadi Sean sudah cukup lama, dan dia sangat tau betul bagaimana tingkah Rina pada Sean. Meski Tuan-nya itu tidak pernah menanggapi, tapi tetap saja saat ini situasinya berbeda, karena sekarang ada Shena di sampingnya.
Sean menatapnya aneh. "Jika tidak?" sahut Sean enteng.
Andre mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Apa Nyonya, tidak akan kenapa-kenapa? Maksud saya adalah ...."
"Dia tidak akan kenapa-kenapa, lagi pula tidak ada yang perlu dikawatirkan dengan itu. Aku yakin ini adalah rencana kedua orang itu, maka biarkan saja mereka melakukan rencananya," sela Sean, dan bertepatan dengan itu Shena keluar dari dalam kamar dengan tubuh yang sudah rapi.
Andre menatap Shena dan spontan Andre langsung menyapa sambil sedikit membungkuk dan tersenyum. "Selamat pagi Nyonya."
Shena tersenyum. "Pagi," sahutnya dengan ramah.
Sean menoleh menatap Shena dari atas sampai bawah, hari ini Shena memakai rok ketat hitam se-atas lutut, dan blouse berwarna maroon dengan tali yang sudah diikat rapi berbentuk pita di lehernya.
Shena menunduk untuk memeriksa pakaiannya, karena mungkin saja ada yang salah. "Aku rasa tidak ada yang salah dengan pakaianku, aku juga selalu seperti ini, dan kata teman-temanku aku cantik," gumam Shena saat merasa tidak ada yang salah dengan pakaiannya.
Sean merengut, bukan karena Shena tidak terlihat pantas. Justru dia terlihat sangat cantik dan pas dengan pakaian seperti itu. Hanya saja blouse itu terlihat sedikit tipis dan pasti akan menerawang jika terkena sinar matahari, belum lagi rok yang super pendek dan ketat.
Itu benar-benar terlihat sangat seksi, apalagi dengan tubuh Shena yang seputih salju, akan membuat dia semakin terlihat menawan juga sangat menarik untuk dipandang, dan pasti banyak juga laki-laki berpikiran sama seperti Sean.
Sean tentu saja tidak menyukainya, karena menurutnya, hanya dia yang boleh menikmati keindahan tubuh Shena. "Gantilah dengan yang lebih sopan, kamu bisa memakai celana panjang dan sweater panjang," kata Sean terdengar posesif.
"Apa? Sweater?" pekik Shena. Dia mungkin setuju dengan usul Sean tentang memakai celana panjang, tapi jika sweater? No, bahkan tidak akan ada temannya yang ingin memakai sweater di hari yang panas ini. Juga, itu akan terlihat sangat aneh, bukan?
"Ya, itu akan terlihat lebih sopan," sahut Sean enteng.
"Sean, memang benar itu sopan, tapi aku ingin pergi ke kantor, bukan jalan-jalan," protes Shena. Pakai sweater ke kantor? Lebih baik Shena terjun saja ke kolam renang.
"Kalau begitu tidak usah pergi bekerja!"
Andre yang mendengar tuan-nya seperti sedang cemburu dan posesif hanya tersenyum tipis, akhirnya dia bisa melihat bongkahan es itu sedikit mencair karena Shena.
Andre tidak ingin mengganggu kedua majikannya itu. "Tuan, kalau begitu saya tunggu Anda di bawah," pamitnya, yang langsung dijawab anggukan oleh Sean dan Shena.
Shena kembali melanjutkan ucapannya. "Apa maksudmu tidak bekerja?" tunjuk Shena, dan tiba-tiba dia teringat jika Sean pernah pergi bersama dengan Ferry. "Apa kamu benar-benar mengenal pak Ferry?" sambungnya bertanya.
"Iya, dia temanku," jawab Sean.
"Meskipun kalian berteman, tapi tetap saja aku tidak bisa seenaknya tidak masuk kerja. Dan soal pakaian ini, aku tidak mau ganti ke sweater, nanti mereka akan menertawakanku karena itu benar-benar aneh. Sudahlah, aku harus pergi," kata Shena dan hendak melangkah pergi. Namun, Sean mencekal pergelangan tangannya.
"Ganti dulu pakaianmu, kamu ini wanita yang sudah menikah, bisakah pakai pakaian yang lebih sopan?"
"Sean, kamu memang benar, tapi sweater? Dan, meskipun aku sudah menikah, tapi aku ini tetap saja seorang wanita yang suka dengan pakaian atau sesuatu yang indah. Sudahlah, jangan mengajakku berdebat kali ini." Shena benar-benar merasa kesal dengan Sean yang terlalu banyak mengatur.
Sean menghela napas berat, dia menyadari jika pernikahan keduanya terhitung baru seumur jagung. Jadi, wajar saja jika Shena masih belum bisa menurut padanya. "Baiklah, aku akan antar kamu," katanya.
Shena mengernyit. "Kamu kan belum mandi."
"Kamu tunggulah di bawah, atau sarapan dulu, sedangkan aku akan mandi dan bersiap," titah Sean, Shena pun akhirnya terpaksa menurut.
"Jangan lama-lama, aku akan sangat terlambat nanti," pesan Shena sebelum dia menuruni tangga.
"Tenang saja, paling hanya lima belas menit."
BERSAMBUNG...