When Love Comes

When Love Comes
bab 43. Kamu tidak ingin memiliki anak denganku?



Shena kebingungan, dia menuangkan semua obat-obatan itu hingga berserakan di atas kasur. Sean memperhatikan itu dengan wajah yang terlihat gelap karena aura kemarahan yang keluar dari tubuhnya.


Sean mematikan puntung rokok yang tinggal sedikit, kemudian menenggak wine yang ada di atas meja hingga tandas. Lantas, dia pun beranjak dan menghampiri Shena.


"Ada apa? Apa yang kamu cari? Apa ada yang hilang?" tanya Sean, meskipun suaranya biasa saja, tapi terdengar seperti ada kemarahan dengan nada suaranya.


Shena yang semula fokus mencari pil KB mendongak menatap Sean. "Obat pereda nyeriku hilang, yang tad ...."


"Aku yang membuangnya!" kata Sean memotong ucapan Shena yang belum selesai. Dia terlalu emosi, sehingga langsung memotong ucapan Shena yang ketahuan berbohong.


"Apa? Buang? Tapi kenapa? Sean, kamu tau kan itu obat apa, kenapa kamu buang?!" Shena beranjak dari kasur dan berdiri di hadapan Sean.


"Justru karena aku tau itu obat apa, maka dari itu aku membuangnya!" bentak Sean dengan suara tinggi, Shena terkejut, matanya membulat tidak percaya.


Sean menghela napas berat, tangannya terkepal karena amarah. Dia memejamkan mata untuk meredakan emosi, sebelum akhirnya berkata, "Shena, aku hanya ingin bertanya padamu satu hal, kenapa kamu ingin menunda kehamilan?"


"M–maksudmu?" Shena terlihat sedikit panik. Pikirnya, apakah Sean benar-benar mengetahui jika itu adalah pil KB? Namun, tidak mungkin, karena tadi bukankah Sean sudah percaya jika itu adalah pereda nyeri?


"Shena, kamu tidak usah pura-pura lagi! Apa menurutmu aku tidak akan mampu menjaga dirimu dan seorang anak?!" Suara Sean terdengar seperti keluar dari celah giginya karena benar-benar geram.


Ternyata Sean benar-benar mengetahui jika itu bukanlah obat pereda nyeri, melainkan pil KB yang sengaja Shena minta ketika di ruang pemeriksaan tadi.


"Shena, apa kamu benar-benar tidak ingin memiliki anak dariku?" tanya Sean lagi, matanya sudah gelap tertutup kabut emosi, dan tatapan itu seperti dia ingin menelan habis wanita di depannya.


"Tapi apa? Sudah jelas jika kamu tidak mau memiliki anak denganku, sehingga kamu meminta, kak Melodi memberikanmu pil KB, iya kan?" bentak Sean.


Awalnya Sean juga tidak tau jika pil itu adalah pil KB, saat Shena mandi tadi. Sean yang khawatir padanya langsung menghubungi Melodi dan bertanya.


Apakah benar-benar tidak apa-apa dengan haid yang nyeri, jika hanya dengan meminum pil tersebut? Melodi yang tidak tau menahu pun jujur jika itu adalah pil KB yang Shena minta tadi.


Mendengar itu Sean merasa marah, dia langsung mengambil pil KB tersebut, membuka satu persatu, kemudian membuangnya ke closet kamar mandi yang ada di kamar sebelah.


Setelah membuang semua isinya, guna untuk menghilangkan emosi yang dia rasakan, Sean mandi dan merokok. Namun, saat melihat Shena begitu ingin meminum pil itu, emosi Sean kembali memuncak.


"Sean, tidak seperti itu, aku ingin menunda karena aku merasa jika kita belum siap untuk memiliki anak," ujar Shena.


"Kata siapa kita belum siap? Shena, kita sudah dewasa, apa yang membuatmu berpikir jika kita belum siap memiliki anak?!" Sean benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Shena, mereka sudah cukup umur untuk memiliki anak, tapi Shena malah ingin menundanya?


"Karena pernikahan kita masih baru Sean, tentu saja kita butuh waktu untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain, 'kan? Agar ke depannya kita bisa lebih nyaman dan setelah itu barulah kita program."


Sean mendengus mendengar ucapan Shena. "Alasan!" ucapnya dingin.


BERSAMBUNG...