
"Kamu yang gila! Kamu dan mamah merebut kekasihku, dan kamu nikahi dia. Apa kamu pikir orang sehat akan melakukan itu? Dan apa ada seorang ibu yang akan melakukan ini pada anaknya?!" kata Samuel dengan menatap nyalang Sean.
Bughh
Sean yang sudah sangat kesal dan emosi dengan pikiran yang berkecamuk, tidak kuat lagi menahan emosinya. Dia pun langsung melayangkan satu bo_ gem mentah dengan kencang pada hidung adiknya itu, sehingga Samuel terhuyung dan jatuh ke lantai dengan da_ rah keluar dari hidung Samuel.
"Samuel!" pekik Shena tanpa sadar saat melihat Samuel terjatuh dengan da_ rah keluar dari hidungnya, Shena pun bergegas maju mendekati Samuel.
"Ayok bangun!" kata Shena, dia mengulurkan tangannya agar Samuel bangkit dengan bantuan tangannya.
Hal itu tentu saja membuat Sean geram dan kembali salah paham pada Shena, sedangkan Samuel besar kepala karena itu. Samuel bangkit dari jatuhnya dengan dibantu oleh Shena sambil menatap Sean.
Sementara Sean hanya bisa mengepalkan tangan ketika melihat itu semua, napas Sean naik turun, hatinya sangat marah melihat Shena yang terang-terangan membantu Samuel tepat di depan matanya itu.
Suara teriakan Shena tadi terdengar sampai ke dalam. Membuat Pram, Gita dan Hana pun bergegas pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Shena?" gumam Pram seraya berjalan mendekati Shena, Sean, dan Samuel. Sean yang sudah kesal dan terlalu banyak pikiran berdecih melirik istrinya itu, kemudian pergi dari sana.
Shena melihat itu dan menghentikan langkah Sean. "Sean, kamu mau ke mana?" tanya Shena, tapi tangannya tanpa sadar masih memegang Samuel yang kebetulan sudah berdiri dengan tegak itu.
Sean tidak menjawab, matanya terkunci pada tangan yang masih berpegangan itu, lantas berlalu pergi tanpa mengindahkan Shena lagi.
"Sean!" panggil Shena, tapi Sean bukannya berhenti malah semakin mempercepat langkahnya.
"Lepaskan tangan Samuel!" Hana melepaskan tangan Samuel yang masih memegang Shena, dan itu membuat Shena tersadar.
"Maaf, tadi aku hanya ingin membantunya," terang Shena, tapi Hana tidak percaya, dia hanya berdecak sambil melirik Samuel yang terluka.
Hana mengulurkan tangannya ingin menyentuh hidung Samuel. Namun, sebelum itu Samuel sudah lebih dulu menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku!" gertak Samuel pada Hana.
"Aku hanya ingin melihat lukamu saja, apa kita harus ke Dokter? Karena lukamu sepertinya cukup parah, atau kamu tunggu di sini dulu, aku akan ambilkan kotak p3k untukmu," kata Hana, dan ingin melangkahkan kakinya kembali ke dalam rumah.
"Tidak perlu!" tolak Samuel dengan nada suara acuh tak acuh juga penuh penekanan.
"Tapi lukamu ...."
"Aku tidak apa-apa, ini tidak sakit sama sekali," sela Samuel seraya menatap Shena yang tengah melamun menatap kepergian Sean.
Shena tidak fokus dan tidak mendengarkan obrolan itu, karena dia tengah menatap keluar rumah, memperhatikan Sean yang naik mobil dan pergi dengan mobilnya sendiri.
"Shena, aku tau kamu pasti masih mencintaiku, terima kasih karena kamu membuktikan itu di hadapan kakak, dengan begitu dia tidak akan pernah mengganggu kita," ucap Samuel benar-benar tidak tau malu.
Shena yang semula tengah fokus pada Sean, langsung memutar kepalanya dan menatap Samuel dengan tatapan mengejek. "Jangan salah paham dan jangan terlalu percaya diri! aku membantumu karena suamiku yang memukulmu, bisa dikatakan itu sebagai rasa bertanggung jawab saja," sahut Shena.
Dia merasa tidak enak hati pada paman dan bibinya, karena kedatangannya malah membuat gaduh di rumah itu. Pram tersenyum dan mengangguk, dia sedikitnya bisa menebak apa yang terjadi.
Sean adalah orang yang pintar, dia pasti bisa mengontrol suasana hatinya dan tidak akan mudah terpancing emosi. Kecuali jika itu sudah sangat keterlaluan, dan tebakan Pram memang benar. "Yasudah, kita kemasi barang-barang kamu lebih dulu, dan cepatlah susul suamimu pulang," kata Pram.
Lalu, Shena pun dibawa oleh Pram dan Gita ke dalam rumah, meninggalkan Samuel dan Hana. Samuel ingin mengejar Shena, tapi Hana kembali menahannya.
"Samuel, kapan kamu datang? Dan kenapa bisa seperti ini?" tanya Hana, dia memegang tangan Samuel dengan lembut seperti biasanya.
"Lepaskan tanganku Hana! Aku datang kapan, dan kenapa bisa seperti ini, itu sama sekali bukan urusanmu!"
Hana kesal, dia pun akhirnya mencibir. "Lalu, kamu mau apa? Mau mengejar Shena? kamu jangan mimpi! Dia kini adalah kakak iparmu, ingat itu Samuel!"
Samuel melotot. "Diam! Sudah kukatakan padamu jika itu bukan urusanmu!" bentak Samuel.
"Tentu saja ini menjadi urusanku, karena aku ini adalah calon istrimu, dan juga tengah mengandung anakmu, jangan lupa soal itu!"
Samuel mengernyit heran mendengar ucapan Hana. "Hah? Calon istri? Apa kamu bermimpi?!" tanyanya.
Hana langsung menggeleng. "Tidak, aku tidak bermimpi, bahkan ibumu tadi sore menelponku, dan mengatakan jika akan mengantarkan lamaran padaku," jawab Hana membuat Samuel terkejut.
Dia menatap dalam Hana, mencoba menelisik mata itu untuk mencari kebohongan, tapi Hana memang tidak berbohong. Tadi sore Grace memang menghubunginya, dan mengatakan akan mengantarkan lamaran.
Awalnya Hana juga tidak percaya, karena di pemberkatan tadi, Grace sedikit acuh tak acuh padanya, tapi siapa sangka jika Grace memang mengatakan itu.
Samuel masih tidak percaya, matanya masih menatap penuh curiga pada Hana. "Tidak mungkin!" gumamnya.
Hana mengerutkan keningnya. "Apa kamu tidak percaya? Kalau begitu kenapa kamu tidak tanyakan langsung saja pada ibumu?" tantang Hana dengan senyuman penuh kemenangan begitu melihat wajah bingung Samuel.
Samuel ingin mengatakan tidak mungkin sekali lagi, tapi bibirnya mendadak kelu. "Mama, dia tidak ...." Samuel benar-benar kehilangan kata-katanya.
Jika memang apa yang Hana katakan itu benar, itu berarti Grace berada dipihak Sean, dan jika begitu, berarti kesempatannya untuk mendapatkan Shena kembali sangat tipis tanpa bantuan Grace dan Ronald bersama.
Samuel terdiam cukup lama, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana dan ingin kembali ke rumah utama untuk menanyakan pada Grace secara langsung.
Hana bingung kenapa Samuel langsung pergi. "Samuel? Kamu mau ke mana? Jadi, kapan kamu akan melamarku?" Hana bertanya sedikit berteriak agar terdengar oleh Samuel.
Samuel menghentikan gerakan tubuhnya yang ingin masuk ke dalam mobil, dia melirik pada Hana. "Jangan mimpi!" sahut Samuel, kemudian dia pun masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya.
Hana merengut, wajahnya merah padam menahan emosi, rasa benci pada Shena semakin besar. "Dasar wanita murahan! kenapa sih kamu selalu unggul dari pada aku? Padahal kamu itu hanyalah wanita murahan!" gerutu Hana dengan kesal.
BERSAMBUNG...