
Di rumah utama.
Ronald duduk dengan kesal sambil menatap Grace, sedangkan Grace sudah menundukkan kepalanya menatap ke bawah lantai.
"Kenapa kamu begitu kejam pada Samuel? Dia juga anakmu!" bentak Ronald.
"Aku sama sekali tidak tau jika Samuel pernah memiliki hubungan dengan Shena, lagi pula saat aku datang membawa lamaran pada Shena, hubungan mereka sudah berakhir. Lalu, salahku di mana?" kata Grace, meskipun dia juga merasa kasian dengan Samuel yang terluka karena pernikahan Sean dan Shena. Namun, Grace tidak ingin membatalkan atau mengakhiri pernikahan itu.
Sebab, menurut Grace tidak ada yang salah dengan itu, hubungan Samuel dan Shena benar-benar sudah berakhir sebelum dia mendatangi Shena. Walaupun hanya semalam, tapi itu sudah membuktikan jika bukan dia yang membuat hubungan itu kandas.
Lagi pula, Hana sudah mengkonfirmasi soal ini, dan keadaannya memang seperti itu. "Kamu memang selalu pilih kasih antara Sean dengan Samuel," geram Ronald dengan giginya bergemulutuk menahan kesal.
"Aku tidak pernah pilih kasih pada mereka berdua, karena keduanya adalah anak kandungku. Dan lagi, apa kamu tidak berkaca? Bukankah kamu yang seperti itu?"
"Kamu jangan lupa soal ...." Ronald mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Grace, dia masih ingin marah pada istrinya itu. Namun, suara deru mesin mobil membuat dia mau tidak mau menahannya.
Ronald kembali diam dengan pandangan menatap ke arah pintu, lalu tak berselang lama Sean datang dengan pakaian santainya. "Sean, kamu kenapa ke sini, Nak? kamu datang sendiri atau ...."
"Aku ke sini karena dipanggil Papa, aku juga datang sendiri, Shena tidak ikut."
Tadi di gereja, begitu mendengar apa yang terjadi antara Samuel juga Shena sebelumnya, dan melihat waja sedih Samuel membuat Ronald merasa marah.
Dia pun langsung memanggil Sean, tapi anak sulungnya tidak bisa dihubungi. Jadi, dia pun memutuskan untuk menghubungi anak buahnya itu. Dia memanggil Sean niatnya ingin bicara dengan baik pada Sean agar dia mau mengalah pada Samuel.
"Sean, ikut aku ke ruang kerja!" kata Ronald pada Sean sambil beranjak pergi ke ruang kerja.
Grace dan Sean sedikitnya bisa menebak ke mana arah pembicaraan yang akan Ronald bahas, maka dari itu Sean hanya bisa tersenyum menyeringai. Lalu dia pun mengikuti Ronald dari belakang.
Grace menghentikan langkah Sean. "Sean, kamu jangan ...."
Sean menoleh dan tersenyum sangat manis pada Grace. "Mama tenang saja, aku tidak sebodoh itu, dan aku juga bukan laki-laki yang tidak berprinsip," ujar Sean menenangkan sang ibu.
"Ada apa, Pa?"
"Sean, lepaskan Shena untuk Samuel, karena dia adalah adikmu, Samuel dan Shena juga adalah sepasang kekasih," kata Ronald tanpa basa-basi dan langsung pada inti.
Sean terkekeh mendengar perkataan sang ayah, sangat tepat dengan apa yang dia pikirkan. "Pa, Shena dan Samuel sudah berakhir jauh sebelum aku menikah dengannya. Jadi tidak ada yang salah dengan pernikahanku dengan Shena," sahut Sean tanpa takut, bahkan dia sudah menatap berani pada Ronald.
"Tapi Samuel masih mencintai wanita itu, kamu sebagai kakak apa pantas melakukan ini pada adikmu?"
Sean terdiam dengan wajah suram menatap Ronald. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang salah antara hubungannya dengan Ronald selama ini.
Mengapa Ronald selalu memperlakukannya seperti bukan seorang anak, Ronald juga sering berbuat tidak adil dan sering membedakan antara Samuel dan Sean. Bahkan lebih parahnya, Sean selalu dipaksa mengalah untuk Samuel.
"Dan apa Papa merasa pantas melakukan ini padaku? Aku ini juga anakmu, 'kan? Tapi kenapa kamu selalu memperlakukan aku seperti parasit? Samuel dan Shena sudah berakhir, dan aku sudah menikah dengannya. Lalu, Papa ingin aku meninggalkan Shena agar dia bisa kembali pada Samuel? Itu tidak mungkin!" tegas Sean.
"Sean, kamu itu kakaknya, apa sulitnya mengalah untuk adikmu!"
"Jika dia meminta uangku, hartaku, atau apa pun yang berharga lainnya, tentu saja akan aku berikan. Namun, jika dia meminta istriku, aku tidak akan pernah menurutinya," ujar Sean dengan suara tak kalah nyaringnya dengan Ronald.
Ini bukan kali pertamanya Sean dan Ronald beradu argumen, tapi mungkin kali ini adalah yang cukup rumit karena di tengah-tengahnya ada Shena.
Ronald terlihat menyunggingkan senyumnya, sangat jelas jika senyuman itu mengandung ejekan juga penuh arti.
"Sean, bukankah kamu sedang menyelidiki seseorang bernama Reno?"
Mendengar pertanyaan Ronald membuat Sean terdiam dan bergeming.
"Aku bisa beritahu sedikit tentangnya, asal kamu mau menurut padaku," kata Ronald lagi, dia benar-benar merasa puas dengan ekpresi Sean.
BERSAMBUNG...