
Di tempat lain.
Sean yang baru saja pulang dari fitting baju pengantin, membeli cincin dan mengurus buku nikah langsung dihampiri oleh Grace. "Gimana sayang? Kamu sudah mengurus di kantor catatan sipil, bukan?" tanya Grace antusias.
"Iya Ma, kami juga sudah mendapatkan akta nikah," jawab Sean seraya mendudukkan tubuhnya di sofa di hadapan ayahnya yang masih fokus membaca koran itu.
Ronald Kendrick memang terlihat acuh tak acuh pada Sean, bahkan saat mendengar jika anak sulungnya itu akan menikah saja dia terlihat biasa saja. Seolah tidak ada hal bahagia yang akan terjadi pada keluarga besar Kendrick.
Padahal, keluarga Kendrick yang lain, seperti paman dan bibi Sean, sangat menunggu kabar bahagia itu. Namun, hanya Ronald saja yang tidak peduli. Sean melirik pada ayahnya dengan tatapan sulit diartikan.
Melihat itu buru-buru Grace duduk di samping Sean. "Kalian terlihat sangat serasi sekali di foto, mama tidak sabar melihat kalian di pemberkatan besok!" puji Grace membuat Sean langsung menoleh padanya.
"Coba tunjukkan akta nikah kalian, mama mau lihat," kata Grace sambil mengadahkan kedua tangannya.
Sean terkekeh seraya mengeluarkan buku nikah dirinya dan Shena, kemudian menunjukkannya pada Grace. Grace yang tidak sabar langsung mengambil buku nikah tersebut dan membacanya dengan saksama.
"Ah, ternyata gadis itu sudah sah menjadi menantu mama, dan sudah sah menjadi bagian dari keluarga Kendrick," ucap Grace dengan senang bahkan suaranya terdengar memekik.
Sean juga tersenyum saat melihat wajah bahagia mamanya, meskipun dia belum bisa menerima Shena sepenuh hati, tapi jika dengan pernikahan ini dia bisa membahagiakan mamanya, maka Sean akan berusaha sebisa mungkin membahagiakan Shena dan mempertahankan pernikahan tersebut.
Saat mereka tengah mengobrol, suara vas bunga yang terbanting dan pecah membuat mereka semua menoleh ke sumber suara. "Samuel!" pekik Grace saat melihat Samuel berjalan ke arah mereka dengan terhuyung-huyung sehingga menabrak dan menjatuhkan vas bunga yang ada di ruang tamu.
Grace sedikit berlari menghampiri anak keduanya itu diikuti oleh Sean dan Ronald. "Samuel, kamu kenapa Nak?" tanya Grace panik, dia menelisik wajah Samuel yang terlihat pucat dan penuh dengan bulir keringat di keningnya itu.
Samuel menoleh menatap anggota keluarganya kemudian menggeleng. "Tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit pusing," kata Samuel, matanya pun akhirnya jatuh pada Sean.
"Kakak ada di sini juga?" tanya Samuel pada Sean.
"Ya, aku sudah dua hari pulang," jawab Sean sambil tersenyum.
"Kenapa tidak mengabariku agar aku bisa ikut pulang dan kita berkumpul?" Samuel sedikit kesal karena Sean tidak memberitahunya soal kedatangannya ke rumah utama. Dia dan Sean memang jarang sekali tinggal di kediaman Kendrick, keduanya mempunyai tempat tinggal sendiri. Hanya di hari libur atau hari tertentu saja mereka akan pulang dan berkumpul.
"Aku terlalu sibuk sampai lupa untuk memberitahumu," kata Sean, dia kembali melangkahkan kakinya ke ruang tamu, dan Samuel mengikutinya dari belakang.
"Sibuk apa? Apa yang sebegitu sibuknya sampai-sampai lupa padaku?" sungut Samuel, bibirnya sudah maju beberapa centi untuk menjelaskan jika dirinya sedikit marah.
Grace dan Ronald hanya bisa saling melirik melihat Samuel dan Sean yang terlalu asik mengobrol sampai melupakan mereka. Grace yang semula khawatir dengan wajah Samuel yang tadi pucat kini merasa sedikit lega.
Dia mengikuti kedua anaknya ke ruang tamu. "Kakakmu sedang sibuk mengurus pernikahan," ujar Grace.
Samuel menoleh pada Sean dengan dahi mengkerut. "Kakak akan menikah? kamu benar akan menikah?" tanya Samuel.
"Ya, bahkan aku sudah mendapatkan akta nikah, besok tinggal pemberkatan saja," jawab Sean.
"Besok?" Ulang Samuel bertanya dan Sean langsung mengangguk.
Samuel ikut mengangguk kemudian tersenyum. "Akhirnya aku punya kakak ipar juga," ucap Samuel senang, meskipun dia dan Sean tidak terlalu dekat. Namun, Samuel mempunyai kesan baik soal Sean.
"Tapi kapan semua itu terjadi? kenapa tidak mengabariku? Bagaimana jika hari ini aku tidak pulang? Bukankah aku akan ketinggalan berita sebesar ini?" tanya Samuel kembali, dia sampai sedikit lupa masalah Shena karena terlalu penasaran dengan kakaknya itu.
Sebab, seingat dirinya, Sean tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. "Semua terlalu cepat dan mendadak," jawab Sean. Dia tidak mengatakan perjodohan, karena menurutnya itu tidak penting untuk diceritakan, yang terpenting sekarang adalah dia sudah menikah dengan Shena.
Samuel mengangguk, dia berpikir sedikit kotor, dia mengira jika mungkin saja kakaknya dan calok kakak iparnya itu sudah melakukan hal itu, sehingga wanita itu hamil dan mereka diharuskan menikah secepat mungkin untuk menutupi itu.
"Tapi kamu atau Mama seharusnya tetap memberitahuku, ini tidak adil!" kata Samuel.
Grace terkekeh. "Jangan marah, mama memang akan mengabarimu, tapi mama berpikir jika akan mengabarimu nanti saat akan pemberkatan," kata Grace. Samuel mengangguk sambil menatap Ronald yang kembali membaca koran itu. Terlihat sangat enggan ikut campur dengan pernikahan Sean.
"Pa, aku ada masalah, bisakah Papa membantuku?" tanya Samuel pada Ronald.
Walaupun Samuel sudah dewasa, tapi karena sejak kecil dia selalu dimanja oleh Ronald, dia memiliki sifat selalu ingin menjadi nomor satu dan selalu ingin mendapatkan apa yang dia inginkan. Sebenarnya sifatnya hampir sama dengan Sean, karena Sean juga memiliki sifat yang seperti itu, yang membedakannya adalah.
Sean melakukan dengan baik dan melakukannya seorang diri tanpa bantuan siapa pun, sedangkan Samuel, dia selalu menghalalkan segala cara agar rencananya tercapai, tak terkecuali dengan bantuan Ronald.
Ronald memang terlalu memanjakan Samuel, bahkan tak jarang terkadang dia membedakan antara Sean dan Samuel, sejak kecil Ronald seperti enggan pada Sean.
Sean pun menyadari itu, tapi dia tidak pernah membantah dan selalu diam, meskipun dia juga terkadang bertanya-tanya dengan keengganan ayahnya itu, tapi Sean sedikit bersyukur, karena dengan demikian, dia bisa mandiri dan bisa melakukan apa pun seorang diri.
Bahkan sampai dia bisa diam-diam membangun beberapa perusahaan sehingga terkenal dan besar tanpa bantuan ayahnya. Tidak seperti Samuel yang selalu mengandalkan dukungan sang ayah.
Mendengar Samuel berkata, Ronald menurunkan korannya dan menatap pada anak kesayangannya itu. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku ... aku masih mencintai mantan kekasihku, tapi dia akan menikah, dan aku ingin Papa membantuku membatalkan pernikahannya, bisa kan?" kata Samuel.
Sean mengernyit mendengar ucapan Samuel. Bahkan sampai ke masalah hati pun dia meminta bantuan ayahnya?
"Apa dia memutuskanmu karena laki-laki lain?" tanya Ronald.
"Ya, bisa dikatakan seperti itu," bohong Samuel.
"Samuel, bahkan masalah seperti ini kamu meminta bantuan Papa?" timpal Sean bertanya.
Ronald meliriknya dengan tatapan tajam. "Masalah apa pun, baik hati atau kerjaan, dia memang harus memberitahuku," ucap Ronald.
Sean terdiam dengan bibir terangkat sebelah. Ronald pun kembali fokus Samuel. "Baiklah, papa akan coba bantu," kata Ronald membuat Samuel tersenyum.
Sementara Sean hanya menggeleng, bagaimana Samuel ingin dewasa dan berpikir dengan bijak jika selalu diistimewakan. Hubungan Sean, Ronald dan Samuel memang tidak cukup baik.
Hanya sekadar saja, maka dari itu Sean pun tidak ingin ikut campur dengan mereka, jika bukan karena Grace, Sean mungkin tidak akan pernah mau pulang ke rumah utama. Sebab, dia selalu merasa sendiri di rumah itu, hanya Grace yang peduli dan membutuhkannya.
BERSAMBUNG...