
Sesampainya di villa Sean.
Shena memperhatikan villa bercat putih itu dengan saksama, villa itu besar dan mewah, persis seperti di film-film. Villa itu berada di dekat hutan, cukup jauh dari tempat pemukiman warga.
Begitu mobil Sean masuk ke halaman villa, beberapa pengawal langsung mengitari mobil tersebut dan membukakan pintu untuk Shena juga Sean. "Selamat datang Tuan, Nyonya," sapa para pengawal itu.
Shena cukup terkejut dengan apa yang dia lihat, begitu banyak pengawal di villa itu. Sean bergerak mendekati Shena dan tiba-tiba merangkul pinggangnya. "Ayok masuk! Kamu harus berganti pakaian, kemudian makan," kata Sean di saat Shena ingin protes.
Sean benar-benar tidak membiarkan Shena untuk protes, dia membawa istrinya itu ke kamar utama. "Sean, lepas!" ucap Shena setibanya dia di kamar utama.
Sean pun melepaskan rangkulannya di pinggang Shena. "Lain kali jaga jaraklah dengan mereka," ujar Sean dengan nada suara acuh tak acuh, membuat Shena mengernyit bingung.
Akan tetapi Sean tidak menjelaskan. "Aku ingin mandi, kamu duduk dulu di sini!" Setelah mengatakan itu Sean pun masuk ke dalam kamar mandi.
Shena benar-benar tidak mengerti dengan sifat Sean, laki-laki itu sering mengatakan sesuatu hal secara tiba-tiba kemudian pergi. Shena menggeleng lantas dia pun menelisik kamar tersebut.
Kamar itu benar-benar besar, lebih besar sepuluh kali lipat dari kamar Shena yang berada di rumah Pram. Barang-barang di kamar itu pun terlihat sangat mewah dan berkelas.
Kaki Shena bergerak mendekati ruang ganti yang ada di sana, kemudian dia membuka pintu lemari satu persatu, matanya kembali membulat sempurna saat melihat banyaknya pakaian wanita dan itu terlihat sangat lengkap.
Shena berpikir jika butuh waktu beberapa bulan untuk memakai semua itu. Di lemari lainnya terdapat pakaian pria, dari kemeja, jas, jam tangan, dasi, dan lain-lain.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Sean tiba-tiba membuat Shena terkejut. Di tambah dengan tubuh Sean yang basah dan hanya terbalut handuk sepinggang.
"Sean, bisakah kamu tidak datang dan muncul tiba-tiba? Kamu membuatku kaget! Dan lagi, bisakah kamu keluar setelah berpakaian?" protes Shena sambil menutup matanya.
"Untuk apa kamu menutup mata seperti itu? Nanti juga kamu akan melihat dan menikmati semuanya," kata Sean tidak tau malu. Shena mendengus, lantas keluar dari sana dan duduk di tepi kasur untuk menunggu Sean selesai dengan mandinya.
Tak berselang lama Sean pun sudah kembali dengan pakaian santainya, tubuh laki-laki itu memang sangat luar biasa. Walaupun hanya mengenakan pakaian rumah, itu tidak mengurangi aura dingin dan mendominasi dalam tubuhnya.
"Mandilah, dan segera makan," titah Sean, Shena beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.
***
Di kamar mandi dia sedikit kesulitan membuka gaun pengantin yang dia kenakan, dia sudah berusaha sebisa mungkin. Namun, tetap saja tangannya yang mungil tidak sampai pada sleting yang ada di belakangnya.
Shena kesal, dia tidak mungkin meminta bantuan pada Sean kan? Namun, bagaimana dia melepaskan gaun tersebut jika tidak meminta bantuan pada laki-laki itu?
Akhirnya, dengan berat hati dan perasaan malu, Shena pun keluar kamar mandi. Sean yang sedang fokus pada ponselnya mendongak begitu mendengar suara pergerakan di depannya. "Kenapa belum mandi?" tanyanya pada Shena yang diam mematung.
Sean mengangguk, dia meletakkan ponselnya ke atas kasur, lantas bergerak mendekati Shena. "Berbaliklah!" titahnya.
Shena berbalik, kemudian Sean pun membantunya membuka resleting gaun tersebut, saat tangan Sean menyentuh tubuh Shena, seperti ada aliran listrik yang membuat mereka tersengat sehingga mereka merasakan jantungnya berdesir.
Proses membuka resleting itu terasa lama karena mata Sean malah terfokus mengamati pundak Shena yang putih seperti salju itu, sedangkan Shena hanya diam menunggu dengan perasaan campur aduk, apalagi saat jari jemari Sean menyentuh punggungnya.
Tangan Sean yang seharusnya menurunkan resleting itu, malah bergerilya mengelus punggung Shena, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu yang terasa pas untuknya.
Shena tersentak saat kedua tangan Sean berada di antara pinggangnya, tapi belum sempat dia protes Sean sudah membalikkan tubuhnya dan mengangkat dengan jari telunjuk sehingga mata mereka bertemu.
Sean semakin mendekatkan wajahnya pada Shena, matanya terfokus pada bibir yang begitu menggoda meminta dilahap tersebut. "Sean, resletingnya bel ...."
Ucapan Shena terpotong saja Sean membungkam mulutnya dengan sebuah kecupan ringan, awalnya seperti itu, tapi kemudian Sean menarik tengkuk Shena dan langsung mel_ umat bibir kecil itu.
Shena yang semula kebingungan dan hendak protes pun akhirnya terbuai dan membalas ci_ uman tersebut, karena bagaimanapun dia adalah suaminya, meskipun dia belum sepenuhnya menerima Sean.
Ci_ uman panas itu pun berlangsung cukup lama, mereka saling me_ magut, menggigit, mengi_ sap satu sama lain seakan tiada hari esok.
Saat mereka tengah asik berbagi saliva, suara pintu diketuk membuat mereka mau tidak mau menghentikan aktivitas tersebut.
"Tuan, Nyonya, makanannya sudah siap." Terdengar suara pelayan wanita di luar pintu.
"Ya." Sean mendengus kesal, dia menatap Shena kemudian menyeka bibir Shena yang basah menggunakan ibu jarinya.
"Kamu mandilah, setelah itu kita makan," kata Sean pada Shena.
"Tapi gaun ini?" Setelah mendengar itu, Sean pun membantu Shena membuka resleting belakang gaun itu, dan begitu resleting itu dibuka, gaun pengantin tersebut langsung meluncur ke bawah membuat tubuh Shena yang polosan terekpose dengan jelas.
Sean meneguk salivanya saat menatap tubuh molek itu, sedangkan Shena langsung menutupi bagian tertentu dengan kedua tangannya.
"Kamu berbalik, buruan berbalik!" titah Shena, Sean mengernyit, tapi dia tetap melakukan yang diperintahkan oleh Shena.
Setelah laki-laki itu berbalik, Shena langsung berlari ke kamar mandi.
BERSAMBUNG...