When Love Comes

When Love Comes
Pacar yang ketauan selingkuh



Shena yang baru saja pulang bekerja terperangah saat di jalan arah pulang, dia melihat laki-laki dan perempuan di depannya tengah saling berbagi saliva.


Tangan laki-laki itu pun tidak tinggal diam, mere._.mas dan memutar dua gunung kembar milik sang perempuan. Shena langsung menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Apa yang dia lihat begitu menyakitkan, karena orang yang ada di hadapannya adalah orang yang dia kenal. Laki-laki itu adalah Samuel, kekasihnya yang sudah bersama dengannya satu tahun belakangan ini.


"Samuel!" teriak Shena dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengar namanya dipanggil, Samuel langsung melepaskan pagu_ tannya, kemudian membalikkan badannya dan dia cukup terkejut saat melihat Shena tengah berdiri di belakangnya dengan wajah memucat dan mata yang berkaca-kaca.


"Shena?" gumam Samuel. Dia pun mendorong tubuh wanita yang tadi bibirnya tengah dia nikmati kemudian berjalan mendekat pada Shena.


"Sayang, ini tidak seperti apa yang kamu lihat. Aku bisa jelaskan semuanya, okey!" kata Samuel.


Plaaaaaakkkk


Satu tamparan keras mendarat dengan indah di pipi kiri Samuel. "Apa yang mau kamu jelaskan, hah?! kamu mau katakan bagaimana kamu begitu menikmati bibir sepupuku itu, iya? atau bagaimana kamu memainkan dua gunung kembarnya? begitu?" bentak Shena dengan lantang.


Shena sama sekali tidak menyangka jika orang yang dia cintai tega berkhianat padanya, padahal selama ini semuanya terlihat baik-baik saja, Shena pun selalu menuruti keinginan Samuel.


Sementara itu, mata hitam Samuel terkejut saat mendengar jika wanita yang beberapa menit lalu bibirnya tengah dia nikmati adalah sepupu Shena. Bahkan Samuel tidak tau akan hal itu, Samuel memutar tubuhnya dan menoleh pada Hanastasya.


"Hana? kamu sepupu Shena?" tanya Samuel pada Hana. Samuel benar-benar tidak tau jika Hana dan Shena adalah sepupu.


Hana tidak menjawab dan itu menjelaskan jika itu memang benar. Samuel terdiam untuk beberapa saat, kemudian memutar tubuhnya kembali menghadap Shena.


"Shena, dengarkan ...."


"Kita putus! dan jangan pernah temui aku lagi!" ujar Shena tepat saat Samuel baru saja membuka mulutnya, kemudian dia pun pergi, melangkahkan kakinya dengan gontai.


"Shena!" panggil Samuel dan hendak menyusul Shena. Namun, dirinya ditahan oleh Hana. "Kamu mau ke mana? kamu tidak perlu kejar dia. Aku tau aku salah karena tidak jujur sama kamu soal status aku dan Shena. Tapi kamu juga tidak bisa mundur dari aku setelah apa yang kita lakukan, kamu ingat kan?" kata Hana dengan suara yang tajam.


"Aku tau, tapi aku mau ...."


"Mau apa? bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu bosan dengan pacarmu karena dia munafik? jangan pernah berpikir cari alasan untuk lari dari tanggung jawab, Samuel!" potong Hana dengan tegas.


Samuel terdiam dengan wajah datarnya menatap Hana, dia menghela napas berat, kemudian melepaskan cekalan lengan Hana dan pergi meninggalkan wanita itu yang masih termangu.


"Samuel, kamu mau ke mana? Kita belum selesai bicara!" teriak Hana karena Samuel langsung pergi begitu saja tanpa menjawab dirinya.


Samuel menoleh ke belakang, dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Hana. Melihat tubuh tegap laki-laki itu semakin jauh, Hana mendengus kesal, kemudian dia pun melangkahkan kaki pergi dari tempat itu untuk kembali ke rumah.


***


Di rumah, Hana melihat Shena tengah duduk di teras sambil menatap kosong ke kolam ikan yang ada di halaman rumah itu. "Kamu sudah tau kan sekarang bagaimana hubungan aku sama pacar kamu itu? dan aku minta kamu buat jangan ganggu Samuel lagi! dia itu bosan sama kamu. Sebaiknya kamu sadar diri dan jangan ganggu kita!" hardik Hana tidak tau diri.


Shena yang semula tengah melamun langsung mendongak menatap Hana, matanya yang coklat sarat akan luka. Namun, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Hana, karena itu akan membuat sepupunya besar kepala.


"Apa kamu pikir aku semurahan itu? yang rela berebut barang bekas denganmu? Maaf, aku bukan kamu!"


Mendengar itu mata Hana yang bulat melotot. "Jangan sombong kamu! kamu itu di sini cuma numpang sama kedua orang tua aku! Kamu harusnya sadar diri!" ketus Hana tidak mau kalah.


Shena lagi-lagi tersenyum sinis dan semakin mempertajam tatapan matanya saat menatap Hana. "Aku sangat tau, maka dari itu aku serahkan bekasku padamu! itung-itung aku menyumbangkannya, kebetulan setau aku selama ini kamu tidak laku. Iya kan?"


Kakak sepupunya yang satu ini memang tidak pernah berubah, dari dulu sampai sekarang dia selalu bersikap tenang dan santai. Masalah apa pun Shena bisa hadapi sendiri. Sehingga Shena selalu dipuji oleh kedua orang tua Hana, dan itu membuat Hana tidak menyukai Shena.


Bagaimana bisa orang yang menumpang, bisa lebih unggul dari dirinya, dan karena itulah Hana selalu mencari masalah dan selalu berusaha untuk menyusahkan Shena. Hingga akhirnya dia tau jika Shena memiliki kekasih yang sangat tampan dan orang paling kaya raya di kota M itu.


Awalnya Hana pikir akan sulit untuk merebut Samuel dari Shena, karena Shena selalu menjadi juara selama ini. Siapa sangka, ternyata Samuel sangat gampang digoda, bahkan dia pun sudah dibawa ke ranjang oleh Samuel dalam waktu singkat.


Hana menyunggingkan senyum dengan penuh kemenangan, karena meskipun kali ini Shena tetap tenang, Hana mampu melihat luka di mata indah sepupunya itu.


Shena terdiam dan mengerutkan keningnya saat melihat senyuman dari Hana, dan bertepatan dengan itu terdengar suara pintu dibuka dari dalam. Hana dan Shena langsung menoleh ke arah pintu.


"Kalian sudah pulang? kenapa tidak ada yang masuk?" tanya Gita, ibu dari Hana.


"Iya Ma, tadi aku lagi ngobrol sebentar sama Shena, tapi sudah selesai kok," jawab Hana, dia melirik pada Shena sekilas sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.


Melihat Shena yang hanya diam mematung Gita menarik lengan ponakannya itu dengan pelan. "Kamu kenapa malah diam saja? Ayok masuk! Di luar sangat dingin, nanti kamu bisa sakit," kata Gita dengan suara pelan dan penuh kasih sayang.


Inilah yang membuat Shena selalu merasa bahagia, paman dan bibinya selalu menyayangi dirinya, bahkan mereka tidak pernah pilih kasih antara Shena dan Hana.


Dari Shena kecil, paman dan bibinya selalu bersikap adil. Tidak pernah melihat dari satu sisi saja. Bahkan terkadang mereka membela Shena dari pada anak mereka sendiri.


"Kalian sudah makan belum?" tanya Gita pada Shena dan Hana yang berjalan beberapa langkah lebih dulu.


"Sudah," jawab Hana dengan ketus seraya menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ada apa lagi sama anak itu? kenapa selalu kayak gitu?" gumam Gita pelan, Shena hanya mengulas senyum mendengarnya.


Gita pun langsung menoleh pada Shena. "Gimana sayang? Apa kamu sudah makan?" tanya Gita lagi, karena dia belum mendengar Shena menjawab.


"Sudah Tante, tadi sebelum pulang aku dan teman-temanku makan dulu di luar. Maaf ya Tante, malam ini tidak bisa makan bersama kalian," kata Shena dengan suara pelan dan menundukkan kepalanya.


Gita tersenyum mendengarnya. "Tidak apa-apa sayang, bagus dong kalau kamu sudah makan. Kalau gitu sekarang kamu pergi istirahat sana!" titah Gita.


Shena mengangguk patuh, kemudian melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Hana. Sebenarnya Shena belum makan, tapi karena masalah Samuel dan Hana, dia tidak memiliki selera untuk makan.


Sesampainya di kamar, Shena yang sejak tadi pura-pura kuat, dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Begitu pintu ditutup, tubuhnya langsung meluncur ke lantai.


Dia terisak dengan suara tertahan, dia menangis sejadi-jadinya. Air matanya mengalir deras membasahi pipi kemudian mengalir membasahi pakaiannya. Dia sangat mencintai Samuel, dan semuanya terlihat baik-baik saja sebelum hari ini.


Jadi, saat mengetahui jika Samuel berselingkuh dengan Hana, itu tentu saja menyakitkan dirinya. Hanya saja Shena tidak ingin paman dan bibinya tau, karena dia tidak ingin ada keributan.


Shena meraung hingga sesenggukan dalam gelap kamarnya itu, dia sengaja tidak menyalakan lampu kamarnya. Tubuh Shena terlihat bergetar hebat dengan dia masih bersandar pada pintu.


Hati Shena benar-benar sakit, orang yang sudah bersamanya selama satu tahun belakang ini, orang yang menjanjikan berjuta kebahagiaan, diam-diam menduakan dirinya, yang lebih parah adalah siapa yang menjadi selingkuhannya.


Shena memukul-mukul pelan tubuhnya, berharap rasa sesak dan sakit itu hilang. Namun, semua terasa sia-sia, nyatanya sesak itu sangat terasa, sehingga membuat dia sedikit kesulitan bernapas.


Setelah puas menangis, Shena pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke kasur, dia langsung mengempaskan tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan mata.


BERSAMBUNG