
"Bagaimana Sean? Bukankah itu penawaran yang baik?" kata Ronald, terlihat sekali jika dia ingin Sean mengalah untuk Samuel.
Entah kenapa melihat tingkah Ronald membuat Sean merasa kesal. Tingkah Ronald pada Sean tak seperti sikap seorang ayah pada anaknya.
Seolah Ronald sedang menutupi sesuatu. Samuel masih bergeming sambil menatap Ronald dengan pandangan heran.
"Apa selama ini Papa yang menghapus apa yang sudah anak buahku temukan?" tanya Sean dengan nada penuh kecurigaan.
Sebelumnya, dia memang sudah curiga jika Ronald kemungkinan sudah menyadari tentang Sean yang mencurigainya.
Akan tetapi, dia tidak menyangka jika Ronald akan menghapus apa yang sudah dia temukan. Rasa penasaran dengan alasan Ronald yang menghapus semua temuannya terus menghantui hati Sean.
Banyak sekali pertanyaan yang muncul di hati Sean, tentang apa hubungan Ronald dengan Reno? Dan, kenapa Ronald sampai tega menghapus temuan Sean?
Hanya satu alasan yang terpikir oleh Sean. Ronald benar-benar bersaudara dengan Reno, tapi jika memang mereka berdua bersaudara. Apa yang salah juga dengan itu? Kenapa Ronald seperti enggan saudaranya ditemukan dan kenapa Reno seperti diasingkan? Sementara Ronald di sini hidup dengan bergelimang harta karena menjadi anak satu-satunya keluarga Kendrick setelah kecelakaan 27 tahun itu terjadi.
Sean juga mendapat informasi jika Reno itu dulunya cukup dekat dengan Grace, bahkan katanya Reno dan Grace sempat menjalin hubungan. Sean menyelidiki itu karena penasaran dan juga ingin tau, kenapa sikap Ronald padanya sangat acuh tak acuh, dan mungkin saja dia akan tau jawaban itu dari Reno sebagai saudara ayahnya.
Hampir saja dia mendapatkan beberapa informasi lagi tentang sebelum pernikahan Grace dan Ronald terjadi, tapi bukti itu sudah dihilangkan, dan Reno pun mendadak pergi entah ke mana.
"Memangnya kamu pikir siapa lagi yang bisa melawan keluarga Kendrick? Apa ada orang luar yang akan melawan keluarga Kendrick?"
"Apa yang sebenarnya sedang coba Papa sembunyikan dariku?" teriak Sean. Dia sudah menyelediki ini cukup lama, dan dia hampir membawa kembali saudara Ronald.
"Tidak ada yang aku sembunyikan, kamu yang sangat keterlaluan sebagai anak! Apa kamu mencurigaiku? Apa kamu mencurigai darah Kendrick yang mengalir dalam tubuhmu?" kata Ronald, dari sorot matanya terlihat ada kabut yang sengaja dia tutupi.
"Aku tidak meragukan Papa, aku hanya ...."
"Kamu tidak meragukanku? Tapi kamu mencari tahu tentang orang yang mirip dengan mendiang saudara kembarku? Sean, Reno sudah meninggal, dan jika kamu ingin tau soal Reno dan ibumu, kamu bisa tanyakan padaku. Aku akan jawab dengan senang hati, tapi lepaskan Shena," sela Ronald membuat Sean benar-benar murka.
"Papa, sudah berapa kali aku katakan padamu, aku tidak akan melepaskan Shena! Dia sudah menjadi istriku, maka selamanya akan begitu," geram Sean.
Ronald terdiam, tangannya terkepal, giginya bergemulutuk menahan sesuatu, napasnya pun terlihat naik turun. Dia benar-benar terpancing emosi oleh Sean.
"Sean, kamu tau, kamu dan dia sama saja! Kalian tidak tau diuntung! Kamu ...," bentak Ronald, dan bertepatan dengan itu Grace pun masuk ke dalam ruang kerja.
"Sudahlah pergi!" usir Ronald tak mengindahkan pertanyaan Sean.
Sean semakin dibuat bingung. "Pa ...."
Ronald menatap Grace dengan nyalang. "Bawa anakmu pergi!" usir Ronald lagi memotong ucapan Sean yang belum keluar semuanya.
Sean menggeleng, dia yakin kata 'dia' yang dikatakan Ronald memiliki maksud lain. "Pa, dia siapa?" Sean masih belum jera, dia bertanya kembali pada Ronald.
Ronald menatapnya dengan bibir menyeringai. "Kamu ingin tau? Kalau begitu lepaskan Shena," katanya.
Mata Sean melotot mendengar hal itu, tangan Sean mendadak terkepal, tapi kemudian dia melepaskannya. Andai saja Ronald bukan ayah kandungnya, mungkin Sean akan merubuhkan tubuh laki-laki paruh baya itu hanya dengan sekali pukulan.
"Apa Papa pikir aku tidak akan bisa mencari tau dengan caraku sendiri?"
"Kalau begitu coba saja lakukan," tantang Ronald, Sean mendengus kesal kemudian memutar tubuhnya keluar dari ruangan itu bersama dengan Grace.
***
Sean dan Grace menuruni tangga dengan Sean yang terus berpikir, dia pun menoleh pada Grace. "Ma, siapa yang Papa maksud dengan kata dia? Kenapa Papa bilang kalau aku sama saja dengan dia, sama-sama tidak tau diuntung?" tanya Sean.
Grace sempat terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab dengan kikuk. "Tentu saja mama, memangnya siapa lagi? Papamu sedang bertengkar dengan mama karena masalah ini."
Sean mengernyit dengan mata menyipit, tapi dia pun hanya bisa pasrah dan kembali melanjutkan langkahnya. "Di mana Samuel?" tanya Sean kembali, karena dia tidak melihat Samuel sejak tadi.
"Dia mengatakan jika ingin ke rumah Hana," jawab Grace dan itu membuat Sean terkejut.
Dia teringat jika Shena tadi sempat mengatakan jika dia ingin mengambil barang ke rumah Pram. "Kalau gitu aku harus pergi sekarang Ma." Tanpa pikir panjang, Sean pun segera keluar rumah menghampiri Andre yang sedang duduk bersama sopir Ronald yang lain.
Lantas keduanya pun masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah utama.
BERSAMBUNG...