When Love Comes

When Love Comes
bab 42



Di tempat lain.


Di mobil yang Sean tumpangi, Shena yang sedang bingung dan malas pada Sean, hanya memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.


"Kenapa wajahmu dari tadi selalu seperti itu? Apa ada yang salah denganku? Atau kamu cemburu pada Samuel, yang datang bersama wanita lain?" tanya Sean asal saat melihat Shena yang hanya diam saja sejak keluar dari restauran tadi.


Shena yang semula tengah melihat keluar jendela, langsung menoleh pada laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu dengan dahi mengkerut. "Bisa tidak, kamu jangan bawa-bawa Samuel dalam setiap masalah?" kata Shena kesal.


Matanya menatap tidak suka atas pertanyaan Sean, sudah jelas yang membuatnya kesal adalah sikap dia dan kedekatannya dengan Bunga, juga ternyata dia adalah pemilik dari WLC Corp.


Tentu saja itu membuat Shena menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah dia terlalu cepat membiarkan Sean mengambil hak-nya sebagai suami? karena Shena sendiri sudah jelas belum tau masalalu Sean seperti apa.


Mungkin saja apa yang Sean ucapkan beberapa hari lalu adalah bohong. Apalagi, melihat wajah tampan Sean, siapa yang akan percaya jika dia tidak punya pengagum? Atau mantan pacar sebelumnya?


Sean mengernyit mendengar jawaban Shena, matanya yang hitam terlihat menyimpan ketidaksukaan pada jawaban yang Shena lontarkan.


"Apa sekarang kamu sedang mencoba melindunginya?" tanya Sean lagi, pertanyaan yang semakin membuat Shena kesal karena bukannya sadar. Namun, Sean malah seolah ingin menyudutkan dirinya.


"Kamu apa-apaan sih? Siapa yang melindungi dia? aku berkata seperti itu bukan untuk melindunginya!" kata Shena kesal, dia pun kembali memalingkan wajahnya dan kembali menatap pada luar jendela.


"Jika tidak melindunginya, lalu apa? Kenapa kamu tidak ingin aku membahas soal dia? Padahal, sudah jelas sepertinya kamu cemburu padanya, iya kan? Jujur saja padaku!"


Mendengar pertanyaan Tuan-nya yang seperti cemburu, Andre yang sedang menyetir juga hanya bisa menggeleng dengan seulas senyum tipis.


Dia tidak habis pikir dengan pikiran Tuan-nya yang biasa cerdas soal bisnis, akan seperti itu jika menyangkut soal istrinya, Sean tidak pernah berpikir logis. Bagaimana bisa tidak ingin membahas dituduh ingin melindungi?


'Tuan muda, sepertinya benar-benar sudah jatuh cinta pada Nyonya,' batin Andre sambil melirik kaca spion.


"Terserah padamu saja, aku lelah!" kata Shena pasrah, dia pun kembali menatap keluar jendela.


Laki-laki itu bukannya menjelaskan, tentang Bunga dan tentang dia yang ternyata pemilik WLC Corp. Namun, Sean malah mengajak Shena berdebat tidak jelas. Maka dari itu dia pun lebih baik mengalah.


Lagi pula, meskipun Sean benar-benar boss di WLC Corp, lalu apa? Shena bisa apa dengan itu? Semua sudah terlambat untuk dia berpikir harus melakukan apa, jika saja Shena tau ini lebih awal.


Mungkin Shena tidak akan secepat itu memberikan hak Sean sebagai seorang suami, karena dia butuh waktu untuk berpikir soal itu. Apalagi sekarang dia tau, jika banyak masalalu Sean yang sama sekali tidak terendus.


"Berarti kamu membenarkan apa yang aku katakan! kamu benar-benar melindunginya!" gerutu Sean dengan rahang mengeras menahan kesal karena berpikir Shena masih melindungi Samuel.


Shena kembali menoleh pada Sean dengan dahi mengkerut, dan baru saja dia ingin membuka suara, tapi terhenti oleh suara Andre. "Tuan, Nyonya, kita sudah sampai di rumah sakit," katanya.


Shena pun menoleh menatap Andre. "Untuk apa kita ke rumah sakit?" tanya Shena.


"Untuk memeriksa kamu." Sean yang menjawabnya, kemudian dia membuka pintu mobil diikuti oleh Shena.


"Kenapa? Apa yang salah sama aku?" tanya Shena setelah turun dari mobil, Sean yang berada di sisi mobil lainnya tidak menjawab.


Sean menghentikan langkahnya menoleh pada Shena sebentar, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. "Tidak apa-apa apanya? Tubuhmu panas, kamu harus diperiksa dulu, baru kita akan pulang," kata Sean.


"Tapi Sean, aku benar-benar tidak apa-apa. Hanya tidak enak badan saja, dibawa istirahat pun pasti nanti lebih baik." Shena masih mencoba untuk memberi penjelasan pada Sean jika dirinya tidak perlu berobat, hanya karena masalah kecil seperti itu.


Shena terlalu fokus protes, sehingga tidak memperhatikan dan tiba-tiba saja Sean dan dirinya sudah tiba di salah satu ruangan Dokter. "Periksa istriku secara menyeluruh, tubuhnya tadi terasa panas," titah Sean pada Dokter yang ada di ruangan itu.


Shena membulatkan matanya, karena menyadari jika dirinya sudah tiba di sebuah ruang pemeriksaan tanpa harus mengantri. Dokter yang semula tengah duduk di kursi kebesarannya sambil membaca majalah, langsung mendongak dan menatap Sean.


"Tunggu, dia istrimu? Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengundangku?" tanya Dokter cantik itu pada Sean.


"Bahas itu nanti saja, periksalah istriku lebih dulu," kata Sean dengan wajah datarnya.


Lalu, Sean beralih menatap Shena. "Aku tunggu di luar, kamu harus patuh," ujarnya pada Shena, kemudian dia pun memutar tubuhnya dan keluar.


"Tapi Sean, aku ...." Ucapan Shena tidak dilanjutkan, karena Sean sudah keluar dari ruangan tersebut.


Shena menggigit bibir bawahnya saat melihat Sean pergi, karena meskipun dia adalah wanita cerdas, dia adalah orang yang sangat pemalu ketika bertemu dengan orang baru.


Dokter itu pun berdeham sebelum meminta Shena untuk berbaring. "Kalau begitu Nyonya, silakan berbaring dan aku akan memeriksa kamu!" titah Dokter wanita itu, yang bernama Melodi.


Shena menoleh menatap sang Dokter. "Dokter, aku tidak apa-apa, dia terlalu berlebihan. Jadi, aku tidak perlu diperiksa," kata Shena mencoba menolak, karena dia memang merasa tubuhnya baik-baik saja.


"Tapi Nyonya, jika kamu menolak diperiksa, maka aku yang akan dalam masalah," ujar sang Dokter diselingi dengan kekehan.


"Apa Dokter kenal Sean?" tanya Shena.


Dokter Melodi tersenyum dan mengangguk. "Kenal, kami cukup dekat," jawab Dokter Melodi.


Shena terdiam memikirkan sesuatu. "Kebohongan lain lagi? Katanya dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Lalu, tadi dan ini apa?" batin Shena.


"Nyonya? Ayok berbaring!"


Shena yang mulai memikirkan banyak hal pun menurut, dia merebahkan tubuhnya di atas brankar pemeriksaan yang ada di sana. Lalu, Melodi langsung memeriksanya dengan saksama sambil bertanya dan bercerita.


Shena lebih banyak diam, dia hanya menjawab dan mendengarkan cerita Melodi. Entah kenapa Melodi terlihat mengakrabkan diri pada Shena. Namun, saat Melodi sedang bercerita, Shena teringat sesuatu.


Dia menatap Melodi ragu dengan bibir terbuka karena ingin mengatakan sesuatu, Melodi yang menyadari ekpresi Shena berubah pun bertanya. "Ada apa? Jika ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja!"


"Dokter Melodi, bisakah nanti kamu meresepkan aku pil KB?" tanya Shena.


BERSAMBUNG...