When Love Comes

When Love Comes
bab 40



Sean tidak menjawab, dia melirik pada Shena yang menatap penuh selidik padanya, Sean mencubit dagu Shena gemas karena ekspresinya itu. "Ada apa? Kenapa memperhatikanku seperti itu? Apa kamu sedang mengagumi ketampananku?" tanyanya.


"Kamu boss di WLC?" Bukannya menjawab, Shena malah mengajukan pertanyaan pada Sean.


Sean melepaskan tangannya yang tadi menyentuh dagu Shena. Mengambil minumannya dan menenggak sampai habis, kemudian kembali menatap wajah sang istri yang masih menatapnya menuntut jawaban. "Kamu sebagai istriku maunya iya, atau tidak?" tanya Sean enteng seolah dia sedang mengoreksi soal makanan.


"Apa susahnya mengakui jika kamu memang pemilik WLC Corp itu! Kenapa harus banyak bertanya?" sela Ferry dengan melirik pada Samuel sambil mengembalikan kartu unlimited yang tadi Sean berikan untuk membayar semua makanan, sedangkan Sean kembali memberikan tatapan mata tajamnya pada Ferry.


Samuel yang mendengar itu lagi, wajahnya seketika berubah pias, bagaimana tidak? Selama ini dia mengenal Sean hanya sebagai manager di KC Corp, sedangkan dia yang digadang-gadang akan menjadi CEO di KC Corp.


Akan tetapi, saat ini dia mendengar jika Sean adalah boss di WLC Corp? WLC Corp bukanlah perusahaan kecil, dan bisa dikatakan ini adalah perusahaan yang hampir setara dengan KC Corp.


KC Corp sendiri adalah perusahaan turun temurun, sedangkan WLC, ini adalah perusahaan baru yang langsung menyamai KC Corp dalam waktu singkat. Samuel menatap bingung pada Sean dan Ferry, dia ingin bertanya. Namun, dirinya terlalu gengsi untuk itu.


"Sean," panggil Shena dengan wajah menuntut penjelasan. Namun, Sean dengan santainya malam memasukan kembali kartu miliknya.


"Sean!" panggil Shena lagi sambil menyentuh tangannya karena Sean tidak menggubrisnya.


Sean yang mengernyit saat menyadari jika tangan Shena sedikit hangat. Dia menoleh, kemudian menggenggam tangan dan menyentuh kening Shena untuk mengecek suhu tubuhnya, dan benar saja, tubuh wanita itu sedikit hangat.


"Tubuhmu panas, apa kamu tidak enak badan?" tanya Sean penuh perhatian.


Shena menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Shena.


"Apanya yang tidak apa-apa? Ini kamu demam!" kata Sean dengan tangan yang masih menggenggam Shena.


Lagi-lagi, hal itu membuat Samuel merasa cemburu, hatinya terasa seperti terbakar dan napasnya pun naik turun melihat Sean dengan gampangnya menyentuh lengan dan wajah Shena.


"Ayok kita berobat dan pulang!" Sean beranjak sambil menarik Shena.


Shena menahan lengan Sean. "Tapi kan aku sedang berkerja," ucap Shena, dia yang belum mendapatkan jawaban soal apakah Sean benar-benar boss di WLC Corp atau bukan, jadi lupa akan hal itu.


"Shena, tidak apa, jika kamu sedang tidak enak badan kamu pulang saja! Lagi pula, apa yang aku katakan tadi itu adalah sebuah kebenaran," ujar Ferry.


Shena pun kembali teringat dengan pembahasannya soal Sean benar-benar boss di WLC Corp atau bukan. "Kamu terlalu banyak bicara!" ketus Sean pada Ferry, kemudian menarik Shena agar berdiri dan membawanya pergi dari sana.


Andre yang melihat itu segera bangkit dan berpamitan untuk menyusul kedua majikannya itu. "Kalau begitu saya juga permisi," pamitnya yang langsung dijawab anggukan oleh Ferry.


Bunga yang sangat penasaran menoleh pada Ferry. "Kak Ferry, soal boss di WLC Corp itu, apa benar?" tanya Bunga.


Ferry mendelikan matanya enggan, tapi dia tetap menjawab. "Memangnya untuk apa aku berbohong? Tidak ada gunanya juga!"


Samuel benar-benar seperti dilempari oleh ribuan batu besar, jika saja dia tau soal ini sebelum dirinya dan Sean terlibat konflik, mungkin dia akan bangga mendengarnya.


Masalahnya dia mendengar ini di saat dia dan Sean terlibat sebuah konflik, mendengar soal Sean yang ternyata boss di sebuah perusahaan tentu saja akan membuatnya semakin kalah.


Samuel yang merasa tidak terima langsung beranjak dari duduknya, dia ingin pergi menemui Ronald untuk mengatakan hal ini, agar keduanya bisa mencari tau apa yang harus mereka lakukan.


Melihat Samuel yang tiba-tiba saja berdiri membuat Bunga mendongak. "Kakak mau ke mana?" tanya Bunga.


Samuel menunduk menatap Bunga. "Ayok aku antar kamu pulang, dan setelah itu aku harus pergi," kata Samuel.


Bunga pun menurut, dia ikut beranjak dan berpamitan pada yang lain, kemudian dia dan Samuel pergi dari restauran tersebut meninggalkan Dinar, Chery dan Ferry.


"Dia pasti akan mengadu pada papa-nya," gimana Ferry dengan senyum menyeringai.


Dinar menatap Ferry. "Pak, yang tadi itu apa benar?" tanyanya.


Ferry menoleh dan mengubah ekpresinya yang semula datar dan dingin menjadi tersenyum. "Benar, Sean adalah boss sebenarnya, dia yang membangun dan membuat WLC Corp seperti sekarang. Bisa dikatakan saya hanya direktur kedua dan membantunya sedikit, tapi dia-lah pemilik WLC," jawab Ferry jujur.


Mata Chery melotot dengan berbinar. "Sepertinya Shena benar-benar beruntung, dia pisah dari pria kurang ajar itu, dan mendapatkan berlian," ucap Chery.


"Benar, tapi sepertinya masalah mereka belum selesai sampai di sini," kata Ferry sambil terkekeh.


"Maksud Bapak?" tanya Dinar dan Chery bersamaan.


"Laki-laki itu tidak akan tinggal diam. Dan lagi, wanita yang bernama Bunga itu, aku rasa kedatangannya untuk tujuan tertentu, karena selama ini dia hilang. Tapi tiba-tiba saja dia muncul lagi di saat Sean sudah menikah, menurut kalian untuk apa?" jawab Ferry membuat mata Dinar juga Chery melotot tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Tapi aku percaya pada Sean," sambung Ferry kemudian saat melihat wajah panik juga bingung dari kedua anak buahnya itu.


BERSAMBUNG...