When Love Comes

When Love Comes
bab 40, rencana Ronald



Setelah mengantarkan Bunga ke rumahnya, Samuel bergegas pergi menemui Ronald, dengan perasaan kesal dan emosi yang menggebu-gebu dia datang ke perusahaan KC Corp.


"Papa," teriak Samuel sesaat dia sampai di kantor direktur utama KC Corp, mata Samuel seketika membola saat melihat Ronald tengah memangku wanita cantik yang sebaya dengannya.


"Papa, apa-apaan ini?!" tanya Samuel dengan kesal, niat hati ingin mengadu, kekesalannya semakin bertambah saat melihat Ronald seperti itu.


Walaupun saat ini dia memang tengah kesal pada Grace karena Grace tidak ingin membantunya dalam mendapatkan Shena kembali, tapi Samuel tetap saja merasa marah jika Ronald mengkhianati orang yang telah melahirkannya itu.


"Kamu bisa keluar dan bekerja dulu," kata Ronald pada wanita tadi, yang tak lain adalah sekretaris di kantor tersebut.


Wanita itu mengangguk pada Ronald kemudian dia menoleh dan mengangguk pada Samuel. "Permisi Pak," pamitnya, tapi tidak dijawab oleh Samuel karena dia sangat membenci jika ada yang berselingkuh.


Ronald memperhatikan sekretaris itu yang keluar dengan wajah menunduk karena malu, kemudian Ronald berdeham dan bertanya pada Samuel. "Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba datang tanpa memberitahu papa?"


"Kenapa aku harus memberitahu Papa lebih dulu untuk berkunjung ke perusahaan sendiri? Apa supaya aku tidak melihat kelakuan bejat Papa?" bentak Samuel tepat di depan Ronald.


Ronald menghela napas panjang menahan amarahnya, karena dia memahami Samuel. Dia mendongak dan menatap anaknya itu dengan serius. "Samuel, lebih baik katakan jika ada sesuatu, jangan berbelit-belit! Karena papa juga tidak ada waktu. Dan lagi, masalah tadi, papa bisa jelaskan padamu nanti, juga lebih baik jangan beritahu mama," ujar Ronald.


Samuel geram dan hendak protes, tapi mengingat soal Sean, dia pun mengurungkan niatnya yang hendak protes itu. Samuel bergerak mendekati kursi yang ada di depan meja Ronald, kemudian duduk di kursi tersebut.


Suasana di ruangan itu hening untuk beberapa saat, karena anak dan ayah itu hanya saling tatap saja. "Katakan apa yang membuat kamu mendadak ke sini tanpa harus papa panggil!" ujar Ronald.


"Apa Papa tau jika kak Sean, adalah boss dari WLC Corp?" tanya Samuel, dia mulai melupakan pengkhianatan yang barusan dia lihat.


Mendengar itu ekpresi Ronald yang semula biasa saja, berubah menjadi tegang. "Apa katamu? Apa kamu serius? WLC Corp?" tanya Ronald beruntun.


Ada kekesalan tersendiri yang Samuel rasakan, saat mendengar jika Sean adalah boss sebenarnya di WLC Corp. Dia merasa benar-benar tertinggal sangat jauh oleh Sean.


"Tapi bagaimana mungkin? Setau papa, pemilik WLC Corp adalah Ferry Dermawan," ujar Ronald, dia tidak mengindahkan sindiran Samuel tadi.


"Ferry itu adalah sahabat kak Sean, jangan katakan jika Papa juga tidak tau soal ini?"


"Tidak, papa tau jika Ferry dan Sean adalah sahabat, tapi papa tidak tau jika Sean adalah boss WLC Corp," ujar Ronald dengan wajah mengeras, dan rona merah seperti terkuras dari wajahnya.


Ronald merenung sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Samuel. "Kamu yakin jika Sean adalah boss di WLC Corp?" sambungnya bertanya, karena Ronald masih tidak habis pikir.


Samuel mengangguk dengan pasti. "Aku yakin," jawabnya.


Ronald diam, dia masih berpikir bagaimana anak yang selama ini selalu dia awasi bisa memiliki perusahaan yang hampir seimbang dengan perusahaan milik keluarga Kendrick.


Cukup lama Ronald diam, sehingga membuat Samuel bingung. "Pa, kenapa Papa malah ngelamun? Apa Papa tidak ada rencana untuk Kak Sean?" tanya Samuel.


Sifat seorang adik yang menyayangi kakaknya, kini benar-benar sudah tiada, yang ada dipikiran Samuel saat ini adalah. Bagaimana dia bisa berada di atas Sean, karena dia masih tidak rela jika harus melihat Sean bersama dengan Shena.


"Jika soal itu, kamu tenang saja! Papa sudah menyiapkan rencana, memangnya kamu pikir pertemuan nanti malam hanya pertemuan biasa? Tidak, semua sudah papa atur! Yang jelas Shena akan melihat Sean sebagai laki-laki breng_ sek nanti," kata Ronald.


Samuel mengerutkan keningnya karena bingung, tapi dia memilih tidak bertanya lebih karena dia percaya pada Ronald. Dia tersenyum membayangkan tatapan kebencian yang akan Shena berikan pada Sean.


BERSAMBUNG...