When Love Comes

When Love Comes
Perusahaan Sean



"Ya, dia karyawanmu, tapi dari mana kamu kenal dia? Bukankah selama ini kamu selalu membiarkanku hampir mati di kantor, sedangkan kamu hanya duduk manis di rumah?" sindir Ferry. Banyak yang mengira jika boss WLC Corp adalah Ferry.


Akan tetapi fakta sebenarnya adalah, Sean yang membangun dan membesarkan WLC Corp itu diam-diam 5 tahun lalu, Ferry hanyalah sahabat yang Sean percaya untuk mengurus perusahaan itu.


Sementara Rendra, dia juga adalah sahabat dan orang kepercayaan Sean di perusahaan lain. Sebenarnya perusahaan milik keluarga Kendrick sudah sangat besar dan sangat terkenal di kota M. Akan tetapi bagi Sean, bisa membangun dan membesarkan perusahaan tanpa membawa nama keluarga, itu membuat Sean mendapatkan kepuasan juga kesenangan tersendiri.


Apalagi Sean memang bukan satu-satunya orang yang akan turun untuk mengelola perusahaan milik keluarga Kendrick, karena masih ada adiknya, dan kemungkinan memang adiknya lah yang akan mengelola perusahaan keluarga Kendrick tersebut.


Sebab, ayahnya memang lebih menyukai adiknya dibanding dia. Oleh karena itu, sejak lulus kuliah, Sean langsung memulai bisnis sendiri, tapi siapa sangka. Kecerdasan dan kemampuan yang Sean miliki bisa membesarkan perusahan-perusahaannya meski tanpa nama keluarga di belakangnya.


"Apa kamu pikir di rumah aku hanya diam saja? Berhenti mengatakan omong kosong! Aku juga bekerja, perusahaan tidak mungkin besar sendiri!" bentak Sean, dia menatap tajam pada Ferry.


Ferry tersenyum jahil kemudian menantang Sean. "Kalau begitu, nanti malam temuilah Pak Geno, aku sudah lelah minum setiap malam. Aku ingin tidur lebih cepat malam ini."


"Apa kamu gila? Belum ada yang tau jika ada aku di belakang kamu. Lalu, bagaimana aku bisa keluar sebagai direktur utama WLC Corp? kamu sebagai direktur kedua sajalah yang pergi temui dia! aku sudah lelah menjaga Perusahaan KC Corp," jawab Sean, Ferry yang mendengar itu langsung mendengus kesal.


Sudah 5 tahun berlalu, tapi Sean masih saja sembunyi di balik tubuhnya. Hanya segelintir orang saja yang tau jika masih ada boss lain di belakang Ferry dan Rendra. Namun, meskipun mereka tau jika ada boss lain, mereka tidak tau siapa boss tersebut, karena Sean memang tidak pernah muncul terang-terangan.


"Ck! Aku heran, padahal kamu adalah ahli waris, tapi mengapa di KC Corp kamu hanya bekerja sebagai manajer?"


"Sudahlah itu bukan urusanmu, dan aku tidak ingin berdebat denganmu! Aku ingin kembali bertanya soal Shena," kata Sean kembali ke topik semula.


"Ada apa dengan Shena? apa kamu menyukainya?" tanya Ferry dengan kerlingan nakal ketika melihat Sean.


"Omong kosong apa lagi yang kamu katakan?! aku hanya ingin tau bagaimana dia bekerja, dan bagaimana dia di kantor, siapa saja laki-laki yang dekat dengannya," ujar Sean.


Ferry dan Rendra menatap aneh pada Sean, mereka memperhatikan pria itu dengan dahi mengkerut. "Sebenarnya ada apa denganmu? kenapa tiba-tiba kamu menanyakan soal dia? Sepertinya tidak mungkin jika kamu tidak menyukainya, karena pertanyaanmu sungguh aneh," ucap Rendra yang sejak tadi cukup diam memperhatikan kedua sahabatnya beradu argumen.


Sean terdiam beberapa waktu, dia ingin mengatakan soal perjodohan itu. Namun, dia ragu, karena dia takut jika Shena akan menolak perjodohan ini. "Lihatlah, dia memang aneh!" kata Ferry lagi karena Sean hanya diam saja.


"Sebenarnya dia adalah orang yang dijodohkan denganku," ucap Sean akhirnya dengan suara pelan.


"Apa?" pekik Rendra dan Ferry.


Mereka saling pandang untuk beberapa detik, kemudian kembali menoleh menatap Sean dengan wajah bingung. "Apa kamu bercanda?" tanya Rendra.


Sean menggeleng dengan tegas. "Tidak, aku sedang tidak bercanda. Dia memang gadis yang dijodohkan denganku oleh mama, aku ingin menolak, tapi kalian tau sendiri mama itu keras kepala. Dan aku tidak mungkin bisa menolaknya, maka dari itu aku tanya, bagaimana dia ketika di kantor!"


Sean tidak percaya, dia memicingkan matanya menatap Ferry. "Apa kamu yakin?"


"Ya, dia memang terkenal baik, dia juga rajin bekerja. Selama aku mengenalnya, dia baik, tidak mudah juga untuk dekat dengannya."


"Tapi dia tadi meminta nomormu, wanita baik tidak akan begitu, bahkan aku yang calon suaminya saja tidak memiliki nomornya," ketus Sean.


Ferry terkekeh kemudian berkata, "itu karena dia sedang bermain, dan dia kalah."


"Benarkah?"


"Sudahlah, tunda dulu saja obrolannya, aku sudah sangat lapar, bisakah kita makan dulu? apa kalian ke sini hanya untuk mengobrol? jarang-jarang kita bisa makan bersama, bukankah lebih baik makan dulu?" ujar Rendra sambil memijit pelipisnya karena pusing dengan kedua sahabatnya.


"Baiklah, kalian pesanlah, hari ini aku yang traktir," ucap Sean pasrah, kedatangan mereka ke sini memang untuk makan dan membicarakan hal yang serius. Namun, ketika melihat Shena, dia malah melupakan hal ini.


"Memang harusnya seperti itu." Ferry berkata dengan santai sambil mengambil buku menu, sedangkan Rendra sudah menekan tombol memanggil pelayan.


"Lalu, apa kamu menerima perjodohan itu?" tanya Rendra sambil menunggu pelayan masuk ke dalam ruangan mereka.


Sean terdiam beberapa detik. "Mau bagaimana lagi? aku sudah mencoba menolaknya, tapi mama tetap bersikeras dengan perjodohan ini, aku hanya bisa pasrah, kecuali jika dia menolaknya," jawab Sean. Meskipun dia tidak ingin dijodohkan, tapi dia juga tidak mau menyakiti hati Grace dengan sebuah penolakan.


"Jika dia tidak menolak?" timpal Ferry, Sean menoleh padanya untuk sesaat, kemudian menghela napas berat.


"Ya menikah, apa lagi? Dia yang lebih memilih aku dari pada kekasihnya itu," jawab Sean dengan santai penuh kemenangan.


"Dia punya kekasih?" Rendra kembali bertanya, yang langsung dijawab anggukan oleh Sean. "Sepertinya punya, tapi jika dia lebih memilih aku, aku bisa apa?"


Sean tersenyum tipis, membuat Rendra dan Ferry menggeleng. "Oh ya, di mana orang-orang itu?" tanya Sean.


"Katanya sebentar lagi mereka akan tiba," jawab Rendra.


Sean beranjak dari duduknya. "Aku pergi ke toilet dulu."


BERSAMBUNG