
"Nih, kali ini gue percaya" gue meminjamkan ponsel gue sama Jimmy. Dia kelihatan kaget melihat wallpaper gue. Wait! kok gue bisa lupa. Ah biarin aja lah kan dia temen gue.
Gue melihat Jimmy menekan beberapa nomor dan mengetes nya.
"Selesai, thanks ya" Jimmy mengembalikan ponsel gue. "Hem, gue duluan ya jim" gue menyandang tas dan berlalu dari hadapan Jimmy. Begitu gue sampai di halte, ada mobil hitam yang menjemput gue.
Gue langsung masuk ke mobil itu dan kami melaju ke bandara. Sesampainya di bandara gue melihat Mami, papi sama bang Daniel lagi duduk di bangku tunggu.
"Mami, Anna udah sampai"
"Sini, nggak mau peluk mami dulu"
Gue langsung berhamburan ke pelukan mami. Gue menangis tapi buru buru gue lap, takut di bilang cengeng.
"Papi juga dong" papi merentangkan tangannya pertanda ingin dipeluk. Gue langsung pindah haluan dari pelukan mami ke papi. "Jaga diri ya" papi mengusap bahu gue dengan lembut. "Iya Pi" gue mendongak dan tersenyum tipis.
Gue melepaskan pelukan dari papi, "Bang Daniel nggak mau dipeluk?" gue sengaja goda abang gue, kok gue punya firasat buruk tentang bang Daniel ya.
"Idiih gue mana sudi di peluk sama cewek kayak loe" bang Daniel menjulurkan lidahnya. Gue langsung memeluk bang Daniel dengan erat. "Hei kenapa peluk peluk?"
Gue melihat papi sama mami tersenyum melihat tingkah kami. Bang Daniel membalas pelukan gue dan mencium kening gue. "Anna, loe cuma sendiri di sini, jaga diri baik baik, kalau terjadi sesuatu telepon abang ya" abang gue ini kok perhatian ya. Tapi feeling gue mengatakan kalau ini adalah pelukan yang terakhir bagi kami.
"Iya bang, abang juga, jaga mami sama papi" gue melihat bang Daniel menangis, baru pertama kali gue melihat bang Daniel kayak gini. Biasanya bang Daniel nggak pernah memperlihatkan kalau dia sedih atau apa pun lah itu. Dia sering sembunyi kalau nangis.
Kami dikejutkan dengan pengumuman yang mengatakan kalauย penumpang harus masuk ke pesawat.
"Mami pergi dulu ya" mami melambaikan tangan, gue membalas lambaian tangan mereka. Gue melihatย bang Daniel masih menangis.
Setelah mereka menghilang dari penglihatan gue, gue langsung pulang ke apartemen, gue pengin nangis. Kok rasanya nyesek, mungkin kalau gue nggak ikut ngantar mereka sampai bandara nggak bakalan jadi sesedih ini.
Sesampainya di apartemen gue langsung ke kamar dan menangis di atas king size sendirian. Ya gue tinggal sendiri, kami nggak nyewa pembantu atau semacamnya karena ini hanya apartemen tapi kami punya banyak pelayan dan ditempatkan di mansion utama tempat kami tinggal sekarang yang berada di Amerika.
Setelah merasa puas menangis gue langsung mandi, selesai mandi gue bercermin sebentar memandangi tubuh gue. Gue sebenarnya cantik, serius. Tapi nggak ada satu pun anak kelas gue yang tau kalau wajah asli gue sebenarnya cantik. Gue melihat mata gue bengkak.
Tes tes tes
Tanpa sengaja air mata gue tumpah lagi, gue nggak tau alasannya tapi gue pengin nangis. Gue membiarkan air mata gue terjun bebas. Terasa menyakitkan bila air mata yang harusnya dikeluarkan justru malah tertahan.
Gue selalu mengamalkan perkataan dari Nicole Van Gronigen yang menyarankan segera mencari tempat saat ingin menangis. Setelah menangis, tubuh akan terasa enteng dan pikiran lebih segar.ย
BERSAMBUNG ๐๐๐
Budayakan RLCS ya readers! ๐๐๐
Read, Like, Comment, & Share. Terima kasih banyak udah mampir ke sini. Lain kali mampir lagi ya! ๐ค๐ค๐ค