What's Wrong With Destiny?

What's Wrong With Destiny?
Episode 3



"Terus anna sendiri di sini dong"


Gue menekur lama, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Loe sih, nggak mau ganti gaya loe, mommy mutusin buat pergi"


"Iiihhh abang kok nyalahin anna" gue meneteskan air mata yang sebenarnya semenjak tadi gue tahan,Β gue memang seorang yang penangis tetapi semenjak gue mengalami hal yang tidak seharusnya terjadi gue jadi berubah.


Kata abang gue, kita tak selamanya akan bersama, karena kodratnya jika ada pertemuan maka akan ada perpisahan jadi kita harus selalu siap untuk mengalami perpisahan itu. Jangan jadi anak yang cengeng. Cengeng itu membuat kita semakin merasa kita lah yang paling merasa sakit padahal bagi orang yang meninggalkan juga akan merasakan sakit sehingga kelak akan tumbuh rasa egois.


Gue mengusap air mata gue dengan cepat.


"Anna cengeng"


"Nggak, anna kuat kok, serius. Kapan kalian berangkat?"


"Kan udah dibilangin tadi, nanti siang anna, loe budek ya" abang gue menoel pipi gue.


"Siapa yang budek? Enak aja nuduh anna budek" gue mengerucutkan bibir gue.


Mereka bertiga tertawa melihat gue. "Udah udah, Daniel antar anna ke sekolah!"


Gue mengambil tas dan buku gue.


"Abang nanti gue tinggal dimana?"


"Mana gue tau"


"Ih Daanniieeelll"


Abang gue ketawa mendengar teriakan gue yang menggema memenuhi mobil yang kami tumpangi. "Mungkin loe masih bisa tinggal di apartemen sampai bulan depan, loe kan tau kita nggak punya properti disini, loe sih mau sekolah disini segala, ribet kan"


"Abang kok nyalahin gue mulu"


Sesampainya di sekolah, bang Daniel membukakan pintu mobil untuk gue. Semua mata memandang dengan tatapan memuja ke arah gue. Tunggu, mereka lagi ngeliatin gue nih? Tapi gue kan belum mengganti gaya jadul gue. Nggak mungkin kan.


Gue melihat arah pandangan mereka. Mampus gue! Kok bisa lupa, kalau tau gini gue bakal nolak bang daniel buat ngantarin gue.


"Abang duluan, dah" gue melambaikan tangan. Gue berbalik dan melihat tatapan iri dari mereka. Gue sadar mereka menggilai abang gue.


"Ha-hai" gue menyapa mereka dengan canggung. Mereka meninggalkan gue sendirian. Gue berjalan ke kelas. Disana sudah rame, mereka bercengkerama seperti biasa, maklum lah, masih hangat hangatnya buat ngegosip secara kan udah lama nggak ketemu pasti banyak bahan buat gosip.


Gue mendaratkan pantat gue di bangku pojok, semua bangku sudah terisi penuh di bagian depan sehinggaΒ  hanya bangku yang dibelakang yang tersisa.


"Anna" sapa Amelia Brianda teman paling dekat sama gue. Dia duduk didepan gue. "Hai amel, udah lama datang?"


"Baru datang kok anna"


"Gue mau tidur bentar ya, nanti bangunin gue pas ibu guru dateng ya?"


"Gue? Anna manggil loe gue nih sekarang?" Amel menyipitkan matanya.


Mampus, kok bisa lupa sih. Ini nih karena kebanyakan berdebat sama bang daniel nih.


"Eeh, mak-maksud, nggak kok mel, iseng, iya anna iseng" gue menampilkan senyum terbaik gue. "Kirain" gue menghela napas.


"Nanti amel bangunin"


Gue melipat tangan gue dan menundukkan kepala gue, selang beberapa waktu gue merasa bangku di samping gue bergerak. Gue nggak bisa tidur, gue teringat omongan bokap gue yang mau tinggal di Amerika sementara gue disini sendirian.


"Hai, loe anak baru kan?"


Gue melihat Bella Belinda, ratu gosip di sekolah gue, lagi kenalan sama cowok yang disamping gue.


Wait! Semenjak kapan nih cowok duduk disini? Ganteng juga sih, ih apaan sih gue.


BERSAMBUNG πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚


Budayakan RLCS ya readers! πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


Read, Like, Comment, & Share. Terima kasih banyak udah mampir ke sini. Lain kali mampir lagi ya! πŸ€—πŸ€—πŸ€—