
Flashback on
Hari sudah sore tapi bang Daniel belum ada tanda tanda bakal datang. Gue mutusin kalau gue naik bus aja, gue sih mikirnya kalau nanti di bus kan rame.
Sesampainya gue di bus gue ambil bangku yang di pinggir kaca sekalian mau lihat jalan yang hampir gelap, awalnya tidak ada yang duduk di samping gue, tapi setelah kami melewati dua buah rumah, seorang laki laki duduk di samping gue.
Awalnya gue nggak curiga sama sekali, tapi setelah dipikir pikir laki laki itu sedikit aneh. Saat kaki kami bersentuhan gue geser kaki gue sedikit ke tepi, lalu tangannya juga nggak tinggal diam, dia pura pura mengambil dompet padahal dompetnya ada di tangan yang satu lagi.
Dari sana gue mulai curiga, gue udah panik, dan lagi nggak seberapa cewek yangΒ ada di dalam bus itu. Gue melihat ke sekitar gue, tapi nggak ada yang sadar dengan perbuatan laki laki di samping gue.
Gue rasa dia masih muda karena terlihat dari kulitnya yang masih kencang, kalau tebakan gue nggak salah gue rasa sekarang dia masih kuliah lah.
Tangannya yang berada di antara paha kami mulai bergerak, gue yang merasa panik langsung menepis tangan yang tidak bermoral itu. Dia mendelik tajam ke arah gue membuat nyali gue menciut.
Dia hendak memegang pa****ra gue, gue langsung teriak. "Pak turun disini aja pak" gue bergegas turun, padahal kalau di hitung hitung jarak rumah gue mungkin sekitar satu kilo lagi, gue langsung berlari sekencang kencangnya.
Gue melihat ke belakang, ternyata laki laki itu juga turun dari bus dan berlari kecil mengejar gue. Gue berlari kencang berusaha menghindari laki laki itu. Gue benar benar takut. Gue bahkan tidak melihat mobil yang mendekat ke arah gue, untungnya mobil itu rem mendadak alhasil gue lari menyeberangi jalan raya yang ramai.
Laki laki itu kehilangan jejak gue.
Gue mempercepat langkah kaki gue, karena apartemen kami udah kelihatan. Gue menangis sepanjang jalan sampai di depan pintu, gue mengusap air mata gue.
Semenjak itu gue mengubah penampilan gue, karena gue takut laki laki itu mengenali gue, nyokap gue bahkan membelikan kacamata khusus buat gue. Keluarga gue tau kalau gue mendapat pelecehan seksual tapi mereka tidak tau kalau setelah pelecehan itu gue mengidap PTSD.
Flashback off
Setelah memasak, gue berniat beli cemilan di minimarket dekat apartemen gue.
Gue langsung mengambil cokelat di rak khusus begitu gue sampai di minimarket. Biasanya kalau gue nggak mood gue sering menghabiskan cokelat yang banyak.
Gue berjalan menuju kasir dan membayar belanjaan gue.
Di depan minimarket gue melihat pria yang tak asing bagi gue, ya dia James. Dia turun dari motornya dan membuka helm full face milik nya.
Gue menghampiri dia yang berjalan mendekati pintu minimarket.
"Jimmy, kok loe nggak sekolah tadi?"
Dia kaget melihat gue, "Hehe, gue ada urusan Gaby" dia menampilkan senyum manis nya.
"Loe anak baru loh Jimmy" gue ngingetin dia supaya dia berubah.
"Iya Gaby" Gue melihat dia sedikit terharu, gue bergidik ngeri melihat raut wajah James yang sekarang seakan sedang menatap gue dengan tatapan yang nggak bisa gue artikan.
"Dari mana loe?" dia bertanya dengan nada yang lembut.
Wah! Dasar Jimmy kesambet apa sih
BERSAMBUNG πππ
Budayakan RLCS ya readers! πππ
Read, Like, Comment, & Share. Terima kasih banyak udah mampir ke sini. Lain kali mampir lagi ya! π€π€π€