What's Wrong With Destiny?

What's Wrong With Destiny?
Episode 10



Gue terbangun dari tidur panjang gue, ya gue tertidur pulas sehabis menangis, bahkan gue nggak ingat sampai jam berapa gue nangis, tapi gue merasa lega banget.


Gue bergegas mandi dan bersiap siap lalu sarapan sereal dengan susu karena hanya itu yang tersedia di apartemen gue untuk saat ini.


Gue naik bus yang kebetulan lewat di depan halte. Gue langsung masuk ke bus dan duduk di bangku paling belakang.


Sesampainya di sekolah gue melihat Bella lagi ngomong sama Dean. Gue nggak nyapa Dean karena sepertinya omongan mereka sangat penting sampai sampai Dean nggak tau kalau gue udah datang.


"Anna" gue melihat muka Amel berseri seri pagi ini. Kayaknya ada berita bagus nih.


"Iya Mel" gue menatap Amel dengan tatapan seolah penasaran tingkat dewa.


"Biasa aja tuh tampang" Amel menyentil dahi gue dengan keras.


"Ouch, kok loe nyentil gue?" Amel mengerjapkan matanya berkali kali dan menatap gue dengan tatapan tak percaya setelah mendengar apa yang baru gue bilang. Gue juga nggak sadar apa yang gue bilang makanya gue bales dia dengan tatapan melongo.


"Anna, loe beneran ngomong pake loe gue nih?"


"Errrr"


"Gue sih it's oke aja Anna, gue ngomong pake nama karena gue ngehargain loe" Amel tersenyum senang. Gue akhirnya bisa bernafas lega.


"Sekarang kita ngomong pake loe gue aja ya" gue mengangguk kuat menandakan gue setuju banget dengan ide Amel. Gue melirik Dean sekilas, dia masih ngomong sama Bella, gue melihat Dean berkali kali mengerutkan keningnya menaggapi perkataan Bella. Gue sih nggak denger apa yang mereka omongin. Apa sebegitu rumitnya yang mereka omongkan saat ini.


Tak berapa lama guru pun datang. Gue melihat Jimmy yang baru masuk dengan tampang kusut. Jimmy langsung duduk di samping gue dan mendengarkan penjelasan guru seperti yang gue lakukan.


Kriiingg kriingg kriingg


"Jimmy"


Dia cuma menaikkan alisnya, gue sedikit heran dengan tingkah Jimmy sepagi ini, benar benar cerminan seorang badboy.


"Loe nggak apa apa?" gue bertanya dengan wajah khawatir. Dia melirik gue sekilas.


"I'm oke, don't worry" Jimmy mengambil headset dan menghidupkan musik.


"Anna, ke kantin yuk!" Amel mengajak gue dengan tatapan memelas. Gue memang jarang makan di kantin, gue lebih suka menghabiskan waktu istirahat di perpus. Tapi kayaknya hari ini gue harus menerima ajakan Amel berhubung tadi pagi gue juga hanya makan sereal.


"Ayuk" Gue menggandeng lengan Amel. Gue melihat sekilas ke arah Bella yang menatap sinis ke arah gue. Bodo amat lah ya, gue nggak bakalan terpengaruh sama tatapan kayak gitu.


Sesampainya di kantin Amel ikut mengantri di sana, sementara gue mencari bangku yang kosong. "Hei kok bengong?" suara ini begitu familiar di telinga gue. "Dean" gue menatap Dean dengan tatapan kaget seperti baru saja melihat hantu.


Amel datang membawa dua mangkok bakso dan jus jeruk kesukaan gue. Sebenarnya sih gue nggak terlalu pilih pilih soal makanan. Amel meletakkan bakso itu di depan gue. "Gue ke ruang musik dulu ya, makan yang banyak!" Dean mengusap kupluk gue dengan lembut. Gue blushing mendapat perlakuan tak terduga dari Dean.


"Ehm gue masih di sini loh Dean" Amel sengaja menggoda gue.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂


Budayakan RLCS ya readers! 😉😉😉


Read, Like, Comment, & Share. Terima kasih banyak udah mampir ke sini. Lain kali mampir lagi ya! 🤗🤗🤗