What's Wrong With Destiny?

What's Wrong With Destiny?
Episode 11



"Dadah" Dean melambaikan tangan nya dan gue melirik Amel sekilas. Terukir senyum dari wajah Amel, gue melihat ke sekitar kami, gue melihat Amel yang curi curi pandang sama seorang cowok yang duduk di pojokan kantin.


Ya gue tau namanya karena kami udah hampir dua tahun sekelas, namanya Fatan Mahendra. Gue nggak tau apa yang terjadi sama Amel yang jelas dia jadi jaga image saat makan sama gue. Nih anak kesambet apa sih?


Selesai makan kami balik ke kelas, gue melihat Amel jadi blushing, gue melirik sekilas ternyata Fatan berjalan di samping kami.


Sesampainya di kelas kami duduk di bangku masing masing, tak lama guru pun datang. Gue melihat ke pintu, namun tidak ada tanda tanda kedatangan Jimmy, gue sedikit khawatir sama tuh anak. Gue rasa dia sekarang ada masalah, tapi kayaknya dia nggak mau berbagi.


Sepulang sekolah, Jimmy belum balik ke kelas dan sepertinya dia nggak bakalan balik mengingat kami juga sudah selesai belajar.


"Anna, pulang bareng yuk!" Dean menghampiri bangku gue.


"Boleh, tapi Anna mau belanja dulu, bahan di apartemen udah habis" gue membereskan buku tulis gue dan memasukkannya ke dalam tas.


"Yuk, gue mau nemenin loe belanja, sekalian belajar" gue terkejut mendengar penuturan Dean.


Kami keluar dari pekarangan sekolah, Dean mengemudikan mobilnya dengan hati hati, sesampainya di minimarket, gue langsung menuju ke tempat penjualan makanan dan sayuran. Gue memang sering belanja di sini, gue udah mandiri loh.


Gue melihat Dean memasukkan banyak sayuran ke keranjang belanjaan gue, Apa Dean juga mau beli sayur?


Gue melanjutkan pekerjaan gue sampai kami benar benar lelah berkeliling kesana kemari hanya untuk mencari makanan kesukaan gue, ya gue suka coklat, apapun itu kalau terbuat dari coklat gue suka banget.


Gue celingukan mencari keberadaannya Dean, saat kasir tengah menghitung belanjaan gue, Dean datang dengan membawa dua buah ice cream. Dean langsung membayar semua belanjaan gue.


"Dean, nggak usah, Anna bawa uang kok"


"Nggak apa apa, uang loe di simpan aja"


"Kita turun dulu yuk!" gue hanya mengangguk mengikuti keinginan Dean. Gue melihat Dean mengambil ice cream tadi dan membawanya ke tempat duduk di taman itu. Gue duduk di samping Dean.


"Nih! Buat loe" Dean memberikan satu ice cream dan gue langsung meraihnya dengan wajah antusias. "Makasih Dean" gue langsung membuka ice cream itu.


"Anna, loe nggak pandai makan ice cream ya" Dean membersihkan sisa sisa ice cream di bibir gue. Gue mengerjap beberapa kali mencerna apa yang terjadi. Deg deg deg


Gue menegang seketika, siapa yang nggak tegang coba kalau jarak wajah gue sama Dean cuma beberapa senti. Gue menahan napas begitu tangan lembut milik Dean mendarat di bibir gue. Dean menatap gue heran hal itu terpatri jelas di wajahnya.


"Bernapas Anna!" Dean menjentikkan jarinya di depan wajah gue.


Gue langsung mengalihkan pandangan gue ke arah lain, Dean terkekeh melihat tingkah malu malu gue.


"Pulang yuk!"


"Ayuk" kami memasuki mobil Dean. Sesampainya di depan apartemen gue. "Makasih ya Dean"


"Iya" Dean menjawab sambil tersenyum.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂


Budayakan RLCS ya readers! 😉😉😉


Read, Like, Comment, & Share. Terima kasih banyak udah mampir ke sini. Lain kali mampir lagi ya! 🤗🤗🤗