
Selesai makan Adam berjalan ke ruang kerjanya, Adam tak sengaja menemukan sosok laki laki yang sedang duduk di ruang tamu, "Siapa kau?" Adam menghampiri James.
"Saya James om" James berdiri dari duduknya. Adam tersenyum lembut.
"Pulang kampung?" Adam mempersilakan agar James duduk kembali. "Nggak om, nemenin Anna" James nyengir.
Adam terkejut, "Enjoy your time" Adam meninggalkan James di ruang tamu dan masuk ke ruang kerjanya. Adam melihat Anna yang duduk di kursi dekat meja kerjanya. Adam melirik makanan yang tidak di sentuh oleh Anna sedikitpun. Adam menghela napas pasrah.
"Apa tidak merasa lapar setelah melewati perjalanan yang panjang seharian ini?"
"Apa yang papi mau omongin sama Anna?" Anna to the point mengutarakan isi pikirannya.
"Kau tidak pernah berubah Anna selalu keras kepala seperti ku"
"..."
"Papi ingin kamu tunangan dengan Justine"
Anna sedikit terkejut mendengar permintaan tidak masuk akal dari papi nya. "Kalau Anna menolak?"
"Papi tidak menerima penolakan, lagian ini hukuman untuk yang bersalah"
"Anna berhak menentukan pilihan Anna kalau untuk masalah pendamping hidup, lagian Anna masih SMA, Anna belum kepikiran untuk hal itu"
"Kamu harus mengubah penampilan mu, kalau kamu tunangan sama Justine, dia bakalan ngatur seluruh style kamu"
"..."
"Papi mau putri papi seperti putri yang lainnya"
"Anna mau tunangan tapi bukan sama Justine" Anna mengalah kali ini, karena sekuat apapun Anna menentang kalau kehendak ayahnya tidak akan bisa di ganggu gugat.
"James?"
Anna mendongak lalu mengangguk ragu. "Sudah papi duga" Adam tampak berpikir.
"Ayo kita ke ruang tamu, James dari tadi menunggu mu"
Anna dan Adam keluar dari ruangan itu dan berjalan ke ruang tamu.
Samar samar Anna mendengar ucapan Daniel dan James.
"Loe punya adik ya? Kayaknya Anna bukan anggota keluarga ini deh" James berkata dengan datar membuat darah Daniel mendidih.
Megan dan Liana duduk di sofa terpisah. Adam menghampiri istrinya sementara Anna duduk di samping James.
"Kapan kalian akan melangsungkan pertunangan? Papi harap secepatnya"
James kaget bukan main, namun James menyembunyikan ekspresi kaget nya, Anna mengeratkan pegangan tangan nya di lengan James.
"Mungkin dalam minggu ini om, yang pasti setelah wajah Anna sembuh dengan sempurna" James berkata dengan mantap sambil menatap Anna seperti pasangan yang saling mencintai pada umumnya.
"Loe nggak malu tunangan sama cewek kayak gini?" Megan menunjuk jijik ke arah Anna.
"James itu mencintai gue yang apa adanya bukan karena harta atau penampilan atau apapun lah itu, nggak kayak loe" Anna berkata dengan judes.
"Jaga omongan kamu Anna!" Liana angkat bicara. Anna menatap tidak percaya kepada Liana.
"Anna ngomong fakta kok, zaman sekarang susah nyari cewek kayak Anna tau nggak, kalau cewek matre banyak"
Plak
Daniel menampar wajah Anna sehingga darah segar keluar dari sudut bibir Anna.
"Apa? loe nggak terima gue bilang kayak gitu, loe itu cuma di guna guna sama nenek lampir ini, main masuk aja ke keluarga gue, dia pikir dia pantas berada di keluarga ini"
Plak
Kali ini Liana yang menampar wajah Anna sehingga pipi Anna yang semula memerah berubah menjadi biru.
"Apa mami pernah ngajarin kamu ngomong kayak gitu?" Liana menyilangkan tangannya di depan dada.
"Harusnya kamu yang ngaca, kamu pantas nggak di keluarga ini? Bikin malu aja"
"Cukup Liana!" nenek Anna datang dan langsung menarik Anna ke dekatnya.
BERSAMBUNG 🙂🙂🙂
Budayakan RLCS ya readers! 😉😉😉
Read, Like, Comment, & Share. Terima kasih banyak udah mampir ke sini. Lain kali mampir lagi ya! 🤗🤗🤗