
Perlahan Quinsha keluar dari pintu mobil, melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua, dan berdiri di tengah di antara mereka berdua. Kedua tangannya di rentangkan, menatap ke arah Arkana lalu berganti menatap Bramantio Anderson.
"Stooppp!!" teriak Quinsha.
"Hentikan! aku tidak tahu masalah kalian berdua itu apa, tapi jangan libatkan aku!!"
"Menyingkir Quinsha! mahluk satu ini harus di lenyapkan!!" seru Arkana lantang.
"Hahaha, tapi kenyataannya kau tak dapat mengalahkanku, Arkana!" balas Bramantio.
"Hentikan!!" pekik Quinsha bersamaan matanya silau dengan cahaya putih. Quinsha memejamkan matanya, bersamaan dia merasakan tubuhnya melayang.
"Bukk!!"
Mata gadis itu terbuka, ia merasakan bokongnya sakit membentur jalan aspal.
"Ah sialan, rupanya mereka bertarung lagi." Gumam gadis itu sambil mengusap bokongnya, matanya terus mengawasi setiap pergerakan yang di lakukan kedua pria tersebut.
Angin berhembus kencang, membuat Quinsha harus menutup matanya, lalu berjalan merangkak mencari perlindungan di balik pohon yang ada di tepi jalan raya.
Dari balik pohon Quinsha bisa mengawasi kedua pria berambut gondrong itu bertarung. Cahaya putih bening menyelimuti sekitar area yang di salurkan dari tangan kanan Bramantio untuk menjaga jarak antara manusia dan mereka. Secara tidak langsung, Bramantio tidak ingin ada manusia yang terluka yang di akibatkan pertarungan mereka berdua.
"Ya Tuhan, mereka itu manusia atau iblis?" tanya Quinsha bertanya pada diri sendiri.
"Bleddarrr!!"
Tiba tiba terdengar suara petir bersahutan di atas langit. Quinsha tengadahkan wajahnya menatap langit, lalu mengalihkan pandangannya pada Bramantio yang mengangkat tangan kanannya bersamaan dengan petir menyambar dari atas langit lalu ia hempaskan ke arah Arkana.
"Bleddaarr cahaya kilat mengenai sebuah pohon lalu tumbang bersamaan dengan tubuh Arkana melayang ke udara lalu menginjakkan kakinya dengan sempurna ke jalan aspal.
"Aku harus pergi dari sini."
Quinsha kembali berjalan merangkak lalu berdiri. Setengah berlari ia menjauh dari area pertarungan. Hingga tak terasa ia sudah berada di depan halte. Gadis itu menarik napas lega karena telah berhasil melarikan diri.
"Akhirnya, aku selamat juga." Gumam Quinsha mengusap dadanya lalu duduk di bangku halte untuk beristirahat mengatur napasnya.
"Kau lelah?" sapa seseorang.
Quinsha menoleh ke kiri, matanya melebar berjengkit kaget lalu berdiri dan kembali berlari meninggalkan halte.
"Hantuuu!!!" teriak Quinsha.
Namun tangan kekar tapi lembut menarik tangan Quinsha mundur ke belakang dan mendekap erat pinggangnya.
"Aku Bram, bukan hantu." Ucap Bram menatap wajah Quinsha yang melotot ke arahnya.
"Aku katakan berapa kali, aku bukan hantu!" balas Bram.
"Kau-?" Quinsha tidak melanjutkan kata katanya, yang ia rasakan tubuhnya terangkat dan sudah berada di atas pundak Bramantio.
"Turunkan aku, Hantu! turunkan aku!!" pekik Quinsha terus memukul punggung Bramantio.
Namun pria itu tidak memperdulikannya, lalu ia membawa tubuh Quinsha masuk ke dalam mobilnya.
"Duduk yang manis, dan mulai sekarang kau tidak perlu bekerja di kelab lagi. Kau paham!!" bentak Bramantio menatap tajam Quinsha.
"Hei apa masalahmu dan apa hakmu mengatur hidupku!" seru Quinsha tak kalah kesal, lalu ia membuka pintu mobil namun Bram sudah menguncinya.
"Mulai sekarang, apapun itu. Kau menjadi urusanku." Kata Bram.
Quinsha menoleh ke arah Bram. Menatap horor pria tersebut.
"Apa kau bilang? memangnya kau siapa? kau bukan siapa siapa aku!" pekik Quinsha memukul bahu Bram dengan kencang. Detik berikutnya Quinsha baru sadar, kalau pukulannya tidak ada apa apanya. Lalu ia menarik tangannya, duduk dengan tenang.
"Bagus, jadilah anak yang baik." Kata Bram, lalu ia menjalankan mobilnya.
Quinsha tidak melakukan perlawanan lagi, percuma gadis itu lakukan tidak akan ada pengaruhnya. Quinsha memilih diam memperhatikan setiap jalan yang di lalui supaya ia bisa melarikan diri nantinya.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di sebuah rumah yang sangat megah. Terlihat sangat sepi dan tidak ada penjagaan di rumah itu, kecuali penjaga gerbang rumah.
"Ayo turun!" Bramantio membuka pintu mobil dan memaksa Quinsha keluar dari dalam mobil.
Mau tidak mau, Quinsha mengikuti apa mau Bramantio. Mereka melangkah bersama memasuki rumah megah itu. Di dalam rumah, Quinsha di buat kagum, di luar nampak sepi tapi di dalam terlihat banyak asisten rumah tangga dan beberapa penjagaan di setiap sudut rumah.
"Bawa dia ke kamar, dan urus semua keperluannya!" perintah Bramantio kepada semua asisten rumah tangganya.
"Baik Tuan!" sahut mereka serempak.
"Mari Nona!" ajak salah satu wanita yang berambut kribo, bernama nona Lu Whak.
"Aku bisa sendiri." Quinsha menepis tangan Lu Whak lalu melangkahkan kakinya mengikuti asisten rumah tangga yang lebih dulu berjalan untuk menunjukkan kamar yang akan Quinsha tempati.
"Silahkan Nona!" Lu Whak mempersilahkan Quinsha masuk ke dalam kamar berukuran sangat luas, terlihat mewah dan elegan setiap aksesoris di kamar itu. Quinsha berkali kalu berdecak kagum.
"Nona, silahkan anda betistirahat. Semua keperluan Nona akan kami siapkan. Kami permisi."
Lu Whak dan temannya membungkuk hormat, lalu meninggalkan Quinsha di kamar itu sendirian.
"Apa maksud Bramantio? apa dia akan melakukan satu kejahatan padaku?" gumam Quinsha.