Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 47



Sesampainya di kediaman Bramantio, kebetulan sekali mereka sudah berada di rumah. Bramantio dan Quinsha terkejut sekaligus gembira melihat kedatangan Arkana dan Kucay, setelah sekian lama berpisah.


Bramantio tersenyum tipis, bola matanya berbinar menatap Arkana. Kedua tangannya di rentangkan menyambut Arkana.


"Apa kabar bodoh!" sapa Bramantio.


Arkana hanya tertawa lebar, lalu memeluk erat tubuh Bramantio. "Baik, bagaimana kalau kita duel? sudah lama ototku tidak di gunakan."


"What??" mata Bramantio melebar, melepas pelukan Arkana.


"Hahahaha!" Kucay tertawa melihat dua sahabat sekaligus musuh bebuyutan bertemu.


Arkana mengalihkan pandangannya ke arah Quinsha. Ia tersipu malu, menundukkan kepala. Kedua tangannya hendak memeluk Quinsha, namun Bramantio memukul perut Arkana pelan.


"Jaga sikap!"


Namun Arkana tak perduli, ia langsung memeluk Quinsha. "Apa kabar sayang."


"Hey !" Bramantio menarik kerah baju Arkana mundur ke belakang.


Quinsha tertawa lebar, seraya mengusap air matanya. "Dasar bodoh, kenapa kau meninggalkan kami."


"Maaf Quin, aku tidak mau mengganggu kalian. Lagi pula, sekarang aku sudah berada di dekat kalian." Jawab Arkana.


"Ibu, kalian sudah kenal dengan pacarku?" tanya Naomi, bergelayut manja di tangan Quinsha.


"Pacar? siapa pacarmu?" tanya Quinsha menoleh ke arah Naomi.


"Dia!" tunjuk Naomi ke arah Arkana.


"Astaga!" ucap Arkana menepuk keningnya sendiri.


Kucay dan Basreng tertawa cekikikan. Sementara Bramantio dan Quinsha saling pandang, matanya melotot ke arah Arkana.


"Naomi, jangan dia." Kata Bramantio.


"Ayah, kenapa tidak boleh. Aku menyukainya." Ucap Naomi.


Arkana hanya bisa tertawa lebar, siap siaga kalau ada serangan mendadak. Namun kali ini Bramantio lagi berbaik hati.


"Sayang, putriku. Kau main mainlah dengan paman Kucay. Ayah mau bicara hal penting dengan si bodoh ini." Kata Bramantio menatap Arkana.


"Ayah, jangan sebut dia bodoh." Protes Naomi.


"Oke, maaf. Ayah sudah biasa nak, itu panggilan sayang." Sahut Bramantio tersenyum tipis, tapi matanya melotot ke arah Arkana.


"Baiklah ayah!"


Naomi menarik tangan Kucay dan Chireng, kemudian mereka bertiga melangkah bersama keluar dari ruangan.


Sepeninggal Naomi. Bramantio mencengkram kerah baju Arkana. "Sejak kapan kau ada di dunia manusia? kenapa kau tidak menemui kami?"


"Sejak kalian menikah, aku memilih tinggal di dunia manusia." Jawab Arkana.


"Hal penting apa? mengenai Lexi?" tanya Arkana.


"Kau sudah tahu?" tanya Quinsha.


Arkana menganggukkan kepala, "itulah sebabnya aku kembali ke dunia manusia."


Bramantio menghela napas berat. "Lexi dan Dominic, melarikan diri. Mereka bergabung dan mempengaruhi klan lain supaya membelot. Saar ini, mereka mencari kitab rahasia, yang berada di tanah larangan." Ungkap Bramantio.


"Tanah larangan??" Mata Arkana melebar, siapa yang tidak tahu tempat penuh misteri dan angker tersebut.


"Benar." Kata Bramantio. "Satu lagi, mengenai putriku."


"Ada apa dengan putrimu?" tanya Arkana.


"Putriku memiliki kemampuan tanpa batas, menyerap energi manusia dan mahluk lainnya. Tidak hanya itu, kehadirannya akan membawa bencana untuk klan manusia, seandainya putriku sedang marah." Jelas Quinsha.


"Kekuatan tanpa batas, darah murni yang di miliki Naomi, dua kali lipat sangat berbahaya di banding Quinsha." Arkana tertunduk, memikirkan bencana apa yang akan menimpa manusia.


"Kita harus mencari kitab itu, informasi yang kudengar. Kitab itu sudah tidak ada di tanah larangan." Timpal Bramantio.


"Lalu?" tanya Arkana serius.


"Ada di tangan salah satu manusia, dia seorang CEO di perusahaan Giok ternama. Tapi sampai saat ini, keberadaan pria muda itu sulit di lacak." Imbuh Bramantio.


"Kenapa? apa istimewanya manusia itu?" tanya Arkana.


"Dia setengah manusia, setengah iblis." Kata Quinsha.


"Wow, ini sangat menarik dan akan jadi petualangan yang mengerikan." Ujar Arkana menatap tajam Bramantio.


"Bodoh, aku butuh bantuanmu. Bisakah kau menjaga putriku? selama aku dan Quinsha pergi ke tanah larangan untuk memastikan." Pinta Bramantio.


"Tentu saja, tanpa kau minta. Akan aku lakukan." Arkana tidak menolak permintaan Bramantio.


"Jangan sampai Naomi membuat bencana di dunia manusia."


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dengan baik." Kata Arkana.


Bramantio dan Quinsha mengangguk. Mereka percaya sepenuhnya kepada Arkana.


"Aku buatkan kau masakan kesukaanmu." Tawar Quinsha.


"Baiklah sayang." Sahut Arkana.


"Hey bodoh, jaga ucapanmu." Protes Bramantio.


"Hahaha!"


Bramantio merangkul bahu Arkana. Mereka bertiga pergi ke dapur untuk memasak, sekalian reuni masa masa dulum