Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 36



Sejak kejadian penyerangan yang di lakukan oleh ketua klan. Secara terang terangan mereka meminta Quinsha secara langsung kepada Bramantio, membuat pria itu semakin posesif melindungi Quinsha.


Bramantio yang sibuk tidak hanya di dunia manusia dan sebagai pemimpin seluruh klan dimensi lain. Akhirnya dengan terpaksa meminta Arkana untuk menjadi pengawal pribadi Quinsha. Tidak hanya Arkana saja, Bramantio memerintahkan orang kepercayaannya dari klan Demon, yaitu Chi Reng untuk mengawal Quinsha baik di dunia manusia maupun di dimensi lain.


"Quin, apa kau baik baik saja?" tanya Bramantio menatap gadis di hadapannya.


"Bodoh! sejak aku bertemu dengan kalian, sekarang sederetan pria gila coba membunuhku!" umpat Quinsha kesal.


"Ini semua demi kebaikanmu, Quin." Bramantio masih enggan untuk menjelaskan apa alasan mereka memburunya. Bukan tanpa alasan Bramantio tetap bungkam, ada hal yang sangat ia khawatirkan andai Quinsha mengerahuinya sekarang.


"Terserah, aku lapar! dari pada mendengarkan ocehanmu yang tak masuk akal, lebih baik aku makan," jawab Quin ketus. Lalu balik badan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Bramantio menarik napas dalam dalam, menoleh ke belakang. Menatap jengah Arkana yang mentertawakannya.


"Apa yang lucu?!" tanya Bramantio kesal.


Arkana berhenti tertawa, menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Tidak ada, sudah aku katakan Sebelumny. Ini tidak akan mudah, mereka mulai terang terangan menyerang dan membelot."


Bramantio tersenyum sinis, "aku masih pemimpin mereka. Aku tidak segan segan melenyapkan mereka jika berani melukai Quinsha." Bramantio matanya menyipit. "Atau..kau punya niat yang sama?"


"Wooow..wow.." Arkana bereaksi tidak suka. "Kalau aku punya niat seperti itu banyak kesempatan, tapi semua itu tidak kulakukan. Justru saat ini aku sudah mengkhianati klanku sendiri." Arkana menatap tajam Bramantio.


"Siapa tahu, bukan?" Bramantio menyipitkan matanya.


"Kalian malah bertengkar, mau sampai kapan? sudah bukan waktunya lagi. Kita harus mencari solusi," sela Chi Reng yang sedari tadi diam. Chi Reng sendiri pangeran dari klan werewolf, yang memilih bergabung dengan Bramantio.


"Byurrrr!!!"


Bramantio, Arkana dan Chi Reng berjengkit kaget. Mendapat siraman air dari arah pintu dapur. Mereka bertiga menoleh ke arah Quinsha yang berdiri di ambang pintu, tersenyum penuh kemenangan.


"QUIN!!" ucap mereka serempak.


"Sekali lagi aku mendengar keributan, bukan lagi air bersih yang aku siramkan. Tapi air kotoran binatang, kalian paham?!" mata Quinsha mendelik kepada tiga pria di hadapannya, lalu balik badan dan kembali masuk ke dapur.


"Ini bukan air biasa," ucap Bramantio menatap Chi Reng.


"Kau benar!" sahut Chi Reng matanya melotot, hidungnya kembang kempis.


"Sepertinya aku hapal dari baunya." Timpal Arkana menatap Bramantio dan Chi Reng.


"AIR KOTORAN KUDA!!" ucap mereka serempak menoleh ke arah pintu dapur yang terbuka.


"QUIIINN!!" panggil mereka serempak dengan nada tinggi. Di sambut suara tertawa terbahak bahak Quinsha di dalam ruangan dapur.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!"


****


Sementara di tempat lain, di istana Bangsawan tinggi Salman Cakra Nagara tengah melamun, memikirlan Quinsha.


"Aku memang tidak pernah melihat putriku, tapi entah mengapa aku merasa kalau Quinsha adalah putri kandungku," gumam Salman pelan, beranjak dari kursi kebesarannya. Melangkahkan kakinya menuju jendela ruangan yang terbuka.


"Aroma darah milik gadis itu sangat harum dan manis, satu satunya pemilik darah itu adalah putriku. Aku yakin, Quinsha putriku." Tatapannya lurus ke depan.


Bayangan masa lalu tiba tiba terlintas di benaknya. Masa lalu yang coba ia lupakan dengan sekuat hati, rasa penyesalan yang tiada akhir. Setiap detik selalu menghantui Salman Cakra Nagara.


Luciana dan cinta pertama dan terakhirnya. Meski Luciana sudah tidak ada lagi, hilang dari pandangannya. Namun cintanya kepada wanita itu masih tersimpan di lubuk sanubarinya, yang setiap saat ia rindukan kehadirannya.


Salman tersenyum mengenang kebersamaannya dengan istri tercinta, namun kenangan indah itu berubah menjadi mimpi buruk saat orang tua Salman Cakra Nagara memintanya untuk menikahi Azura. Ia sama sekali tidak berdaya menolak keinginan orangtuanya. Ia juga merasa tidak dapat melindungi wanita yang ia cintai saat tuduhan palsu di berikan kepada Lucian hingga hukuman eksekusi mati.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku..." ucap Salman Cakra Nagara di sertai buliran bening dari sudut matanya.


"Aku sudah mengorbankan wanita yang aku cintai, tidak akan lagi kukorbankan putriku. Aku harus berbuat sesuatu, putriku harus mendapatkan haknya."