
Bramantio meletakkan tubuh Quinsha di atas sofa. Sementara Jasmin mengambil air hangat dan kain lembut untuk membasuh luka dan menghilangkan noda darah.
Arkana duduk di samping kanan Quinsha, dan Bramantio duduk di samping kiri gadis itu.
"Ini semua gara gara kau, Arkana." Rutuk Bramantio.
"Enak saja kau menyalahkanku, siapa yang lebih dulu ngajak ribut?" balas Arkana menunjuk ke wajah Bramantio.
"Jelas jelas kau yang duluan, andai kau tidak mengganggu kami, mungkin Quinsha tidak akan mengalami semua ini." Bramantio menatap horor wajah Arkana.
"Kau-?"
"Stooppp! teriak Quinsha pusing. "Bisa tidak? kalian tidak ribut sebentar saja!"
"Maafkan aku, Quin. Semua gara gara si bodoh itu!" rutuk Bramantio.
"Kau juga sama bodohnya! menjaga Quinsha saja tidak becus!" timpal Arkana tidak mau kalah.
"Cukup! seru Quunsha melirik sesaat ke arah dua pria di sampingnya. "Kalian sama sama bodoh!"
"Sayang, aku bodoh karna terlalu mencintaimu.." Goda Arkana, tangannya terulur menyentuh hidung Quinsha.
"Mulut boleh bicara, tanganmu harus tau diri!!" Sungut Bramantio memukul tangan Arkana.
Sementara Jasmin hanya menggelengkan kepala, ia terus mencabuti pecahan kaca di kaki Quinsha. Dan tidak mau melerai keributan dua anak laki laki itu.
"Bisa tidak? kalian pergi dari hadapanku?" pinta Quinsha.
"Aku-?"
"Pergi!!" Quinsha meneriaki mereka berdua.
"Baiklah!" Sahut mereka serempak, lalu berdiri, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan menuju halaman rumah.
"Aku ada ide, bagaimana kalau kita berikan separuh energi kita pada Quinsha untuk melindunginya, supaya Dominic tidak bisa mengetahui keberadaan Quinsha. Bagaimana?" usul Arkana.
"Aku setuju, tapi itu tidak akan bertahan lama." Jawab Bramantio.
"Tidak masalah, kita bisa mengulangnya lagi. Yang terpenting Quinsha bisa hidup normal." Arkana kembali meyakinkan Bramantio.
"Bagaimana masalah penobatan hak waris itu?" tanya Bramantio.
"Selama Valeri tidak mendapat cap stempel itu, dia tidak akan menjadi pewaris tunggal. Kalaupun mereka menggunakan stempel palsu. Tetap akan ketahuan oleh dewan tertinggi istna." Jelas Arkana.
"Kau benar!" sahut Bramantio. "Bisa saja aku memberitahu Tuan Salman kalau Quinsha adalah pemilik hak waris itu. Tapi selama Azura dan kroni kroninya masih hidup dan tinggal bersama di istana itu. Hidup Quinsha tidak akan aman.
"Kau benar, sebaiknya kita rahasiakan dulu. Dan biarkan Quinsha hidup normal. Yang penting kita bekerjasama untuk melindungi dan mengawasinya. Timpal Arkana.
"Bagaimana dengan Jasmin? bagaimana kalau dia mengatakan semuanya pada Quinsha?" tanya Bramantio lagi.
"Kau tenang saja, aku bisa mengajaknya bekerjasama demi keselamatan Quinsha." Arkana tersenyum tipis, baru kali ini otaknya di pakai untuk membicarakan hal serius. Biasanya otak mereka di pakai hanya untuk mengalahkan satu sama lain, selain bertarung.
"Aku setuju, demi Quinsha aku rela bekerjasama bersamamu. Tapi untuk mendapatkan Quinsha, aku tidak mau bekerjasama denganmu." Bramantio mengulurkan tangannya.
"Deal!" Arkana membalas jabatan tangan Bramantio.
Kemudian mereka mengajak bicara Jasmin, dan me jelaskan semua kekhawatiran mereka. Tanpa banyak bantahan, Jasmin menyetujuinya.
Keesokan harinya, Bramantio mengizinkan Quinsha pulang ke rumahnya bersama Jasmin. Meski Bramantio melepas Quinsha, dia dan Arkana tetap mengawasi dan menjaganya dari jarak jauh.
Tidak hanya itu, Bramantio menawarkan gadis itu untuk menjadi sekretaris di perusahaan yang dia pimpin. Quinsha menyetujuinya, menerima apapun usul Bramantio dan Arkana. Tapi tidak menerima cinta kedua pria tersebut.
Meskipun Arkana dan Bramantio terus melancarkan aksinya untuk mendapatkan cinta gadis itu.