Unreasonable Ceo

Unreasonable Ceo
Bab 17



Keesokan paginya Quinsha sudah bangun, rapi, dan bersiap siap untuk pulang. Quinsha sudah bertekad untuk kembali kerumahnya dan kembali bebas tanpa di ganggu Bramantio lagi.


"Kau mau kemana?" bisik Bramantio.


Quinsha balik badan, melotot ke arah Bramantio dan mendorong tubuhnya ke belakang.


"Kau selalu membuatku kaget, lama lama aku bisa mati jantungan!" sungut gadis itu kesal.


"Aku bertanya, kau selalu memaki. Apa yang salah?" tanya Bramantio melipat kedua tangannya di dada.


"Kesalahannya kau sendiri. Kau lah kesalahan itu!" tunjuk Quinsha ke dada Bramantio.


"Kau mau kemana?" Bramantio mengulang pertanyaannya.


"Pulang, minggir!" Quinsha berjalan seraya mendorong bahu Bramantio kesamping.


"Tidak akan pernah! kau tetap di sini bersamaku."


Bramantio menarik tangan Elena mundur kebelakang, lalu mendekapnya dengan erat.


"Lepaskan aku, bodoh! aku mau pulang, aku mau bebas dari bayang bayangmu." Rutuk Quinsha.


"Tidak bisa, kau hidupku, kau milikku, satu langkahpun tidak akan kubiarkan kau pergi dari pandanganku." Jawab Bramantio.


"Kau memang gila!" sungut gadis itu.


"Tetaplah bersamaku, di sini. Aku akan menjadikan kau Ratu di hatiku dan di rumah ini." Kata Bramantio tersenyum tipis menatap kedua bola mata gadis itu.


"Ratu? hahahahaha! kau terlalu banyak nonton drama. Lama lama kau gila, karena halusinasimu!" umpat Quinsha.


"Terserah apa katamu!" Bramantio melepaskan pelukannya.


"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Bram! lebih baik kau serahkan Quinsha padaku!"


Bramantio menoleh ke arah pintu balkon kamar, menatap marah ke arah Arkana Devin. "Kau lagi!


"Hah, hantu satu lagi muncul. Sebentar lagi mereka bertarung, sudah bisa di pastikan. Kesempatan aku untuk melarikan diri." Ucap Quinsha dalam hati.


"Langkahi dulu mayatku, baru kau boleh ambil dia!" tunjuk Bramantio ke arah Quinsha.


"Ayo, kita buktikan!" tantang Arkana lalu dengan secepat kilat, ia sudah menghilang di pintu.


"Ini kesempatan aku untuk kabur."


Quinsha balik badan, lalu berlari keluar dari kamar. Menyusuri lorong, dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar.


"Nona, kau mau kemana?" tanya Borju yang melihat Quinsha berjalan tergesa gesa.


"Bukan urusanmu, Paman. Sebaiknya kau memasak saja!" sahut Quinsha sambil berlari ke arah pintu utama.


Quinsha terus berlari menjauh dari rumah Bramantio, menyusuri tepi jalan raya. Lalu ia menghentikan sebuah taksi, lalu masuk ke dalam taksi tersebut.


Gadis itu bisa bernapas lega, menoleh ke belakang saat Taksi mulai melaju dengan kecepatan maksimal.


"Kalau aku pulang ke rumah, sudah pasti Bramantio dan Arkana akan menemukanku. Sebaiknya aku pindah secepatnya dari rumah Bu Jasmin." Gumam Quinsha pelan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya sampai di halaman rumah. Quinsha keluar dari taksi dan meminta sang sopir untuk menunggu. Ia berlari masuk ke dalam rumah, dan membereskan pakaian seadanya ke dalam koper. Tak lama kemudian ia sudah kembali dan masuk ke dalam taksi.


"Mau kemana lagi Nona?" tanya sang sopir tanpa menoleh ke arah Quinsha.


"Jalan saja dulu Pak, nanti aku beritahu!" pinta gadis itu.


"Baiklah Nona!" sahut sang sopir.


Quinsha terdiam, sudah setengah perjalanan mutar sana sini tapi dia masih bingung mau tinggal di mana. Tak lama kemudia dia tersadar, kenapa tidak kembali ke pulau terpencil itu lagi untuk sementara? dia juga merasa rindu dengan sosok Romo.


"Kita kemana lagi Nona?" tanya sang sopir tanpa menoleh ke arah Quinsha.


"Belok kanan, lurus sampai ujung jalan ini ya!" sahut Quinsha memberikan petunjuk.


Gadis itu kembali terdiam, memejamkan matanya. Tak lama kemudian dia membuka mata karena merasakan taksi yang ia tumpangi berhenti.


"Kenapa berhenti di sini?" Quinsha menoleh ke arah kaca jendela. Matanya melebar, dan baru menyadari sang sopir kembali membawanya tepat di depan rumah Bramantio.


"Kenapa kau membawaku kesini!" bentak Quinsha menatap punggung sang sopir yang mengenakan topi.


Sopir itu membuka topinya lalu menoleh ke belakang, tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.


"YA TUHAAANNN!!! Pekik Quinsha menepuk keningnya sendiri.


"BRAMANTIO!!