
Sesampainya di rumah istana milik Bangsawan tersebut. Arkana berhasil menyusupkan Quinsha ke dapur rumah istana dan menyamar sebagai asisten rumah tangga. Quinsha hanya punya waktu seharian saja untuk menyelidiki, sementara Arkana akan menghabiskan waktu bersama Lexi, putri Bangsawan Salman Cakra Negara.
Quinsha mendapatkan tugas untuk membersihkan setiap sudut ruangan istana tersebut, dan di manfaatkan gadis itu untuk mencari keberadaan Jasmin.
Di mulai dari menyusuri lorong istana, hingga sampai ke lapangan istana di mana ia pingsan. Namun Quinsha tidak menemukan Jasmin. Lalu ia kembali ke tempat semula, dan menemukan jalan menuju ruang bawah tanah.
"Tempat apa ini? pengap sekali." Ucap Quinsha pelan, terus melangkahkan kakinya menuju ruang bawah tanah.
Quinsha terkejut sesampainya di ruang bawah tanah. Terdapat penjara, dan dua pria dalam keadaan terikat rantai besi terkapar tak berdaya.
"Haus..haus.." ucap salah satu pria yang tak menggunakan baju.
"Paman, apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Quinsha.
Pria itu mendongakkan wajahnya menatap ke arah Quinsha.
"Kau, siapa?" tanya pria itu.
"Namaku Quinsha, apa paman butuh air?" tanya Quinsha.
"Quinsha?" ucap pria itu terkejut, namun detik berikutnya pria itu tertawa terbahak bahak hingha kehilangan napasnya.
"Akhirnya keadilan akan segera tiba!!" pekiknya dengan suara serak karena tenggorokannya kering.
Quinsha mengerutkan dahi, berjalan mundur ke belakang. "Dia mungkin sudah gila."
Gadis itu memperhatikan sekitar, lalu melihat sebotol air mineral dalam wadah. Ia ambil botol tersebut, lalu di lemparkan ke arah pria yang ada di dalam penjara.
"Paman, minumlah. Aku pergi dulu!" seru Quinsha pelan lalu berlari kembali ke lantai atas.
"Di mana Bu Jasmin.." gumam Quinsha akhirnya merasa lelah setelah menelusuri sebagian dalam istana tersebut, namun Jasmin belum di temukan.
***
Sementara Bramantio yang ikut menyamar, masuk ke dalam istana. Diam diam memperhatikan Azura yang terlihat sangat gelisah, berjalan mondar mandir di depan seorang pria yang tak lain paman sekaligus penasehat istana.
"Bagaimana Paman? waktunya tinggal 6 bulan lagi. Sementara putriku tidak memiliki cap stempel istana kalau dia pewaris tunggal." Ucap Azura.
"Kita ceroboh, kita tertipu." Rutuk pria yang bernama capri. "Seharusnya kita tahu dari awal, kalau cap stempel terakhir telah di berikan kepada anaknya Luciana."
"Apa idemu?" tanya Capri.
"Bagaimana kalau kita buat yang palsu?" usul Azura.
"Bisa saja, tapi kalau di teliti. Tetap saja akan ketahuan, itu terlalu berisiko." Jelas Capri.
"Ahkkk! apa yang harus kita lakukan? jangan sampai harta warisan itu jatuh ke tangan anaknya Luciana." Azura semakin gelisah karena belum menemukan jalan keluar.
"Kita harus menemukan putrinya Luciana, lenyapkan anak itu dan kita bisa ambil tato naga di lengan anak itu." Ungkap Capri.
"Itu tidak mungkin, sampai sekarang kita tidak tahu di mana putri Luciana. Bisa saja sudah mati." Azura menolak usulan Capri.
Keduanya terdiam cukup lama. "Tidak ada salahnya kalau kita coba gunakan stempel palsu." Azura tetap bersikeras.
"Baiklah, jika itu maumu." Capri akhirnya menyetujui usul Azura.
Sementara Bramantio yang menguping pembicaraan mereka, akhirnya memahami satu hal. Telah terjadi kecurangan di keluarha bangsawan tinggi itu.
"Siapa Luciana? di mana putrinya? aku harus menemukan dan membantunya."Gumam Bramantio dalam hati.
Dan di tempat lain, Quinsha akhirnya menyerah. Dan memutuskan untuk kembali ke rumah Bramantio.
"Bagaimana? apakah kau temukan wanita itu?" bisik Arkana tiba tiba saja sudah ada di belakang Quinsha.
"Dasar hantu! kau buat aku jantungan!" rutum Qyinsha.
"Bagaimana?" tanya Arkana mengulang pertanyaannya.
Quinsha menggelengkan kepala. "Sepertinya Bu Jasmin tidak ada di sini, aku hanya salah melihat orang."
"Jadi?" tanya Arkana lagi.
"Kita pulang!" pekik Quinsha pelan.
"Baiklah Tuan Putri, siap laksanakan perintah." Goda Arkana.