
Quinsha berjalan tergesa gesa menuju halaman kantor Bramantio, pagi ini dia terlambat datang karena semalaman gadis itu menghabiskan waktu melatih kemampuan yang selama ini tidak dia ketahui.
"Bukkk!"
Tanpa sengaja, bahunya menabrak lengan seorang pria yang tak lain Salman Cakra nagara. Hampir saja Quinsha terjatuh, andai Salman tidak sigap menarik tangan gadis itu.
"Maaf, aku tidak sengaja." Kata Quinsha menundukkan kepala sesaat.
"Lain kali hati hati, kau bisa celaka kalau tidak memperhatikan jalan." Jawab Salman menaruk kembali tangannya.
"Terima kasih!" Quinsha membungkukkan badan sesaat, menatap wajah pria di hadapannya. "Boleh aku pergi?"
Salman tidak menjawab, ia menatap lekat wajah Quinsha. "Siapa namamu?"
"Quinsha."
"Quinsha?" ucapnya mengulang.
"Kau baik baik saja, Tuan?" tanya Quinsha.
"Namamu mirip dengan putriku, wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Apa ini suatu kebetulan?" Salman menautkan dua alisnya menatap Quinsha.
"Aku tidak tahu Tuan!" sahut Quinsha. "Aku sudah terlambat, permisi Tuan."
"Mungkin ini suatu kebetulan, putriku sudah lama tiada. Jika dia masih hidup, mungkin seusia anak gadis itu." Gumam Salman, tatapannya lurus menatap punggung Quinsha hingga hilang dari pandangannya.
Salman kembali melangkahkan kakinya, lalu masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, wajah Quinsha mengganggu hati dan pikirannya. Bayangan masa lalu, kembali menghantuinya.
Bayangan wajah sosok wanita yang ia cintai, yang telah memberikannya seorang putri. Kembali mengusik hati dan perasaannya, jeritan permohonan ampunan saat eksekusi mati. Sama sekali tidak ada yang mau mendengar termasuk dirinya sendiri.
"Luciana!!" pekiknya tiba tiba, membuat sang sopir menepikan mobilnya.
"Tuan, apakah baik baik saja?" tanya pria itu.
"Ya, aku baik baik saja," sahut Salman Cakra Nagara mengusap wajahnya dengan kasar.
Dua puluh tahun lamanya, ia membiarkan ketidak adilan terus di biarkan. Selama itu pula, penyesalan yang begitu besar bersemayam di dalam hatinya. Seakan menorehkan luka tiada henti. Mungkin, dia adalah pria satu satunya yang tega membiarkan wanita yang di cintainya menerima hukuman atas kesalahan yang tidak di perbuatnya.
"Maafkan aku, Luciana." Gumam Salman pelan.
***
"Ucapannya, sama seperti yang di katakan Bu Jasmin saat pertama kali aku bertemu. Mungkinkah ini suatu kebetulan? atau petunjuk untukku?" gumam Quinsha pelan.
"Tapi rasanya tidak mungkin kalau aku ada hubungannya dengan Tuan Salman. Ahh, aku terlalu menghayal terlalu tinggi."
Gadis itu kembali tersenyum, namun detik berikutnya matanya melebar. Ia teringat semua kejadian yang selama ini menimpanya.
"Tapi kenapa mereka menginginkan nyawaku? dan stempel?" Quinsha meraba lengannya. "Aku memiliki stempel di lenganku sejak kecil. Tapi beberapa minggu ini stempel itu menghilang, apakah ini kerjaannya Bramantio? aku harus minta penjelasannya."
Quinsha berdiri, lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan Bramantio. Sesampainya di depan pintu ruangan Bramantio yang sedikit terbuka. Ia bisa melihat pria itu tengah berbincang serius dengan Arkan.
Quinsha mendekatkan telinganya, lalu mendengarkan semua percakapan mereka berdua. Namun pergerakan gadis itu sudah di ketahui Bramantio dan Arkan.
"Sayang, masuklah!" panggil Arkana.
Quinsha mendesah kecewa, seharusnya ia mendapatkan informasi yang banyak.
"Mereka memang hantu, selalu tahu apa yang aku lakukan." Sungut Quinsha, lalu masuk ke dalam ruangan.
"Mengapa kau mengendap endap?" tanya Bramantio menatap raut wajah gadis di hadapannya.
"Tidak ada!" sahut Quinsha kesal.
"Mungkin dia merindukanku." Timpal Arkan seraya mengerlingkan matanya.
"Otak mesum, mana ada aku merindukanmu." Gerutu gadis itu, menatap horor ke arah Arkana.
"Kau jangan sembarangan bicara, Quinsha kekasihku!" seru Bramantio seraya melemparkan bulatan kertas ke arah Arkana.
"Hei sejak kapan? kau jangan membual. Aku pasti tahu kalau kalian sudah menjadi sepasang kekasih. Sampai saat ini, Quin menolak." Sela Arkana tidak terima.
"Dasar penguping!" sungut Arkana menatap kesal.
"Lama lama aku pusing, tiap kali bertemu ribut, dan ribut terus. Lebih baik aku pergi saja!" gadis itu balik badan, beranjak pergi meninggalkan ruangan.
"Ini semua gara gara kau!" tuduh Arkana. "Quin jadi murung."
"Tunggu, aku merasa ada yang sedang dia pikirkan, apa yang membuatnya sedih?" tanya Bramantio.
Arkana hanya mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu."