
Semua yang hadir di dalam ruangan itu terdiam menatap tajam ke arah Lexi. Namun gadis itu tidak melakukan apa apa, ia terlihat bingung.
Bramantio dan Arkana hanya diam dan tersenyum memperhatikan keluarga Bangsawan tinggi itu kebingungan karena Lexi sama sekali tidak melakukan apa apa.
"Apa kau akan memberitahu kalau Quinsha pemilik darah murni itu?" tanya Arkana kepada Sagara lewat telepati.
"Apa kau sudah gila? kau tahu bukan resikonya? andai semua klan dari dimensi lain mengetahui? mereka akan memburu Quinsha dan mengambil darah milik Quin untuk kekuatan." Balas Bramantio matanya mendelik ke arah Arkana.
"Hei, santai saja. Aku hanya sekedar bertanya " ucap Arkana melirik sesaat ke arah Bramantio.
Suasana ruangan yang sepi, tiba tiba berubah menjadi gaduh. Masing masing ketua klan angkat bicara. Diamnya Lexi menuai protes, mereka berpikir kalau Lexi bukanlah pemilik darah murni yang akan menjadi pemimpin semua klan dari dimensi manusia hingga dimensi lain.
"Ayah, bagaimana ini?" tanya Lexi pelan, air matanya hampir jatuh karena malu.
"Tenang sayang.." Azura berdiri, lalu mendekati Lexi dan memeluknya erat.
"Dewan! apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Salman Cakra Nagara.
Dewan tertinggi membungkukkan badan hormat.
"Ampun Tuan, sepertinya Nona Lexi bukanlah pewaris tunggal kerajaan ini."
"Kalau bukan Lexi, putriku lalu siapa?" tanya Salman Cakra Nagara.
"Luciana!"
Salman Cakra Nagara dan semua yang hadir menoleh ke arah sumber suara. Nampak Jasmin berdiri tegap di hadapan semua tamu undangan.
"Pemilik darah murni itu adalah putrimu dari Nyonya Luciana yang kalian eksekusi mati tanpa ada kesalahan yang pasti."
"Turunkan Lexi! bunuh dia! Lexi penipu!!" seru tamu undangan serempak. Meminta Salman Cakra Nagara untuk menghukum Lexi.
"Tidak! Lexi putriku satu satunya pewaris tunggal!" bantah Azura.
"Buktikan Nyonya Azura!" seru Alexander lantang.
"Percuma! pemilik darah murni itu putrinya Luciana!" pekik Jasmin.
"Jasmin, di mana putriku? apa dia masih hidup?" tanya Salman Cakra Nagara.
"Hahahaha, carilah ke ujung dunia Tuan Salman!" sahut Jasmin tertawa terbahak bahak. "Kau tidak akan menemukannya, itu balasan untukmu Tuan!"
"Lancang! penjaga, tangkap wanita gila itu!" perintah Azura.
"Tidak ada satupun yang boleh menangkap Nyonya Jasmin!" Bramantio yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, berjalan mendekati Jasmin, dan melindunginya.
"Kursi kepemimpinan semua klan tidak bisa di lanjutkan karena Lexi bukanlah pewaris tunggal!" tunjuk Bramantio ke arah Lexi.
"Kami, menginginkan pemimpin kami yang asli!" Timpal Alama dan altarik. "Jika kau tidak bisa menghadirkan pemimpin kami yang asli. Dalam waktu tiga bulan, tampuk kepemimpinan akan kami ambil alih dengan cara memilih salah satu di antara kami!"
"Aku perintahkan kalian semua mencari putriku yang hilang!" perintah Salman kepada semua prajurit dan orang orang yang memiliki kekuatan yang selama ini menjadi benteng pertahanan kerajaan.
"Kalian boleh membantuku, mencari putriku. Tetapi ingat! jangan sampai kalian membelot atau aku akan menghukum kalian!"
Semua ketua klan tersenyum seringai, tentu saja mereka akan membantu Salman. Tetapi untuk kepentingan masing masing, untuk mengambil darah Quinsha.
Satu persatu ketua klan berdiri dan meninggalkan ruangan dengan kecewa. Tinggllah Arkana, Bramantio dan Quinsha termasuk Jasmin yang masih berada di dalam ruangan tersebut.
"Quin, apa kau baik baik saja?" tanya Arkana yang berada di sampingnya.
"Entahlah, kepalaku pusing." Quinsha menggeleng pelan.
"Ayo kita pergi dari sini." Arkana menarik tangan Quinsha.
"Tidak, biar aku yang membawanya pulang." Cegah Bramantio menepis tangan Arkana.
"Ya Tuhan, kau itu kenapa? sama sekali tidak mengizinkanku membantu Quinsha." Arkana menatap tajam Bramantio.
"Aku tidak yakin, kau bisa saja menyakiti Quin," jawab Bramantio.
"Bisa tidak? kalian tidak bertengkar?" ucap Quinsha kesal menatap jengah kedua pria di hadapannya
"Maafkan kami, Quin," ucap mereka serempak.
Akhirnya Arkana mengalah dan membiarkan Bramantio menggendong Quinsha.
"Sebaiknya kita pergi," timpal Jasmin.
"Tunggu!" seru Salman Cakra Nagara.
Bramantio dan yang lain menoleh ke arah Salman Cakra Nagara yang berjalan mendekati mereka.
"Apakah dia sakit?" tanya Salman menyentuh kening Quinsha.
"Tidak, dia baik baik saja." Bramantio menggeser tubuhnya menjauh dari Salman. "Kami permisi Tuan!"
"Jasmin! kau tidak bisa ikut bersama mereka. Kau harus jelaskan kepadaku ucapanmu tadi." Salman Cakra Nagara menarik tangan Jasmin. Namun Arkana menarik kembali tangan Jasmin.
"Anda tidak bisa lagi sewenang wenang Tuan Salman, Jasmin ikut bersama kami."
"Ada apa dengan kalian?" tanya Salman menatap curiga.
Namun Arkana dan yang lain memilih pergi dari ruangan itu. Salman berdiri menatap curiga kepergian mereka.
"Siapa gadis itu? kenapa aku merasa memiliki ikatan dengannya?"